Golongan (Ashnaf) penerima zakat telah ditentukan Allah dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surat At-Taubah ayat 60.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah: 60)

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang “Fi sabilillah” dalam ayat di atas: `

• Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa makna ‘fi sabilillah’ adalah semua yang terkait dengan jihad secara umum (baik personel maupun senjata).

• Imam Ahmad dan Imam As-Syafii rahimahullah berpendapat bahwa makna ‘fi sabilillah’ adalah orang yang berangkat jihad, sementara mereka tidak mendapat gaji tetap dari negara atau baitul mal.

• Pendapat ketiga berpendapat bahwa makna ‘fi sabilillah’ adalah semua kegiatan kebaikan, baik itu jihad maupun yang lainnya, seperti membangun masjid, sekolah islam, memperbaiki jalan, membuat sumur, atau lainnya.

Pendapat yang paling kuat dari makna “fi sabilillah adalah khusus untuk jihad di jalan Allah, baik untuk personel maupun prasarananya. Oleh karena itu, memberikan zakat untuk pembangunan masjid tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama.

Para ulama sepakat atas ketidak-bolehan memberikan zakat untuk membangun masjid, membangun jembatan, mengkafani mayit dan yang semisalnya dari jalan-jalan kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah.
Di antara alasan yang melandasi pendapat di atas adalah sebagai berikut:

1. Masjid tidak memiliki sifat tamlik. Karena masjid atau yang semacamnya tidak bisa memiliki. Sebagian ulama mempersyaratkan penerima zakat harus tamlik (kemampuan memiliki). (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 23/329)

2. Jika lafazh “Fi sabilillah” ditafsirkan sebagai semua jalan kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, maka menjadi tidak bermakna adanya pembatasan golongan penerima zakat pada ayat di atas, dimana Allah membatasi penerima zakat hanya untuk 8 ashnaf (golongan).

3. Andaikan zakat boleh diberikan untuk semua jalan kebaikan, maka akan ada sebagian ashnaf zakat yang tidak mendapatkan bagiannya atau hanya mendapatkan bagian yang sedikit, sebab orang-orang akan berlomba menyalurkan zakatnya untuk pembangunan masjid, karena kemanfaatan dan pahalanya yang akan tetap mengalir selama masjid itu kokoh berdiri.

Kesimpulannya adalah lafazh Fi Sabilillah memiliki arti khusus, yaitu jihad di jalan Allah dan tidak bisa diperluas menjadi mencakup semua jalan kebaikan. Adapun untuk pembangunan masjid bisa diambil dari infaq, shadaqah, waqaf, hibah dan dana-dana lain selain zakat.

Wallahu a’lam bishawab.

Ustadz Iman Sulaiman, Lc.

Sumber: tanya jawab syariah

sumber