tjislam

Haramkah Baca Quran Langgam Jawa?

In Al Quran, Fiqh, Seni on 22 Mei 2015 at 11:09
Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ustadz, ramai di media sosial perbedatan masalah hukum membaca Al-Quran dengan langgam Jawa. Ada yang mengharamkan dan ada juga yang membolehkan. Lalu bagaimana tanggapan ustadz dalam masalah ini, apakah hukumnya boleh atau tidak?

Mohon penjelasan yang adil dan seimbang serta mencerahkan. Terima kasih.

Wassalam

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam masalah ini memang wajar terjadi perbedaan pandangan di antara banyak pihak. Sesama pihak-pihak yang memang ahli di bidang ilmu baca Al-Quran, yaitu para qari dan ulama qiraat pun kita menemukan perbedaan pendapat.

Dan lucunya, perbedaan pendapat ini pun menular juga di kalangan yang bukan ahlinya, yaitu mereka yang bukan qari’ dan bukan pula ulama ahli qiraat. Mereka yang boleh jadi baca Qurannya pun masih ngalor-ngidul, blang bentong tidak karuan, tetapi tiba-tiba merasa menjadi ahli qiraat nomor wahid. Mereka ini dengan mudahnya menuding-nuding kesana kesini dan menyalah-nyalahkan siapa pun yang dianggapnya berseberangan cara pandang.

Kita harus maklum dengan kelakuan kalangan awam yang rasa sok tahu ini. Apalagi ada juga yang mengakit-ngaitkannya dengan urusan politik, sampai saya juga dapat SMS yang mengingatkan bahwa Indonesia layak dapat adzab dan  dihancurkan Allah gara-gara pemerintah dzalim membiarkan masalah ini.

Sekilas buat sebagian kita mendengarkan Al-Quran dibaca dengan langgam Jawa ini memang terasa aneh. Karena biasanya yang kita dengar semuanya nada-nada bacaan Al-Quran itu khas timur tengah (middle east). Tetapi kali ini nada-nadanya punya nuansa khas tanah air, yaitu nada-nada Jawa. Buat yang biasa mendengarkan wayang, terasa ini bukan bacaan Al-Quran tetapi tembang-tembang khas di pewayangan.

Sehingga wajar bila ada yang terlalu mudah main haramkan saja, khususnya bila yang mendengar itu orang-orang Arab sana. Jangankan kuping mereka, kuping kita yang asli made in Indonesia pun merasa rada aneh. Tetapi apakah sekedar merasa aneh lantas hukumnya jadi haram?

Dalam hal ini sebaiknya kita yang awam ini jangan terlalu mudah main bikin fatwa sendiri. Ada baiknya kita serahkan kepada para ulama ahli qiraat yang memang ahlinya. Kalau pun ada perbedaan pendapat dari mereka, setidaknya kita tidak mengambil alih hal-hal yang bukan wewenang kita.

A. Pendapat Yang Mengharamkan

Ada beberapa ulama ahli qiraat yang sudah berfatwa tentang haramnya membaca Al-Quran dengan langgam Jawa ini. Salah satunya adalah Syeikh Ali Bashfar yang bermukim di Saudi Arabia. Salah seorang muridnya ada yang mengirimkan rekaman bacaan Al-Quran dengan langgam Jawa ini. Dan kemudian jawaban dari beliau berupa larangan.
Kesalahan tajwid; dimana panjang mad-nya dipaksakan mengikuti kebutuhan lagu.

Kalau saya cermati apa yang beliau fatwakan itu, setidaknya saya mencatat ada empat masalah yang beliau tuturkan, antara lain adalah :

1. Kesalahan Lahjah

Kesalahan nomor satu dari rekaman yang diperdengarkan itu menurut beliau adalah kesalahan lahjah si pembacanya yang cenderung orang Jawa. Seharusnya lahjahnya harus lahjah Arab.

Dan banyak orang yang mengharamkan hal ini dengan berdalil kepada hadits berikut :

Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang Arab. Jauhilah lagu/irama ahlkitab dan orang orang fasiq. Nanti akan ada orang datang setelahku membaca Alquran seperti menyanyi dan melenguh, tidak melampau tenggorokan mereka. Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya. (HR. Tarmidzi)

2. Dianggap Memaksakan Diri (Takalluf)

Kesalahan kedua dianggap adanya semacam sikat memaksakan, atau takalluf. Pembacanya dianggap terlalu memaksakan untuk meniru lagu yang ‘tidak lazim’ dalam membaca Al-Quran.

3. Dicurigai Ashabiyah

Ditambahkan lagi dalam fatwa beliau bahwa ada kecurigaan yang dianggap cukup berbahaya, yaitu bila ada niat merasa perlu menonjolkan kejawaan atau keindonesiaan. Hal ini dianggap membangun sikap ashabiyyah dalam ber-Islam. Padahal ashabiyah itu hukumnya haram.

4. Khawatir Memperolok Al-Quran

Dan yang paling fatal jika ada maksud memperolok-olokkan ayat-ayat Allah yang mereka samakan dengan lagu-lagu wayang dalam suku Jawa.

Maka dengan dasar empat masalah di atas dianggap bahwa membaca Al-Quran dengan langgam Jawa itu tidak boleh dilakukan. Nampaknya fatwa beliau ini kemudian disebar-luaskan di berbagai media, dan siapapun bisa membacanya.

B. Pendapat Yang Membolehkan

Sementara kita juga menemukan ulama ahli qiraat di Indonesia, sebut saja misalnya KH. Prof. Dr. Ahsin Sakho Muhammad. Beliau seorang pakar ilmu yang langka: ilmu-ilmu Al-Quran. Lulus sebagai doktor dari Jamiah Islamiyah Madinah dengan prestasi mumtaz syaraful ulaa alias cumlaude.  Kiprah beliau di dunia ilmu qiraat di Indonesia tidak perlu dipertanyakan lagi. Beliau pernah menjadi rektor dan guru besar di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta dan menjadi team pentashih terjemahan Al-Quran di Departemen Agama RI.

Kalau kita tanyakan masalah ini kepada beliau, nampaknya pandangan jauh beliau lebih luas. Barangkali karena beliau memang orang Indonesia asli yang paham betul karakter bacaan Al-Quran bangsa ini. Beliau mengatakan sebagai berikut :

“Ini adalah perpaduan yang baik antara seperti langit kallamullah yang menyatu dengan bumi yakni budaya manusia. Itu sah diperbolehkan. Hanya saja, bacaan pada langgam budaya harus telap berpacu seperti yang diajarkan Rasul dan para sahabatnya. Dalam hal ini, tajwid dalam hukum bacaannya, panjang pendeknya dan mahrajnya”.Lebih lanjut beliau menambahkan :

“Cara membaca Al-Quran yang mengacu pada langgam budaya Indonesia sangat diperbolehkan dan tidak ada dallil shahih yang melarang hal demikian. Hanya saja, saya belum pernah mendengar ‘jawabul jawab’ di dalam langgam Cina, atau pun di Indonesia. Tetapi jika hanya sekedar langgam Jawa, Sumatra, Sunda, Melayu dan lainnya itu sah saja, selama memperhatikan hukum bacaan semestnya. Itu kratifitas budayanya”.

1. Hadits Larangan Selain Langgam Arab

Lalu bagaimana dengan hadits yang mana Rasulullah SAW mengharamkan kita menggunakan langgam selain Arab? Terjemahan haditsnya kurang lebih seperti berikut ini :

Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang Arab. Jauhilah lagu/irama ahlkitab dan orang orang fasiq. Nanti akan ada orang datang setelahku membaca Alquran seperti menyanyi dan melenguh, tidak melampau tenggorokan mereka. Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya. (HR. Tarmidzi)
a. Sanad Yang Lemah

Dari sisi sanad sebenarnya kalau ditelurusui kedudukan hadis ini tersebut tergolong dalam hadis dha’if (lemah). Karena salah satu sanad perawinya ada yang terputus sehingga hadits itu menjadi dhoif. Bahkan ada muhaddits yang mengatakan bahwa hadits ini termasuk munkar dan bukan termsuk hadist.

Maka dari sisi derajat hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah alias tidak perlu dipakai.

b. Langgam Arab Yang Mana?

Negeri Arab di masa Rasulullah SAW sangat sempit dan terbatas, seputar Mekkah, Madinah dan kisaran jaziarah Arabia saja. Di luar itu tidak pernah disebut Arab. Habasyah, Mesir, Yaman, Palestina, Suriah, Iraq, Iran di masa itu masih bukan Arab. Agama yang dianut penduduknya bukan agama Islam, mereka dianggap sebagai bangsa-bangsa kafir non Arab. Bahkan bahasa mereka pun juga bukan bahasa Arab.

Jadi kalau pun hadits Rasulullah SAW yang dhaif itu masih mau dipaksa-paksa juga untuk dipakai, tetap saja tidak tepat. Seandainya hadits itu dibilang shahih, dan larangan Rasulullah SAW itu ‘terpaksa’ kita ikuti juga, maka nagham atau irama cara baca Al-Quran yang kita kenal selama ini pun harusnya terlarang. Sebab nagham Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika, dan Jiharka itu bukan dari Mekkah atau Madinah, bahkan bukan dari Jaziarah Arab.

Ketujuh jenis nagham itu malah berasal dari Iran. Dan Iran di masa Rasulullah SAW bukan negeri Arab. Bahkan sampai hari ini pun tidak pernah dianggap sebagai negara Arab. Pemerintah Iran sendiri pun tidak pernah mengaku-ngaku sebagai negara Arab. Bahasa resmi mereka pun juga bukan bahasa Arab melainkan bahasa Persia.

Jadi kalau mau melarang langgam Jawa misalnya, maka tujuh langgam yang sudah kita kenal sepanjang sejarah Islam itu pun harus dilarang juga, lantaran bukan langgam Arab sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah SAW.

2. Lahjah Tidak Benar

Lahjah yang dianggap tidak benar oleh Syeikh Ali Basfar itu boleh jadi memang demikian. Maksudnya si pembacanya dianggap kurang baik bacaannya. Dan itu biasa, semua yang pernah ikut daurah Al-Quran dengan beliau pasti pernah merasakan disalah-salahkan ketika dianggap lahjah kita kurang pas di telinga beliau.

Namun kita harus membedakan antara lahjah dengan langgam. Yang beliau kritisi adalah lahjahnya yang kurang tepat dan itu harus diakui. Membaca Al-Quran memang harus dengan lahjah yang benar. SIfat-sifat huruf, makharijul huruf dan juga hukum-hukum yang berlaku pada ilmu tajwid memang wajib ditaati dan dijalankan dengan benar.

Tetapi langgam adalah sesuatu yang lain dan berbeda. Karena langgam merupakan irama atau nada, bukan lahjah. Contoh mudahnya, ketika membunyikan huruf shad, pipi harus kembung. Huruf ra’ kadang harus dibaca tebal kadang harus tipis. Ini semua adalah lahjah dan bukan irama.

Sedangkan langgam itu adalah irama dan nada, sama sekali tidak ada hubungannya dengan titik artikulasi, pelafalan huruf ataupun hukum-hukum seperti idzhar, idgham, iqlab dan ikhfa’. Dan kalau sudah masuk wilayah irama dan nada, tiap bangsa dan tiap negeri pasti punya ciri khas yang identik dan tidak bisa dipisahkan.

Kalau kita mendengar orang Cina asli di Tiongkok sana sedang membaca Al-Quran, pasti kita akan merasakan ada ‘nada-nada’ khas Cina. Begitu juga kalau kita dengar orang Melayu membaca Al-Quran, kita akan merasakan nuansa khas nada-nada kemelayuan. Apakah ini dianggap melanggar ketentuan membaca Al-Quran? Jawabnya tentu tidak sama sekali.

Tetapi ketika orang Jawa keliru membunyikan huruf ‘ain menjadi ‘ngain’, atau huruf ha’ dibaca menjadi ‘kha’ atau huruf ba’ yang dibunyikannya lebih nge-bass karena lahjah Jawanya, disitulah letak kekeliruan yang harus diluruskan. Adapun nada bacaan yang terasa nada Jawa selama tidak menyalahi hukum-hukum bacaan, tentu tidak jadi masalah.

3. Langgam Jawa = Menghidupkan Ashabiyah?

Adapun masalah membaca Al-Quran dianggap menghidupkan ashabiyah, jelas sekali bahwa yang jadi masalah bukan pada langgamnya tetapi pada niat dan tujuan untuk menghidupkan ashabiyah. Kalau memang niatnya semata-mata ingin menghidup-hidupkan ashaiyah, tentu saja hukumnya haram.

Tetapi bagaimana kita bisa pastikan bahwa yang membacanya punya niat tersebut? Lantas bagaimana kalau si pembacanya sama sekali tidak punya niatan dan maksud untuk menghidup-hidupkan ashabiyah? Apakah kita tetap memaksanya harus ashabiyah?

Ketika kita menyanyikan lagu Indonesia Raya, bukankah itu juga ashabiyah? Ketika kita mengibarkan sang saka Merah Putih, bukankah itu ashabiyah? Apakah haram kita menyanyikannya dan mengibarkan bendera Merah Putih?

4. Langgam Jawa = Menjelekkan Al-Quran

Apalagi kalau dikatakan bahwa langgam Jawa itu dianggap menjelekkan Al-Quran. Tentu sifatnya sangat subjektif sekali. Apa benar qari yang lahjahnya sempurna, tajwidnya benar dan suaranya fasih luar biasa, ketika membaca Al-Quran dengan langgap Jawa lantas niatnya ingin mengolok-ngolok dan menjelekkan Al-Quran?

Kesimpulan

Apa yang saya tulis di atas semuanya bukan pendapat saya, tetapi hanya hasil kutipan dan saduran dari pendapat para pakar ilmu qiraat semata. Dan kalau ada dua pendapat yang saling bertentangan, kita harus maklum. Namanya saja masalah ijtihad, para ahlinya silahkan berbeda pendapat.

Sementara kita yang bukan ahli ilmu qiraat, apalagi yang kualitas bacaan Al-Qurannya masih parah dan bermasalah besar, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak ikut-ikutan berfatwa. Biarkan saja para pakarnya yang berbeda pendapat, sebab mereka memang ahlinya. Mereka berhak dan punya kompetensi untuk itu.

Adapun kita, mari kita duduk manis saja mendengarkan para pakar berbeda pendapat, tidak perlu merasa jadi pahlawan kesiangan di bidang yang sama sekali bukan keahlian kita.

Dari pada bikin komen terlalu jauh ternyata kurang tepat, lebih baik kita tahu diri. Saya sendiri agak segan menuliskan masalah ini, karena tahu persis bahwa para pakarnya saja sudah berbeda pendapat. Jangan pula bertanya saya ikut yang mana.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

sumber: Rumah Fiqih 18 Mei 2015

Lukisan, Foto, & Sosial Media

In Fiqh, Tsaqafah on 23 Februari 2015 at 22:47

Hukum Memasang Gambar Makhluk Bernyawa

Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan bahwa hukum dari gambar-gambar dan lukisan-lukisan seni yang dilukis di lembaran-lembaran seperti kertas, pakaian, gordin, dinding, lantai, uang dan sebagainya adalah tidak jelas, kecuali setelah kita ketahui gambar itu sendiri untuk tujuan apa? Dimana dia diletakkan? Bagaimana dia dibuat? Dan apa tujuan pelukisnya?

Apabila lukisan seni itu untuk sesuatu yang disembah selain Allah—seperti Al Masih bagi orang-orang Nasrani dan sapi bagi orang-orang Hindu—dan sebagainya, maka orang yang melukisnya dengan maksud dan tujuan seperti ini tidak lain adalah kafir yang menyebarkan kekafiran dan kesesatan, dan hal ini berlaku baginya ancaman yang keras dari Rasulullah saw, ”Sesungguhnya orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat ialah para pelukis” (HR. Muslim)

Ath Thabari mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah orang yang melukis sesuatu yang disembah selain Allah sedang dia mengetahui dan sengaja. Dengan demikian menjadi kafir. Adapun orang yang melukis dengan tidak bermaksud seperti itu maka dia telah melakukan dosa dengan sebab menggambar itu saja.”

Hal yang hampir sama adalah orang yang menggambar sesuatu yang tidak disembah, tetapi bermaksud menandingi ciptaan Allah, yakni dia beranggapan bahwa dia dapat membuat dan menciptakan model terbaru sebagaimana Allah swt. Maka dengan tujuan seperti ini berarti dia telah keluar dari tujuan agama tauhid, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi, ”Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang hendak menciptakan seperti ciptaan-Ku? Oleh karena itu cobalah dia membuat biji atau atom.”

Diantara seni gambar yang diharamkan ialah melukis atau menggambar orang yang disucikan dalam konteks keagamaan atau diagung-agungkan secara keduniaan :

1. Gambar para nabi, malaikat dan orang-orang shaleh seperti Nabi Ibrahim, Ishaq, Maryam dan lainnya.

2. Gambar para raja, pemimpin, seniman, hal ini lebih kecil dosanya dari yang pertama. Namun dosanya menjadi lebih besar jika yang dilukisnya adalah orang kafir, zhalim atau fasiq.

Adapun gambar-gambar atau lukisan-lukisan yang tidak bernyawa, seperti : tumbuhan, pohon, laut, kapal, gunung, matahari, bulan, bintang dan sebagainya maka tidaklah berdosa bagi orang yang menggambar atau melukisnya.

Apabila ia adalah gambar-gambar bernyawa namun tidak untuk disucikan, diagungkan atau menandingi ciptaan Allah—sebatas untuk keindahan saja—maka ini tidak diharamkan. Dan tentang hal ini terdapat dalam sejumlah hadits shahih.

Imam Muslim meriwayatkan didalam shahih-nya dari Busr bin Said dari Zaid bin Khalid dari Abu Thalhah bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk kedalam rumah yang didalamnya terdapat lukisan.”

Busr berkata, ”Sesudah itu Zaid jatuh sakit, lalu kami menjenguknya. Tiba-tiba di pintunya terdapat gordin yang ada lukisannya. Lantas aku bertanya kepada Ubaidillah bin al Khaulani, anak tiri Maimunah, Istri Rasulullah saw (yang sedang bersama Zaid),’Bukankah Zaid telah memberitahukan kepada kita tentang gambar pada hari pertama ?’ Ubaidilah menjawab, ’Apakah engkau tidak mendengar ketika dia berkata, ’Kecuali lukisan pada kain.”

Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Utbah bahwa dia pernah menjenguk Abu Thalhah al Anshari, lalu didapatkannya Sahl bin Hanif (seorang sahabat yang lain) sedang berada di sisinya. Kemudian Abu Thalhah meminta untuk melepas kain hamparan (seprei) yang ada diabawahnya karena ada gambarnya. Kemudian Sahl bertanya kepadanya, ”Mengapa engkau lepas?’ dia menjawab,’karena ada gambarnya. Sedangkan Nabi saw bersabda mengenai hal ini sebagaimana engkau telah mengetahuinya.’ Sahl berkata,’Bukankah beliau yang bersabda, ’Kecuali lukisan yang ada pada kain?’ Abu Thalhah menjawab,’Ya, tapi dengan melepas seprei ini hatiku lebih senang.” Tirmidzi berkata, ”Ini adalah hadits hasan shahih.”

Kedua hadits ini menunjukkan bahwa yang diharamkan adalah gambar yang berbodi atau biasa disebut dengan patung. Adapun gambar-gambar atau lukisan-lukisan di papan, pakaian, lantai, tembok dan sebagainya maka tidak terdapat nash yang shahih dan sharih (jelas dan tegas) yang mengharamkannya.

Memang ada beberapa hadits shahih dimana Rasulullah saw hanya menunjukkan ketidaksenangannya saja terhadap gambar semacam ini karena menyerupai gaya hidup orang yang suka bermewah-mewahan dan gemar dengan sesuatu yang rendah nilainya, seperti hadits yang diceritakan oleh Aisyah bahwa Rasulullah saw keluar dalam salah satu peperangan, lalu saya membuat gordin (yang ada gambarnya) lantas saya tutupkan pada pintu. Ketika beliau datang dan melihat gordin, saya melihat tanda kebencian di wajah beliau, lantas beliau melepas gordin itu dan kain itu disobek atau dipotongnya seraya berkata,”Sesungguhnya Allah tidak menuyuruh kita mengenakan pakaian pada batu dan tanah.’ Aisyah berkata,’Lalu kami potong dan kami buat dua buah bantal, dan kami isi dengan sabut, dan beliau tidak mencela tindakan saya tersebut.”

Hukum Fotografi

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum photografi. Ada kalangan yang sangat ekstrim sehingga semua bentuk photografi hukumnya haram. Tidak peduli untuk tujuan apa dan phose yang bagaimana, pendeknya sekali haram tetap haram.

Lalu bagaimana mereka bisa sampai kepada kesimpulan itu? Adakah dalil yang melatar-belakangi kesimpulan sedemikian rupa?

Jawabannya ada, ya mereka ternyata punya dalil-dalil yang menurut mereka kuat. Misalnya dalil berikut ini:

Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat, yaitu orang-orang yang menggambar gambar-gambar ini. Dalam satu riwayat dikatakan: Orang-orang yang menandingi ciptaan Allah. (HR Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa membuat gambar nanti di hari kiamat dia akan dipaksa untuk meniupkan roh padanya; padahal dia selamanya tidak akan bisa meniupkan roh itu. (HR Bukhari)

Kalau anda menggunakan pendapat para ulama yang model begini, maka jawaban dari kartu undangan yang pakai photo itu jelas jadi haram hukumnya. Tidak peduli phosenya, photografi itu saja sudah haram, dalam pandangan ulama yang ini.

Namun jangan bingung dulu, selain ulama yang agak konservatif dengan pendapatnya itu, ternyata ada juga kalangan ulama yang agak moderat, di mana mereka tidak gebyah uyah main haramkan photografi begitu saja. Mereka juga punya hujjah yang kalau dipikir-pikir, kayaknya masuk akal juga.

Hujjah mereka tentang photografi ini bahwa pada prinsipnya mubah, karena photografi beda dengan melukis atau membuat patung. Prosesnya adalah menangkap bayangan atau citra suatu objek pada suatu bidang dan kemudian hasil bidikan itu diproses sehingga menjadi sebuah karya photografi.

Kalau pun mereka mengharamkan photografi, maka kaitannya bukan pada tekniknya, melainkan bergantung kepada objeknya. Kalau objeknya halal, maka hukumnya halal, sebaliknya kalau objeknya tidak halal, maka hukumnya tidak halal.

Maka yang haram dalam pandangan mereka bila objeknya gambar berhala, orang telanjang, atau sejenisnya.

Bagian bercetak miring ini tulisan ustadz Ahmad Sarwat, Lc di Rumah Fiqih

Syeikh Yusuf al Qaradhawi menganggap bahwa fotografi merupakan hal baru dan belum ada pada masa Rasulullah saw ataupun Ulama Salaf, lalu apakah bisa disamakan dengan hukum menggambar dan melukis?

Pihak yang membatasi keharamannya pada gambar berbodi tidak mempermasalahkan fotografi ini sama sekali, apalagi jika gambarnya tidak utuh. Akan tetapi pihak lain mempersoalkan, apakah fotografi ini dapat dikiaskan dengan menggambar menggunakan kuas ? atau apakah illat (alasan) yang ditetapkan beberapa hadits tentang akan disiksanya para pelukis—yaitu karena hendak menandingi ciptaan Allah—itu dapat diberlakukan pada fotografi ? Sebagaimana dikatakan oleh para ahli ushul fiqih, apabila illat-nya tidak ada maka ma’lul (yang dihukumi) pun tidak ada.

Syeikh al Qaradhawi mengutip fatwa yang disampaikan Syeikh Bukhait, Mufti Mesir didalam risalahnya yang menjawab tentang permasalahan ini dengan mengatakan bahwa pengambilan fotografi—yakni menahan bayangan dengan menggunakan sarana yang sudah dikenal di kalangan orang-orang yang berprofesi demikian—sama sekali tidak termasuk gambar yang dilarang. Karena menggambar yang dilarang itu adalah mewujudkan dan menciptakan gambar yang belum diwujudkan dan diciptakan sebelumnya, sehingga bisa menandingi makhluk ciptaan Allah. Sedangkan tindakan ini tidak terdapat dalam pengambilan gambar melalui alat fotografi (tustel) tersebut.

Demikianlah, meskipun ada orang yang cenderung bersikap ketat dalam semua masalah gambar, dan membenci semua jenisnya, termasuk fotografi. Tetapi tidak diragukan lagi adanya rukhshah (keringanan) pada gambar atau foto yang diperlukan dan untuk kemaslahatan, seperti foto kartu jati diri, paspor, foto identitas dan lainnya yang tidak dimaksudkan untuk diagung-agungkan atau dikhawatirkan merusak akidah. Karena kebutuhan terhadap foto-foto ini lebih besar dan lebih penting daripada sekedar membuat lukisan pada kain yang dikecualikan Nabi saw. (sumber : Halal dan Haram)

Wallahu A’lam

-Ustadz Sigit Pranowo, Lc-

Sumber: EraMuslim  Kamis, 1 Rabiul Awwal 1435 H / 2 Januari 2014

 

Hukum Memajang Foto Profil di Facebook

foto akhwat di facebookFACEBOOK bukan barang baru lagi di kalangan masyarakat dunia. Dari mulai anak kecil hingga sepasang nenek-kakek pasti sudah tahu. Bahkan rata-rata memiliki akun facebook sendiri.Berlomba membuat status facebook yang mewakili isi hati orang lain sudah menjadi makanan sehari-hari. Rasanya seperti candu yang jika ditinggalkan ada yang terasa kurang dalam hidup. Selain berlomba membuat status untuk mendapatkan “jempol” yang banyak. Biasanya juga akun facebook dijadikan ajang untuk menampilkan foto terbaru pemiliknya.

Foto yang ditampilkan bisa jadi foto orang lain. Namun, para perempuan biasanya senang dengan memajang foto-foto milik mereka sendiri. Entah dalam rangka sekedar menyenangkan hati sendiri, atau menarik hati seseorang dengan tampilan foto profil.

Atau bisa jadi, jika foto itu menampilkan kebersamaan dengan seseorang yang “spesial.” Itu hanya pengumuman saja, “Saya sudah laku lho.” Baik dan maslahat memang jika berfoto dengan pendamping hidup alias suami tercinta. Namun jika dengan selainnya itu yang jadi masalah.

Ada juga fenomena lainnya, di dunia nyata berkerudung cukup rapi. Namun di dunia maya, mengapa memberanikan diri melepas kerudung kemudian menampilkan di facebook bahkan menjadi foto profil sendiri? Apakah disangka Allah tidak melihat hal tersebut? Sungguh keimanan seseorang tersebut harus dipertanyakan kembali keberadaannya.

Tapi untuk kali ini, kita akan membahas masalah bagaimana hukumnya menampilkan foto profil seorang perempuan di facebook? Termasuk auratkah? Berdosakah jika kita tampilkan di hadapan publik?

Facebook adalah situs umum yang bercampur didalamnya laki-laki dan perempuan. Ketika perempuan menaruh fotonya, meskipun hanya wajahnya saja yang nampak ( karena anggota badan lain ditutupi).

Maka ini tetap bertentangan dengan perintah Allah ta’ala untuk menutup diri dari lawan jenis, Allah ta’ala berfirman mengenai adab terhadap istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah DARI BELAKANG TABIR. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 35).

Ayat ini berkenaan dengan istri Nabi, yang notabene hati mereka lebih baik dari hati wanita sekarang. Lebih suci dan lebih terjaga hatinya. Jadi muslimah zaman sekarang seharusnya lebih menutup diri dalam muamalah dengan lawan jenis. Karena hati mereka lebih mudah untuk terkena fitnah dan supaya tidak membuat lawan jenis terfitnah.

Kemudian, wajah adalah pusat kecantikan wanita. Dan anggota badan itulah yang membuat pria tergila-gila, jadi membuka wajah saja tetap bisa menjadi sebab terfitnahnya laki-laki.

Kalau dikatakan, “Salah laki-lakinya, kenapa dia tidak menjaga pandangan?” Maka dikatakan, bahwa secara normal laki-laki tertarik dengan wanita dan dia akan mencari cara untuk menuntaskan hasratnya tersebut. Dan ketika dia digoda dengan gambar wajah perempuan yang ditampilkan secara jelas maka otomatis dia akan terfitnah.

Laki-laki yang pada mulanya tergoda dengan tulisan-tulisan perempuan di facebook akhirnya lebih tergoda dengan foto-foto dari perempuan tersebut.

Secara mudahnya kita pakai logika, ada kucing yang sedang berjalan santai. Tiba-tiba anda menggodanya dengan ikan, dan ketika ikan tersebut dimakan kucing, anda menyalahkan kucing tersebut.

Jadi, bisa dikatakan laki-laki yang melihat-lihat dan memperhatikan detail foto akhwat. Dia telah salah, tapi perlu diketahui juga bahwa akhwat yang menampakkan foto-fotonya juga ikut andil atas munculnya kesalahan ini.

Untuk para perempuan, khususnya muslimah di bumi Allah. Alangkah lebih baiknya, kita tidak terlalu terlena dengan dunia maya yang lebih fana’ dari dunia nyata. Keni’matan dan kesenangan sesaat yang membuat fitnah merasa diundang dalam hidup kita.

Jaga aurat kita di dunia maya juga di dunia nyata. Karena Allah Maha Melihat diri kita dari mana pun dan kapanpun. Merubah foto profil di facebook adalah hal kecil, namun dampaknya sangat besar untuk kebaikan hidup kita.

Ingatlah, aturan Allah selalu baik dan pasti akan mendatangkan kebaikan. Wallahu A’lam Bishowwab.

Sumber: Islam Pos Kamis 1 Syaaban 1433 / 21 Juni 2012

 

Dari beberapa pendapat yang ada, kami bepegang pada pendapat yang memperbolehkan lukisan dengan syarat-syarat tertentu. Dan memperbolehkan foto manusia untuk kepentingan-kepentingan tertentu, seperti dokumentasi pribadi / keluarga / perusahaan, ijasah, ktp, paspor, atau dengan kata lain menimbang unsur manfaat dan mudharatnya. Adapun penyebaran foto didunia maya melalui web, blog, facebook, twitter, whatsapp, blackberry, dll sebaiknya dihindari karena: hukum foto pun ada yang mengharamkan, sementara yang membolehkan masih memberi beberapa persyaratan. foto makhluk hidup lebih dipermasalahkan lagi. foto wanita lebih khusus dijaga, bukan berarti pria bisa menyebarkan fotonya karena meskipun efeknya tidak sebesar tersebarnya foto wanita tapi sampai tingkatan tertentu efek buruk yang sejenis juga akan muncul.

Abu Abdullah – Yogya

Tawassul dalam Berdoa

In Fiqh, Hadits, Tsaqafah on 7 Januari 2015 at 23:16

Tawassul artinya berdoa dengan menggunakan perantara atau al-wasilah. Tawassul terbagi menjadi tiga macam; tawassul dengan nama dan sifat Allah (tawassul bi Asma’illah wa Shifatihi), tawassul dengan amal saleh (tawassul bi al-A’mal al-Shalihah), dan tawassul dengan menyebutkan orang lain (tawassul bi al-Dzat).

Para ulama bersepakat bahwa tawassul dengan nama Allah atau sifat-Nya, juga tawassul dengan amal saleh, diperbolehkan bahkan dianjurkan.

Salah satu dalil tentang tawassul dengan nama dan sifat Allah, adalah doa yang senantiasa dipanjatkan setiap selesai shalat.

Rasulullah Saw. ketika selesai shalat beristighfar tiga kali dan berdoa, “Ya Allah Engkau Maha Pemberi Keselamatan. Dari-Mu lah keselamatan. Engkau Mahatinggi Wahai Yang Maha Agung dan Mulia.” (HR al-Bukhari)

Rasulullah saw. juga pernah mengajari Ali bin Abi Thalib sebuah doa untuk menguatkan hafalannya. Dalam doa itu, Rasulullah saw. mengajari Ali bin Abi Thalib bertawassul dengan keagungan dan keridhaan Allah.

Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Memiliki keagungan, kemuliaan dan keperkasaan, yang tidak akan hilang. Aku meminta kepada-Mu wahai Yang Maha Pemurah, dengan keagungan dan cahaya keridhaan-mu, agar Engkau mengukuhkan hatiku untuk menghafal kitab suci-Mu sebagaimana Engkau telah mengajariku. Berilah aku rizki (petunjuk) untuk membacanya sesuai dengan apa yang Engkau ridhai bagiku. (HR. al-Tirmidzi)

Sedangkan mengenai tawassul dengan amal saleh, Hadis Rasulullah saw. tentang cerita tiga orang yang terjebak dalam gua, bisa dijadikan landasan.

Disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari, bahwa Rasulullah saw. pernah menceritakan suatu kisah yang indah. Suatu ketika ada tiga orang dari umat terdahulu sedang berjalan. Lalu hujan turun dengan tiba-tiba. Mereka pun berteduh di dalam gua. Selang beberapa waktu, gua itu tertutup oleh batu. Mereka terjebak dan tidak dapat keluar. Maka, salah satu dari mereka berkata kepada yang lain, “Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkan kalian kecuali kebaikan. Berdoalah kepada Allah dengan menyebutkan hal baik yang pernah kalian lakukan.”

Masing-masing dari mereka pun menyebutkan kebaikan yang pernah dilakukan, agar dapat dikeluarkan dari gua yang tertutup batu itu. Setiap satu orang dari mereka berdoa, batu itu bergeser. Setelah orang yang ketiga berdoa, mulut gua itu terbuka lebar, dan mereka pun tidak terjebak lagi.

Doa yang dipanjatkan oleh salah satu dari tiga orang itu berbunyi,

Ya Allah, aku memiliki orang tua yang telah renta. Aku tidak pernah memberikan minum kepada keluargaku maupun hartaku (hewan ternakku) sebelum kedua orang tuaku minum. Pernah suatu hari aku sibuk melakukan sesuatu. Maka, aku pun tidak datang kepada kedua orang tuaku di sore hari hingga mereka tertidur. Lalu, aku memerah susu sebagai minum untuk keduanya. Namun, aku dapati keduanya sedang terlelap. Aku tidak ingin memberikan minum kepada keluargaku maupun hartaku (hewan ternakku) sebelum kedua orang tuaku minum. Aku pun terdiam dengan tempat air di tanganku, menunggu keduanya bangun. Ketika fajar tiba, keduanya bangun dan meminum (susu) yang telah kubawa itu. Ya Allah, jika aku melakukan hal itu untuk mencari keridhaan-Mu, maka bebaskanlah kami dari keadaan terjebak oleh batu ini.” (HR. al-Bukhari)

Untuk membebaskan dirinya dan dua orang yang lain dari dalam gua, salah satu dari mereka menyebutkan kebaikan yang diperoleh sebagai perantara. Inilah yang disebut dengan tawassul bi al-a’mal al-shalihah (tawassul dengan amal saleh).

Sebagaimana telah kami sampaikan sebelumnya bahwa dalam permasalahan tawassul bi al-dzat (tawassul dengan menyebutkan nama orang saleh), ulama masih berbeda pendapat. Ada yang membolehkan, ada juga yang tidak.

Mereka yang memperbolehkan, menjadikan Hadis tentang orang buta yang meminta Nabi mendoakannya agar sembuh dan matanya dapat melihat, sebagai argumen. Dalam Hadis itu Rasulullah saw. tidak secara langsung mendoakannya, beliau hanya mengajarkan doa kepada orang buta itu.

Seorang laki-laki yang lemah penglihatannya mendatangi Nabi Muhammad Saw. seraya berkata, “Berdoalah kepada Allah untuk menyembuhkanku!” Rasulullah Saw. bersabda, “Jika kamu mau, maka aku akan berdoa, atau bersabarlah dengan itu semua. Niscaya itu lebih baik.” Laki-laki itu berkata, “Berdoalah kepada-Nya.” Maka Rasulullah Saw. memerintahkannya untuk berwudhu, menyempurnakan wudhunya dan berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu, dan aku menghadap-Mu, dengan perantara Nabi-Mu, Muhammad, Nabi yang penyayang. Sesungguhnya aku menghadap Tuhan-Ku untuk memenuhi hajat, dengan perantaraan-Mu ini agar doaku dikabulkan. Ya Allah, berilah syafaat kepadanya untukku.” (HR al-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dll. Dari ‘Utsman bin Hunaif)

Orang tersebut melaksanakan petunjuk Nabi Muhammad saw. Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa orang buta itu melakukannya berkali-kali dan setelah itu dia pun sembuh.

Penggunaan Hadis Shahih di atas sebagai argumen kebolehan bertawassul dengan menyebutkan Nabi saw. sebagai perantara, dibantah oleh mereka yang tidak memperbolehkannya. Menurut mereka, yang berdoa itu sebenarnya adalah Nabi Muhammad saw. ketika beliau masih hidup. Atau, ada juga yang berpendapat bahwa orang buta itu membaca doa ketika Rasulullah saw. masih hidup. Sedangkan saat ini, Rasulullah saw. telah meninggal dunia. Maka, kini tidak lagi diperbolehkan.

Jika kita meneliti lebih lanjut, dalam riwayat yang disampaikan oleh Imam al-Hakim, disebutkan bahwa orang buta tersebut berjalan ke arah tempat wudhu dan berdoa di sana. Ini artinya, bukan Nabi Muhammad saw. yang berdoa untuknya. Tetapi, dia berdoa sendiri dengan petunjuk Rasulullah saw.

Lalu, masih hidup ataupun sudah meninggal, tidak menjadi masalah. Dalam kitab al-Mu’jam al-Shaghir karya al-Thabrani disebutkan bahwa ‘Utsman bin Hunaif, rawi Hadis tentang orang buta di atas, masih hidup ketika kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan. Dan dia sempat mengajarkan doa itu kepada seseorang yang mengadukan urusannya kepada Utsman bin Affan, namun tidak diperhatikan. Ini berarti bahwa doa dengan muatan tawassul itu masih tetap digunakan, meskipun Nabi Muhammad telah meninggal dunia.

Masih banyak Hadis lain yang menerangkan bahwa tawassul dengan menyebut orang saleh sebagai perantara diperkenankan. Dan ini yang disebut tawassul bi al-dzat.

Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Rasulullah saw. pernah mengajarkan sebuah doa,

Orang yang keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat lalu berkata, “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan derajat orang-orang yang meminta kepada-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dengan derajat perjalananku ini. Aku tidak keluar untuk menunjukkan sifat angkuh, sombong, riya, atau sum’ah. Sesungguhnya aku keluar karena takut akan kemurkaan-Mu dan mencari keridhaan-Mu. Maka aku meminta kepada-Mu agar Engkau melindungiku dari api neraka, dan engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau,”. Orang yang melakukan ini akan mendapatkan kaeridhaan Allah dan 70.000 malaikat memohonkan ampun untuknya. (HR. Ibnu Majah)

Sebenarnya tidak ada syirik bila kita berdoa bertawassul, selama kita masih meyakini bahwa Nabi ataupun orang saleh tadi bukanlah pengabul doa yang kita panjatkan. Kita berdoa hanya kepada Allah, dan Allah juga yang akan mengabulkan doa kita. Kita tidak berdoa kepada Nabi saw. atau orang saleh.

Maka berdoa dengan, Wahai Tuhanku, dengan Rasul pilihan-Mu, sampaikanlah tujuan-tujuanku. Ampunilah segala dosa yang telah lalu. Wahai Tuhan Yang Mahaluas kemuliaannya. Bukanlah suatu hal yang syirik, kecuali apabila yang kita minta itu Nabi saw.

Jika ada yang menganggap bahwa bertawassul dengan menyebut nama orang saleh adalah syirik, maka perlu dipahami apa pengertian syirik. Syirik terbagi menjadi dua macam, syirik dalam aqidah, dan syirik dalam ibadah. Syirik dalam aqidah adalah menjadikan Tuhan tandingan bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan kita. Ini merupakan dosa yang paling besar.

Rasulullah saw. pernah ditanya mengenai dosa yang paling besar. Beliau pun berkata, Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Allah telah menciptakanmu. (HR. al-Bukhari)

Sedangkan syirik dalam ibadah adalah memalingkan tujuan ibadah yang seharusnya untuk Allah, kepada selain Allah. Contohnya adalah seseorang yang melakukan penyembelihan, akan tetapi ditujukan untuk penghuni Laut Selatan, dan sebagainya. Atau, contoh syirik dalam ibadah adalah orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan. Misalnya, orang yang pergi haji berkali-kali karena ingin mendapat sanjungan masyarakat di kampungnya, atau supaya terlihat kaya karena ingin menikah lagi.

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan. Apakah kamu hendak menjadi penolong baginya? (QS al-Furqan: 43).

Ayat ini menunjukkan bahwa ada orang yang beribadah tetapi mempertuhankan hawa nafsu atau selera. Ini adalah syirik dalam ibadah.

sumber: darussunnah

Penanya: Mahyaruddin Husni Saragih
Pesan: ustadz, boleh gak ketika kita berdo’a kita menyebutkan kebaikan2 yang pernah kita buat, terus kita meminta agar ALLAH SWT membalas kebaikan tersebut, contohnya :

Ya Allah, tadi hamba telah bersedekah 100rb, hamba mohon engkau balas sedekah hamba ini menjadi 10 X lipat, sesuai janji-MU dalam Al-Qur’an engkau akan membalasnya menjadi 10 x lipat, 100x lipat, 700x lipat bahkan lebih dari itu…

boleh tidak berdo’a seperti itu?

Jawaban

Seperti tertulis diartikel di atas, berdoa dengan tawassul amal shaleh diperbolehkan. Namun, secara adab, adalah lebih baik jika tidak mendikte Allah dengan menyebutkan besaran balasan terlalu mendetail seperti contoh di atas. Mungkin cukup dengan menyebutkan balasan yang berlipat ganda.

Abu Abdullah – Yogya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.