Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saya ingin menanyakan tentang masalah utang piutang
Begini orang tua saya memiliki hutang pada orang lain sudah 15 tahun yang lalu… dan hal ini dulu kondisinya orang tua saya suka menunda2 hingga terlupa sekarang setelah mengingat hal itu dan paham bahwa urusan hutang piutang akan dibawa hingga hari kiamat… kami ingin melunasinya… dan saya khawatir akan orang tua saya,,, namun masalahnya ketika kami mencari orang tersebut (yg kami hutangi) ternyata beliau telah pindah keluar pulau sekitar 10 tahun yang lalu dan tidak tahu rimbanya dimana… Jadi Apa yang mesti kami lakukan untuk hal ini… Mohon jawab kegelisahan kami…

Terima Kasih banyak
Wassalam

(Winda Ramadhaniah)

Jawaban:

1. berniat sungguh2 untuk melunasi agar Allah memudahkan niatnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Utang itu ada dua macam, maka barangsiapa yang mati dan dia berniat untuk melunasinya maka aku menjadi walinya, dan barangsiapa yang mati sementara dia tidak berniat melunasinya, maka orang itulah yang diambil pahala amal baiknya, di hari itu tidak ada dinar dan dirham.” (Shahih Lighairihi, Shahih At-Targhib no. 1803)

”Barangsiapa mengambil (berutang) orang sedang dia berniat untuk melunasinya, niscaya Allah akan (membantu) melunasi bagi pihaknya. Dan barangsiapa mengambilnya (mengutangnya) dengan niat merusaknya (mengemplangnya), niscaya Allah akan membinasakannya.” (HR. Al-Bukhari)

2. bersedekah atas nama pemilik uang yg kita hutang, agar jika orang tsb tidak ketemu juga, Allah sdh mencatat ikhtiar kita

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Apabila kamu mempunyai kewajiban hutang pada seseorang. Dan kamu merasa belum melunasi dan merasa hutang tersebut masih ada sampai orang yang menghutangi mengambil haknya. Maka Apabila orang yang memberi hutang tadi telah meninggal, maka hutang tersebut diberikan pada ahli warisnya. Jika kamu tidak mengetahui ahli warisnya atau tidak mengetahui orang tersebut atau tidak mengetahui di mana dia berada, maka utang tersebut dapat disedekahkan atas namanya dengan ikhlas. Dan Alloh subhanahu wa ta’ala mengetahui hal ini dan akan menunaikan pada orang tersebut.” (Syarh Riyadhus Shalihin, Bab Taubat, I/47).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa beliau membeli budak dari seorang laki-laki. Kemudian beliau masuk (ke dalam rumah) untuk mengambil uang pembayaran. Akan tetapi tuan budak tadi malah pergi sampai Ibnu Mas’ud yakin lagi tuan budak tersebut tidak akan kembali. Akhirnya beliau bersedekah dengan uang tadi dan mengatakan, “Ya Allah, uang ini adalah milik tuan budak tadi. Jika dia ridha, maka balasan untuknya. Namun jika dia enggan, maka balasan untukku dan baginya kebaikanku sesuai dengan kadarnya.”

3. Berdoa agar hutang tsb tidak lagi membebani kita

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسْلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil serta dari tidak mampu membayar hutang dan dari penguasaan orang lain.” (HR. Al-Bukhari).

4. bertobat atas kelalaian menunaikan hak orang lain, agar Allah mengampuni kita.

(ustadz Ismeidas Makfiansah – Jakarta)