tjislam

Tidak Shalat Berjamaah Karena Sibuk

In Fiqh, Muamalah, Tsaqafah on 14 April 2016 at 11:50
Assalaamu’alaikum wr wb. Sebelumnya saya mohon maaf jika mengganggu kesibukan antum. Ada beberapa pertanyaan terkait dengan sholat tepat waktu dan persepsi sholat pada waktunya. Studi kasusnya seperti ini.

Ditempat kerja saya, ada 7 karyawan terdiri dari 6 laki, dan 1 perempuan yang mempunyai peran sesuai dengan jobdesknya masing2. Manager, Keuangan, Admin, Kasir, Logistik, dan 2 orang operator mesin.

Waktu kerjanya dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Pada saat Istirahat dan waktu sholat zhuhur dan ashar, Toko ini tentu tidak bisa tutup. Maka ada yang jaga sekitar 2-3 orang. Nah, ada satu orang yang bersih kukuh untuk sholat berjama’ah tepat waktu. Namun, dia berada di posisi

kasir. Dengan Alasan mendahulukan kepentingan akhirat. Sedangkan pelanggan di tempat kami bekerja intensitasnya sangat sering pengunjung. Kecuali pas sholat Jum’at. Menurut Antum, bagaimana solusinya ustad? Jazakallah khoir. (Findik Surya)

Jawaban:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man waalah, wa ba’d:

Jazakallah khairan kepada saudara penanya, Findik Surya … semoga Allah Ta’ala selalu menaungi antum, keluarga, dan kaum muslimin yang istiqamah dengan hidayah dan rahmatNya.

Diperintahkan Shalat Di awal waktu

Shalat di awal waktu memiliki perintah dalam agama dan mengandung keutamaan yang banyak, bahkan disebut sebagai amal yang lebih utama dibanding berbakti kepada kedua orang tua dan jihad fi sabilillah.

Dari Hanzhalah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barang siapa yang menjaga shalat lima waktu; baik rukunya, sujudnya, wudhunya, waktu-waktunya, dan dia tahu bahwa itu adalah hak yang berasal dari Allah, maka dia masuk surga.” Atau Beliau bersabda: “wajib baginya surga.” (HR. Ahmad No. 18345, juga 18346 dengan lafazh: hurrima ‘alan naar – diharamkan neraka baginya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih bisyawaahidihi – hadits ini shahih dengan berbagai riwayat lain yang menguatkannya. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad, 30/287)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu:

أ يُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّه

“Amal apakah yang paling Allah cintai?” Rasulullah menjawab: “Shalat tepat waktu,” Oang itu bertanya: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Orang itu bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah.” (HR. Bukhari No. 527, 2970 dan Muslim No. 139)

Dari sini kita bisa mengetahui keutamaan yang sangat tinggi tentang shalat tepat waktu, bahkan lebih Allah Ta’ala cintai dibanding berbakti kepada kedua orang tua dan jihad fi sabilillah.

Imam Ibnu Baththal menjelaskan sebagai berikut:

“Dalam hadits ini ditegaskan bahwa bersegera shalat pada waktunya merupakan perbuatan paling utama dibanding mengulur-ngulur waktu, karena tepat waktu merupakan syarat amal tersebut menjadi amal yang paling utama, maka ditegakkannya shalat pada waktunya, itulah yang dianjurkan.” (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 2/157. Lihat juga Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 2/9)

Menunda shalat tanpa alasan syar’i

Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman:

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Ma’uun: 4-5)

Apakah makna orang-orang yang lalai dari shalatnya? Beragam makna disampaikan para mufassir generasi salaf, di antara mereka ada yang menafsirkan ayat itu sebagai orang yang mengulur waktu shalat.

Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari mengutip beberapa perkataan para ulama salaf sebagai berikut:

Dari Mush’ab bin Sa’ad, dia berkata: Aku bertanya kepada ayahku, “apa pendapatmu tentang ayat: “Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya,” apakah itu maksudnya meninggalkan shalat?” Ayahku menjawab: “Bukan, tetapi mengakhirkannya dari waktunya.”

Dari Ibnu Abbas, dia berkata tentang ayat: “Orang-orang yang lalai dari shalatnya,” yaitu orang-orang yang mengakhirkannya dari waktunya.”

Dan masih banyak lagi para ulama salaf yang menafsirkan demikian. (Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Jami al bayan fi Ta’wil Al Quran, Juz. 24, Hal. 631. Muasasah ar Risalah Cet. 1, 2000M-1420H. Tahqiq: Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Demikianlah keutamaan menyegerakan shalat di awal waktunya dan ancaman bagi mereka yang suka menunda-nunda tanpa alasan.

Lalu bagaimana jika kita memiliki udzur syar’i yang membuat dia mengalami masyaqqat (berbagai kesulitan) untuk dapat di awal waktu dan berjamaah? Jika kita memiliki berbagai udzur tersebut, maka dimaafkan shalat tidak pada awal waktunya sebagaimana keterangan nash-nash berikut.

Tertunda karena udzur syar’i

Dari Abdullah bin Fadhaalah, dari Ayahnya, katanya:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan saya, di antara yang pernah dia ajarkan adalah: “Jagalah shalat yang lima.” Aku berkata: “Saya memiliki waktu-waktu yang begitu sibuk, perintahkanlah kepada saya dengan suatu perbuatan yang jika saya lakukan perbuatan itu, saya tetap mendapatkan pahala yang cukup.” Beliau bersabda: “Jagalah shalat al ‘ashrain. “ (HR. Abu Daud No. 428, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 51, 717, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 2188, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al Aahad wal Matsaani No. 939, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 826. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48), Imam Al Hakim: shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak No. 717), dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi. Syaikh Al Albani juga menshahihkan. (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813) )

Dalam riwayat tersebut dijelaskan tentang shalat Al ‘Ashrain adalah:

«صَلَاةٌ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَصَلَاةٌ قَبْلَ غُرُوبِهَا»

Shalat sebelum terbit matahari (Shalat Subuh) dan Shalat sebelum tenggelam matahari (shalat Ashar). (Ibid)

Dalam hadits ini nabi mengajarkan kepada sahabatnya untuk menjaga shalat lima waktu, tetapi sahabat itu mengeluh kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentang kesulitannya menjaga shalat lima waktu itu, lalu nabi memerintahkan dia untuk menjaga shalat subuh dan ashar. Apa maksudnya? Apakah berarti dia boleh meninggalkan shalat lainnya karena kesibukannya, dan dia cukup shalat subuh dan ashar saja? Bukan itu! Sangat mustahil nabi memerintahkan sahabat itu hanya shalat subuh dan ashar tapi meninggalkan shalat wajib lainnya. Tetapi makna hadits ini mesti diartikan bahwa dia sangat sibuk dan kesulitan untuk menjaga shalat berjamaah, maka dia dianjurkan oleh nabi untuk menjaga shalat berjamaah subuh dan ashar, bukan menjaga shalat subuh dan ashar semata-mata.

Inilah Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah, dia telah menjelaskan hadits ini dengan begitu bagus sebagai berikut:

وَفِي الْمَتْن إِشْكَال لِأَنَّهُ يُوهم جَوَاز الِاقْتِصَار على الْعَصْريْنِ وَيُمكن أَن يحمل على الْجَمَاعَة لَا على تَركهَا أصلا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pada redaksi hadits ini nampak ada hal yang membingungkan, karena seakan nabi membolehkan cukup dengan shalat al ashrain (subuh dan ashar), kemungkinan maksud hadits ini adalah tentang meninggalkan shalat berjamaah, bukan meninggalkan shalatnya itu sama sekali. Wallahu A’lam. (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menambahkan:

Rukhshah (keringanan) ini terjadi hanyalah karena kesibukan yang dimiliki orang itu sebagaimana keterangan dalam hadits tersebut. Wallahu A’lam. (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813)

Demikianlah, kesibukan apa pun yang mendatangkan kesulitan untuk shalat pada awal waktu, boleh bagi seseorang untuk tidak shalat tepat waktu dan berjamaah. Inilah di antara udzur syar’i itu. Tetapi, ini hanya berlaku bagi kesibukan pada aktifitas yang halal dan bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat, bukan kesibukan karena kesia-siaan apalagi sibuk karena perkara haram dan maksiat.

Bahkan dibolehkan pula menunda shalat dari awal waktunya, karena sedang menuntut ilmu atau mengajarkan ilmu. Ini berdasarkan riwayat Imam Muslim berikut:

Dari Abdullah bin Syaqiq, dia berkata: Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami, pada hari setelah ‘ashar sampai matahari terbenam, hingga nampak bintang-bintang, sehingga manusia berteriak: “shalat .. shalat ..!” Lalu datang laki-laki dari Bani Tamim yang tidak hentinya berteriak: shalat.. shalat!. Maka Ibnu Abbas berkata: “Apa-apaan kamu, apakah kamu hendak mengajari saya sunah?”, lalu dia berkata: “Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam menjamak antara zhuhur dan ashar, serta maghrib dan isya.” Berkata Abdullah bin Syaqiq: “Masih terngiang dalam dada saya hal itu, maka aku datang kepada Abu Hurairah, aku tanyakan dia tentang hal itu, dia membenarkan keterangan Ibnu ‘Abbas tersebut.” (HR. Muslim No. 57). Demikian. Wallahu A’lam.

Jadi, dari keterangan berbagai hadits dan penjelasan ulama, kita mendapat pelajaran bahwa bolehnya menunda shalat dari awal waktunya jika mengalami alasan yang dibenarkan syariat, seperti menuntut ilmu, berbagai kesibukan dan kesulitan yang membuatnya boleh menjamak shalat seperti sakit, takut terhadap orang kafir, hujan, safar, cuaca panas dan dingin yang ekstrim, bencana alam, atau pekerjaan yang tidak dimungkin ditinggalkan pas bersamaan shalat itu dan jika ditinggalkan akan melahirkan mudharat yang berbahaya bagi hasil pekerjaannya, seperti: dokter sedang membedah pasien, penjaga pintu kereta, penjaga keamanan negara, pasar, apalagi jika jumlah mereka sedikit dan sulit mencarikan penggantinya.

Namun demikian –saran saya- janganlah keadaan itu terjadi secara terus menerus. Harus ada upaya membuat keadaan kembali normal dan wajar. Dengan itu kita bisa kembali pada aturan awalnya shalat yakni dilakukan di awal waktunya. Memang seharusnya keadaan normal dan wajar ini yang kita usahakan, dan terus dijaga keberlangsungannya, dan jangan pula kita dikalahkan oleh keadaan yang tidak wajar dan normal terus menerus. Kitalah yang mengatur kesibukan, jangan kesibukan kita yang memperbudak kita. Demikian jawaban dan saran saya.

Khusus buat kasus saudara penanya, mungkin bisa ditugaskan kepada pegawai wanita ketika jam-jam shalat untuk menjaga di tempat kasir karena wanita tidak dianjurkan shalat di masjid. Atau jika ada yang non muslim, mungkin bisa didelegasikan dulu kepada mereka. Bisa juga dengan menambah jumlah sdm yang baru, dan sebagainya.

Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wajmain.

Pemimpin Kafir

In Shirah, Tsaqafah on 11 Maret 2016 at 15:25

Sumber Ungkapan “Pemimpin Kafir Yang Adil Lebih Baik Dari Pemimpin Muslim Yang Zalim”

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Manhajuna.com – Akhir-akhir ini beredar ungkapan yang sangat disukai suatu ‘kaum’ demi memuluskan jalan bagi seorang kafir untuk memimpin negerinya. Mereka menyebar perkataan yang mereka klaim sebagai perkataan Ali ra, yaitu, “Pemimpin kafir yang adil lebih utama dari pemimpin muslim yang zalim.”

Siapa muslim yang tidak mengormati Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu?! Semua mencintai dan memuliakannya. Maka akan tampak sekali betapa kata-kata tersebut akan memberikan pengaruh kaum muslimin, terutama yang awam.

Tahukah anda, dibalik kata-kata itu ada racun syiah? Jangan marah dulu….:) sini saya jelaskan.

Ungkapan itu bukan perkataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, tapi perkataan seorang tokoh ulama (baca: pendeta) syiah yang bernama Ali bin Musa bin Ja’far bin Thawus, dikenal dengan sebutan Sayyid Ibnu Thawus, Tokoh ulama Syiah asal Irak yang lahir tahun 589. Lengkapnya silakan lihat Wikipedia.

Pintarnya mereka (baca: liciknya) adalah ketika menyebut sumber ungkapan tersebut hanya menulis Ali ra saja, tidak menyebut nasabnya dengan lengkap, agar para pembaca mengira bahwa itu adalah ungkapan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, tentu tujuannya agar mudah diterima masyarakat.

Kapan kata-kata itu diucapkan?

Anda ingat sejarah kelam yang menimpa dunia Islam saat keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah di Baghdad?

Yap, itu terjadi pada tahun 656 H = 1258 M. Saat itu pasukan Tatar yang dipimpin panglima kafir dan bengis yang bernama Hulagu Khan, menyerbu Baghdad dan menaklukkannya.

Baghdad luluh lantak dan porak poranda, perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan kitab-kitab berharga mereka musnahkan, penduduknya mereka bantai, sehingga ada yang memperkirakan satu juta warga Baghdad terbunuh. Kelam sekali.

Nah, suatu kali, Hulagu Khan mengumpulkan para ulama Baghdad untuk meminta fatwa mereka (hebat, orang kafir minta fatwa), mana yang lebih utama, pemimpin kafir yang adil atau pemimpin muslim yang zalim? Para ulama saat itu diam tak berfatwa. Sangat boleh jadi karena kondisinya sangat dilematis, karena di hadapan mereka ada pemimpin kafir yang kejam sedang berkuasa dan dapat berbuat apa saja, sementara mereka yakin bahwa seorang kafir tidak boleh diangkat sebagai pemimpin. Namun akhirnya Ali bin Thawus ini berani mengeluarkan fatwanya dengan menyatakan bahwa pemimpin kafir yang adil lebih utama dari pemimpin muslim yang zalim.

Kisah ini tercatat dalam kitab-kitab karangan kaum Syiah sendiri, di antaranya; Al-Adab As-Sulthaniyah, karangan Ibnu Thaqthaqi.
Ini teks arabnya dari kitab tersebut:

لما فتح السلطان هولاكو بغداد في سنة ست وخمسين وستمائة أمر أن يستفتى العلماء أيهما أفضل: السلطان الكافر العادل أم السلطان المسلم الجائر ؟ ثم جمع العلماء بالمستنصرية لذلك ، فلما وقفوا على الفتيا أحجموا عن الجواب وكان رضيُّ الدين علي بن طاووس حاضراً هذا المجلس وكان مقدماً محترماً ، فلما رأى إحجامهم تناول الفتيا ووضع خطه فيها بتفضيل العادل الكافر على المسلم الجائر ، فوضع الناس خطوطهم بعده. -الآداب السلطانية لابن الطقطقي/-2

Jadi ucapan tersebut tidak bersumber dari Al-Quran, hadits, perkataan shahabat dan para ulama salaf dari kalangan Ahlussunah wal jamaah. Tapi dari mulut seorang syiah yang memang berkepentingan dengan ucapan tersebut saat itu. Mengapa? Karena mereka sedikit atau banyak termasuk yang berperan atas kejatuhan Khilafah Abbasiyah, tentu disamping faktor-faktor lain. Karena kelompok syiah terus merongrong penguasa Bani Abbasiyah.

Tercatat dalam sejarah ada perdana menteri pada masa akhir Khilafah Bani Abbasiyah yang bernama Ibnu Alqami yang secara diam-diam berkonspirasi dengan Hulagu Khan untuk menyerang Baghdad dan meruntuhkan kekhalifahan Bani Abbasiyah, dengan harapan setelah itu dia diserahkan kekuasaan atas Baghdad. Namun setelah pasukan Hulagu Khan menguasa Baghdad, kekuasaan itu tak diberikan kepadanya dan bahkan dia sendiri dibunuh. Kematian tragis seorang pengkhianat.

Shalat Gerhana

In Fiqh, Ibadah, Tsaqafah on 6 Maret 2016 at 22:51

Assalaamu’alaikum.

Mohon Tausiyah dari MUI Provinsi DKI Jakarta ini disebarluaskan:

Tausiyah (Himbauan) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Tentang Sholat Gerhana Matahari.

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Berdasarkan informasi Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bahwa pada hari Rabu tanggal 9 Maret 2016 bertepatan dengan tanggal 29 Jumadil Ula 1437H, di wilayah Indonesia akan terjadi Gerhana Matahari Total (GMT) yang diprediksi terjadi di 10 provinsi dan sejumlah daerah lain terjadi Gerhana Matahari Sebagian (parsial), di antaranya Ibu Kota Jakarta, di mana gerhana di wilayah DKI Jakarta ini mulai pukul 06.19 dan akan berakhir pada pukul 09 : 43 : 41.

Terkait Gerhana Matahari tersebut, MUI Provinsi DKI Jakarta menyampaikan tausiyah (himbauan) kepada seluruh umat Islam di DKI Jakarta, sebagai berikut:

Pertama,  umat Islam di DKI Jakarta agar melaksanakan shalat sunnah Gerhana Matahari (Shalat Kusuf) dan disunnahkan mandi terlebih dulu sebelum shalat. Para wanita dianjurkan untuk ikut Shalat Gerhana, karena Aisyah dan Asma` ikut Shalat Gerhana pada waktu Rasulullah SAW melakukan Shalat Gerhana.

Kedua, Shalat Gerhana sunnah dilaksanakan berjama`ah di masjid atau mushalla, tanpa Adzan dan Iqomah sebelumnya, tetapi jama`ah hanya diseru dengan, “Asholatu Jaamiah“.

Ketiga, waktu pelaksanaan Shalat Gerhana Matahari dimulai saat terjadinya gerhana sampai gerhana berakhir. Apabila telah melaksanakan shalat dan khutbah gerhana, sementara gerhana masih berlangsung, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak dzikir dan meminta ampun kepada Allah sampai berakhirnya gerhana.

Keempat, Shalat Gerhana dilakukan dengan tuntunan sebagai berikut:

Berniat saat takbirat al-ihram. Misalnya, niat melakukan Shalat Gerhana Matahari (kusufisy-syams), menjadi Imam atau Ma`mum.
Takbirat al-ihram, yaitu bertakbir untuk pertama kali guna mengawali shalat dan dilanjutkan membaca do`a iftitah, membaca surat Al-Fatihah, dan surat Al-Qur`an.
Kemudian ruku`, bangkit dari ruku` (i’tidal), setelah i’tidal kembali membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Qur`an, lalu ruku` untuk yang kedua, kemudian bangkit dari ruku` (i`tidal). Kemudian mengerjakan dua sujud sebagaimana shalat Fardlu.
Selanjutnya bangkit dari sujud untuk mengerjakan raka`at kedua. Raka`at dikerjakan seperti halnya raka`at pertama, namun durasi bacaan suratnya lebih singkat dari raka`at pertama.
Selesai mengerjakan raka`at kedua dilanjutkan dengan duduk tasyahud dan salam.
Kelima, hendaknya Shalat Gerhana diikuti dengan baik setelah Shalat Gerhana, jama`ah tetap duduk tenang untuk mendengarkan Khutbah Gerhana sampai selesai.

Demikian himbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, agar Shalat Gerhana tahun 2016 ini dapat dilaksanakan umat Islam di DKI Jakarta dengan khidmat dan khusyu`, dan menjadi ibadah yang diridlai Allah SWT.

Jakarta, 3 Maret 2016 M / 23 Jumadil Ula 1437H

DEWAN PIMPINAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA

PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Ketua Umum, K.H. A. Syarifuddin A. Gani, M.A.

Sekretaris Umum, K.H. Zulfa Mustofa MY

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.