Dalam ” The Different Arabic Versions of The Qur’an ” Samuel Green mengutip statemen dalam ” Basic Principle of Islam ” yang intinya adalah Al-Quran dari dulu sampai hari ini masih asli tanpa perubahan apa pun (uncanged), semua Al Qur’an di seluruh dunia adalah sama seragam atau disebutnya ” no variaton of text ”

Kontan saja statemen ini mendapat serangan tajam dari Green — seorang misionaris Kristen — maka dia menghadirkan dua text dalam Al-Qur’an standar riwayat Hafsh dan text standar riwayat Warsy, tentu saja dengan setumpuk perbedaan di dalamnya. Bahkan dia mengatakan mungkin kita akan sulit mempercayainya, antara doktrin di atas dengan realitas yang dia sajikan. Yang kesimpulan akhirnya kira-kira dia ingin kataka ” Al-Qur’an sudah tidak asli ”

Statemen yang dijadikan bahan serangan Green adalah statemen yang umum terjadi di masyarakat bahkan di kalangan sarjana Islam yang bukan sarjana Al-Qu’an, bahwa Al-Quran adalah seragam dalam bacaan dan text. Kesalahan fatal lainnya adalah keyakinan ummat Islam bahwa Al-Quran mushaf Utsman bin Affan adalah satu, bukan banyak. Tetapi kesimpulan bahwa karena Al-Qur’an text nya beragam dan juga bacaanya maka dia tidak asli lagi, maka itu adalah kesimpulan yang keliru.

Dalam paparannya, Green pun sepertinya memang hanya ahli dalam mencari ” masalah ” tanpa paham betul masalah itu, yang penting nampak kontradiktif dan cukup membuat orang bingung itu sudah memuaskannya. Contohnya adalah Green sepertinya tidak memahami perbedaan ” sab’atu ahruf ” (tujuh model dalam Al-Qur’an) dengan sab’atu qiraah (tujuh bacaan dalam Al-Qur’an) sehingga pembahasan ini dia jadikan satu bahasan, padahal hal itu adalah dua pembahasan berbeda. Seluruh qiraah yang tujuh, bahkan sepuluh sekalipun hanya satu model dari tujuh model keragaman dalam Al-Qur’an (sab’atu ahruf). Mungkin Green akan senang ” waah, yang sepuluh bacaan saja cuma satu model dari tujuh model keragaman, berarti 6 lainnya makin gak beraturan, ”

Tujuh model keragaman (sab’atu ahruf) yang salah satu modelnya adalah keragamaan cara baca (qiraah) yang berjumlah sepuluh qiraat, semuanya sudah ada sejak Al-Qur’an itu turun dan memang Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh model keragaman tadi, ” unzilal qur’an ala sab’ati ahruf ” Dan riwayat tentang sab’atu ahruf adalah mutawatir dan ini dijelaskan panjang lebar dalam kitab ” ahadits al ahruf as-sab’ah ” dari keragaman matannya maupun macam-macam sanadnya. Dan keragaman itu masih terjaga sampai hari ini yang menurut dugaan Green mungkin itu lahir dari distorsi atau perubahan kitab suci. Pembahasan lebih lanjut tentang sab’ati ahruf silahkan merujuk pada Manahilul Irfan Az Zarqani, sebagai pembanding silahkan pula merujuk pada Nuzulul Quran ala Sab’ati Ahruf karya Syaikh Manna’ Qaththan.

Kekeliruan Green lagi adalah menyangka bahwa perbedaan-perbedaan itu akan melahirkan makna yang berbeda dalam artian kontradiktif (tadhaddu), saling bertabrakan satu sama lain. Padahal semua perbedaan dalam Al-Qur’an adalah perbedaan variatif, bukan kontradiktif (tanawwu). Green memberi satu contoh dalam bacaan Hafsh dibaca ” nunsyizuha ” dalam bacaan Warsy dibaca ” nunsyiruha ” ada yang membacanya ” nansyuruha. ” Bacaan itu memang sejak diwahyukan oleh Jibril a.s memang sudah dibaca dengan dua bacaan seperti itu, kata ” nunsyizuha ” artinya menyusun, mengeluarkan, dengan konotasi dari bawah ke atas, sedangkan ” nunsyiruha ” bermakna menyatukan, menghimpun, menghidupkan, dengan konotasi dari berserakan menjadi satu. Ayat tersebut menceritakan pada kita agar memperhatikan tulang-belulang yang sudah mati lalu bagaimana Allah menghidupkannya kembali. Kedua bacaan tadi maknanya tidak kontradiktif, justru komplementatif saling menguatkan dan memberikan gambaran utuh dar yang berserak maka dia terhimpun, dari rata dengan tanah maka dia kembali tumbuh dan tegak berdiri, dan banyak contoh lagi semisalnya — wallahu a’lam

Ustadz Rudi Wahyudi, SPI.

Perintis Sekolah Al-Qur’an Baiturrahman

sumber: fimadani