Tawassul artinya berdoa dengan menggunakan perantara atau al-wasilah. Tawassul terbagi menjadi tiga macam; tawassul dengan nama dan sifat Allah (tawassul bi Asma’illah wa Shifatihi), tawassul dengan amal saleh (tawassul bi al-A’mal al-Shalihah), dan tawassul dengan menyebutkan orang lain (tawassul bi al-Dzat).

Para ulama bersepakat bahwa tawassul dengan nama Allah atau sifat-Nya, juga tawassul dengan amal saleh, diperbolehkan bahkan dianjurkan.

Salah satu dalil tentang tawassul dengan nama dan sifat Allah, adalah doa yang senantiasa dipanjatkan setiap selesai shalat.

Rasulullah Saw. ketika selesai shalat beristighfar tiga kali dan berdoa, “Ya Allah Engkau Maha Pemberi Keselamatan. Dari-Mu lah keselamatan. Engkau Mahatinggi Wahai Yang Maha Agung dan Mulia.” (HR al-Bukhari)

Rasulullah saw. juga pernah mengajari Ali bin Abi Thalib sebuah doa untuk menguatkan hafalannya. Dalam doa itu, Rasulullah saw. mengajari Ali bin Abi Thalib bertawassul dengan keagungan dan keridhaan Allah.

Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Memiliki keagungan, kemuliaan dan keperkasaan, yang tidak akan hilang. Aku meminta kepada-Mu wahai Yang Maha Pemurah, dengan keagungan dan cahaya keridhaan-mu, agar Engkau mengukuhkan hatiku untuk menghafal kitab suci-Mu sebagaimana Engkau telah mengajariku. Berilah aku rizki (petunjuk) untuk membacanya sesuai dengan apa yang Engkau ridhai bagiku. (HR. al-Tirmidzi)

Sedangkan mengenai tawassul dengan amal saleh, Hadis Rasulullah saw. tentang cerita tiga orang yang terjebak dalam gua, bisa dijadikan landasan.

Disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari, bahwa Rasulullah saw. pernah menceritakan suatu kisah yang indah. Suatu ketika ada tiga orang dari umat terdahulu sedang berjalan. Lalu hujan turun dengan tiba-tiba. Mereka pun berteduh di dalam gua. Selang beberapa waktu, gua itu tertutup oleh batu. Mereka terjebak dan tidak dapat keluar. Maka, salah satu dari mereka berkata kepada yang lain, “Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkan kalian kecuali kebaikan. Berdoalah kepada Allah dengan menyebutkan hal baik yang pernah kalian lakukan.”

Masing-masing dari mereka pun menyebutkan kebaikan yang pernah dilakukan, agar dapat dikeluarkan dari gua yang tertutup batu itu. Setiap satu orang dari mereka berdoa, batu itu bergeser. Setelah orang yang ketiga berdoa, mulut gua itu terbuka lebar, dan mereka pun tidak terjebak lagi.

Doa yang dipanjatkan oleh salah satu dari tiga orang itu berbunyi,

Ya Allah, aku memiliki orang tua yang telah renta. Aku tidak pernah memberikan minum kepada keluargaku maupun hartaku (hewan ternakku) sebelum kedua orang tuaku minum. Pernah suatu hari aku sibuk melakukan sesuatu. Maka, aku pun tidak datang kepada kedua orang tuaku di sore hari hingga mereka tertidur. Lalu, aku memerah susu sebagai minum untuk keduanya. Namun, aku dapati keduanya sedang terlelap. Aku tidak ingin memberikan minum kepada keluargaku maupun hartaku (hewan ternakku) sebelum kedua orang tuaku minum. Aku pun terdiam dengan tempat air di tanganku, menunggu keduanya bangun. Ketika fajar tiba, keduanya bangun dan meminum (susu) yang telah kubawa itu. Ya Allah, jika aku melakukan hal itu untuk mencari keridhaan-Mu, maka bebaskanlah kami dari keadaan terjebak oleh batu ini.” (HR. al-Bukhari)

Untuk membebaskan dirinya dan dua orang yang lain dari dalam gua, salah satu dari mereka menyebutkan kebaikan yang diperoleh sebagai perantara. Inilah yang disebut dengan tawassul bi al-a’mal al-shalihah (tawassul dengan amal saleh).

Sebagaimana telah kami sampaikan sebelumnya bahwa dalam permasalahan tawassul bi al-dzat (tawassul dengan menyebutkan nama orang saleh), ulama masih berbeda pendapat. Ada yang membolehkan, ada juga yang tidak.

Mereka yang memperbolehkan, menjadikan Hadis tentang orang buta yang meminta Nabi mendoakannya agar sembuh dan matanya dapat melihat, sebagai argumen. Dalam Hadis itu Rasulullah saw. tidak secara langsung mendoakannya, beliau hanya mengajarkan doa kepada orang buta itu.

Seorang laki-laki yang lemah penglihatannya mendatangi Nabi Muhammad Saw. seraya berkata, “Berdoalah kepada Allah untuk menyembuhkanku!” Rasulullah Saw. bersabda, “Jika kamu mau, maka aku akan berdoa, atau bersabarlah dengan itu semua. Niscaya itu lebih baik.” Laki-laki itu berkata, “Berdoalah kepada-Nya.” Maka Rasulullah Saw. memerintahkannya untuk berwudhu, menyempurnakan wudhunya dan berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu, dan aku menghadap-Mu, dengan perantara Nabi-Mu, Muhammad, Nabi yang penyayang. Sesungguhnya aku menghadap Tuhan-Ku untuk memenuhi hajat, dengan perantaraan-Mu ini agar doaku dikabulkan. Ya Allah, berilah syafaat kepadanya untukku.” (HR al-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dll. Dari ‘Utsman bin Hunaif)

Orang tersebut melaksanakan petunjuk Nabi Muhammad saw. Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa orang buta itu melakukannya berkali-kali dan setelah itu dia pun sembuh.

Penggunaan Hadis Shahih di atas sebagai argumen kebolehan bertawassul dengan menyebutkan Nabi saw. sebagai perantara, dibantah oleh mereka yang tidak memperbolehkannya. Menurut mereka, yang berdoa itu sebenarnya adalah Nabi Muhammad saw. ketika beliau masih hidup. Atau, ada juga yang berpendapat bahwa orang buta itu membaca doa ketika Rasulullah saw. masih hidup. Sedangkan saat ini, Rasulullah saw. telah meninggal dunia. Maka, kini tidak lagi diperbolehkan.

Jika kita meneliti lebih lanjut, dalam riwayat yang disampaikan oleh Imam al-Hakim, disebutkan bahwa orang buta tersebut berjalan ke arah tempat wudhu dan berdoa di sana. Ini artinya, bukan Nabi Muhammad saw. yang berdoa untuknya. Tetapi, dia berdoa sendiri dengan petunjuk Rasulullah saw.

Lalu, masih hidup ataupun sudah meninggal, tidak menjadi masalah. Dalam kitab al-Mu’jam al-Shaghir karya al-Thabrani disebutkan bahwa ‘Utsman bin Hunaif, rawi Hadis tentang orang buta di atas, masih hidup ketika kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan. Dan dia sempat mengajarkan doa itu kepada seseorang yang mengadukan urusannya kepada Utsman bin Affan, namun tidak diperhatikan. Ini berarti bahwa doa dengan muatan tawassul itu masih tetap digunakan, meskipun Nabi Muhammad telah meninggal dunia.

Masih banyak Hadis lain yang menerangkan bahwa tawassul dengan menyebut orang saleh sebagai perantara diperkenankan. Dan ini yang disebut tawassul bi al-dzat.

Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Rasulullah saw. pernah mengajarkan sebuah doa,

Orang yang keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat lalu berkata, “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan derajat orang-orang yang meminta kepada-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dengan derajat perjalananku ini. Aku tidak keluar untuk menunjukkan sifat angkuh, sombong, riya, atau sum’ah. Sesungguhnya aku keluar karena takut akan kemurkaan-Mu dan mencari keridhaan-Mu. Maka aku meminta kepada-Mu agar Engkau melindungiku dari api neraka, dan engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau,”. Orang yang melakukan ini akan mendapatkan kaeridhaan Allah dan 70.000 malaikat memohonkan ampun untuknya. (HR. Ibnu Majah)

Sebenarnya tidak ada syirik bila kita berdoa bertawassul, selama kita masih meyakini bahwa Nabi ataupun orang saleh tadi bukanlah pengabul doa yang kita panjatkan. Kita berdoa hanya kepada Allah, dan Allah juga yang akan mengabulkan doa kita. Kita tidak berdoa kepada Nabi saw. atau orang saleh.

Maka berdoa dengan, Wahai Tuhanku, dengan Rasul pilihan-Mu, sampaikanlah tujuan-tujuanku. Ampunilah segala dosa yang telah lalu. Wahai Tuhan Yang Mahaluas kemuliaannya. Bukanlah suatu hal yang syirik, kecuali apabila yang kita minta itu Nabi saw.

Jika ada yang menganggap bahwa bertawassul dengan menyebut nama orang saleh adalah syirik, maka perlu dipahami apa pengertian syirik. Syirik terbagi menjadi dua macam, syirik dalam aqidah, dan syirik dalam ibadah. Syirik dalam aqidah adalah menjadikan Tuhan tandingan bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan kita. Ini merupakan dosa yang paling besar.

Rasulullah saw. pernah ditanya mengenai dosa yang paling besar. Beliau pun berkata, Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Allah telah menciptakanmu. (HR. al-Bukhari)

Sedangkan syirik dalam ibadah adalah memalingkan tujuan ibadah yang seharusnya untuk Allah, kepada selain Allah. Contohnya adalah seseorang yang melakukan penyembelihan, akan tetapi ditujukan untuk penghuni Laut Selatan, dan sebagainya. Atau, contoh syirik dalam ibadah adalah orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan. Misalnya, orang yang pergi haji berkali-kali karena ingin mendapat sanjungan masyarakat di kampungnya, atau supaya terlihat kaya karena ingin menikah lagi.

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan. Apakah kamu hendak menjadi penolong baginya? (QS al-Furqan: 43).

Ayat ini menunjukkan bahwa ada orang yang beribadah tetapi mempertuhankan hawa nafsu atau selera. Ini adalah syirik dalam ibadah.

sumber: darussunnah

Penanya: Mahyaruddin Husni Saragih
Pesan: ustadz, boleh gak ketika kita berdo’a kita menyebutkan kebaikan2 yang pernah kita buat, terus kita meminta agar ALLAH SWT membalas kebaikan tersebut, contohnya :

Ya Allah, tadi hamba telah bersedekah 100rb, hamba mohon engkau balas sedekah hamba ini menjadi 10 X lipat, sesuai janji-MU dalam Al-Qur’an engkau akan membalasnya menjadi 10 x lipat, 100x lipat, 700x lipat bahkan lebih dari itu…

boleh tidak berdo’a seperti itu?

Jawaban

Seperti tertulis diartikel di atas, berdoa dengan tawassul amal shaleh diperbolehkan. Namun, secara adab, adalah lebih baik jika tidak mendikte Allah dengan menyebutkan besaran balasan terlalu mendetail seperti contoh di atas. Mungkin cukup dengan menyebutkan balasan yang berlipat ganda.

Abu Abdullah – Yogya