tjislam

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘puasa’

Meng-qodho puasa orang lain

In Fiqh on 24 Juli 2012 at 09:59

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Saya mau nanya: Apakah kita bisa mewakilkan / mengqodho puasa untuk orang lain….?? kalau bisa bagaimana caranya & apakah ada dalil – dalilnya ( ayat2 atau hadits2 ) tentang tatacara mewakilkan qodho puasa untuk orang lain & syarat – syarat orang yang boleh di wakilkan qodho puasanya…??. Terimakasih.
Wassalamu alaikum wr.wb.

Time: Kamis Juli 5, 2012 at 1:34 pm (penanya: Shabri)

Jawaban:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Persoalan mengqodho puasa untuk orang lain, dalam hadits hanya berkenaan qodho puasa buat orang tua, tdk untuk yang lainnya

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya. ”[3]

Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah ahli waris[4].

Namun hukum membayar puasa di sini bagi ahli waris tidak sampai wajib, hanya disunnahkan.[5] Juga hadits Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ ، وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ ، أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ – قَالَ – فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى »
“Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan dia memiliki utang puasa selama sebulan [dalam riwayat lain dikatakan: puasa tersebut adalah puasa nadzar], apakah aku harus mempuasakannya?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya. Utang pada Allah lebih pantas engkau tunaikan
Dan hal ini pun ada perbedaan pendapat oleh para ulama. Sebagian kalangan membolehkan mengqodho jika seseorang tdk dapat berpuasa karena halangan tertentu dan ia bs mengganti puasa tersebut dibulan lain namun tdk sempat dan sdh keburu meninggal. Bagi yg tdk dpt berpuasa dan tdk sanggup mengganti ya tdk perlu diqodho, cukup membayar fidyah, spt orng jompo dll

(Penjawab: ustadz Ismeidas Makfiansah – Jakarta)

Puasa Syawal atau Qadha

In Fiqh, Hadits on 9 September 2011 at 21:12

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr.wb.

Bagaimana hukumnya jika saya sudah terlanjut niat puasa syawal dahulu dan sudah selesai menjalankannya. dan setelah itu saya lanjutkan dengan puasa qadla. Apakah puasa syawal saya itu tidak mendapatkan pahala (seperti puasa selama 1 tahun)?
(Murni)

Jawaban:

wa’alaikum salam wr.wb.
ba’da tahmid wa shalawat

ada beberapa pendapat tentang hal ini.
1. ada yang mengatakan HARUS mendahulukan puasa qadha baru kemudian melakukan puasa syawal. logikanya dibangun dari penafsiran terhadap hadis, “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim, Turmudzi, Ahmad, dan yang lainnya). Hal ini dimaknai bahwa orang yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan belum dianggap selesai melakukan puasa Ramadhan sehingga belum boleh melakukan puasa syawal.

2. ada yang mengatakan SEBAIKNYA mendahulukan puasa qadha baru kemudian melakukan puasa syawal. Logika ini dibangun berdasarkan hadits “Hutang kepada Allah lebih wajib untuk dilunasi”. Juga diibaratkan seperti shalat fardu dengan shalat sunah ba’da shalat fardu, sementara puasa sunah sya’ban seperti shalat sunah qabliyah shalat fardu.

3. ada pula yang mengatakan BOLEH mendahulukan puasa syawal baru kemudian melakukan puasa qadha. Logika ini didasarkan pada keumuman ayat, “Maka (hutang tersebut) diganti di hari-hari yang lain, ” (QS al-Baqarah: 184). Artinya puasa qadha memiliki batasan penyelesaian yang panjang, yaitu sampai sebelum Ramadhan tahun berikutnya, sehingga masih bisa dilakukan diwaktu yang lain. Sementara puasa syawal hanya bisa dilakukan dibulan syawal sehingga tidak mengapa dilakukan terlebih dahulu.

Dari semua pendapat di atas penulis lebih condong untuk lebih baik dan berhati-hati dengan memilih melakukan puasa qadha terlebih dahulu tetapi pilihan pendapat ini tidak sampai jatuh pada hukum wajib sehingga jika melakukan puasa syawal terlebih dahulu juga tidak mengapa, dan insya Allah tetap berpahala seperti janji Allah SWT pada hadits di atas.

Yang harus dihindari adalah menunda-nunda pembayaran hutang puasa Ramadhan sehingga tidak terbayar sampai datang Ramadhan berikutnya. Dan yang harus diingat adalah bahwa puasa syawal dan puasa selain puasa Ramadhan, nadzar & kifarat, berhukum sunah saja bukan wajib.

yogyakarta, syawal 1432 H
Abu Abdullah

Puasa-puasa Sunnah

In Ibadah on 10 Desember 2010 at 11:52

Pertanyaan
assalamu’alaikum,
mau nanya tentang puasa sunat, puasa sunat yang baik dikerjakan sehari-hari puasa apa aja? thanks.
(Tian – http://septianpurnama.blogspot.com/)
Senin Oktober 25, 2010 at 3:57 am

Jawaban

Wa’alaikum salam wr.wb.
1. Puasa 6 hari pada bulan Syawwal

Dari Abu Ayyub Al-Anshory bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّال كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkan dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

1.Puasa Syawal tidak boleh dilakukan pada hari yang dilarang berpuasa di dalamnya, yakni pada hari Idul Fitri.
2.Puasa tersebut tidak disyaratkan harus berurutan, sebagaimana kemutlakan hadits –hadits di atas, akan tetapi lebih utama bersegera dalam kebaikan.
3.Jika ada kewajiban mengqodo’ puasa Ramadhan maka dianjurkan mendahulukan qodo baru kemudian berpuasa Syawal 6 hari sebagaimana hadits dari Abu Ayyub Al-Anshori di atas.

2. Puasa pada hari Arafah bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَام ُيَوْمِ عَرَفَةَ أحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. وَالسَّنَةَ الّتِي بَعْدَهُ

“Puasa pada hari Arofah, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

Adapun bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, maka yang lebih utama adalah tidak berpuasa pada hari Arofah sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

3. Puasa pada hari Asyura’ (10 Muharrom) dan sehari sebelumnya

Dari Abu Qotadah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa pada hari ‘Asyuro’, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ

“Sungguh jika aku masih hidup sampai tahun depan aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan.” (HR. Muslim)

4. Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidaklah saya melihat beliau memperbanyak puasa dalam suatu bulan seperti banyaknya beliau berpuasa pada bulan sya’ban.” (HR. Bukhari)

1.Adapun mengkhususkan puasa atau amalan lainnya pada nisfu sya’ban (pertengahan sya’ban), maka hal ini tidak ada tuntunannya dalam syariat, karena dalil-dalil yang ada sangat lemah dan bahkan ada yang maudhu (palsu).
2.Hendaknya tidak berpuasa pada hari syak (hari yang meragukan apakah sudah masuk ramadhan atau belum), yakni sehari atau dua hari pada akhir Sya’ban, kecuali bagi seseorang yang kebetulan bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukannya dari puasa-pusa sunnah yang disyariatkan semisal puasa dawud atau puasa senin kamis.

5. Memperbanyak Puasa Pada Bulan Muharrom

Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

أفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَ أفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةِ صَلاةُ اللَيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yakni bulan Muharrom, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

6. Puasa Hari Senin dan Kamis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Amal-amal ditampakkan pada hari senin dan kamis, maka aku suka jika ditampakkan amalku dan aku dalam keadaan berpuasa.” (Shahih, riwayat An-Nasa’i)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari senin, beliau bersabda:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ. وَيَوْمٌ بُعِثْتُ (أَوْ أَنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ)

“Ia adalah hari ketika aku dilahirkan dan hari ketika aku diutus (atau diturunkan (wahyu) kepadaku ).” (HR. Muslim)

7. Puasa 3 hari setiap bulan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

أوْصَانِى خَلِيْلِى صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاثٍ: صِيَامِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَى الضُحَى، وَأَنْ أَوْترَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Artinya, ada yang mengatakan tanggal 13, 14 dan 15 bulan Islam (Qomariyah), yang disebut ayyamul bidh. Ada yang mengatakan bebas, yang tterpenting tiga hari dalam tiap bulan.

Sedangkan dalil yaumul bidh, adalah perkataan salah seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُوْمَ مِنَ الشَّهْر ِثَلاثَةَ أَيَّامِ البَيْضِ: ثَلاثَ عَشْرَةَ، وَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk berpuasa pada tiga hari ‘baidh’: tanggal 13, 14 dan 15.” (Hadits Hasan, dikeluarkan oleh An-nasa’i dan yang lainnya)

8. Berpuasa Sehari dan Berbuka Sehari (Puasa Dawud ‘alaihis salam)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا (متفق عليه)

“Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Nabi Dawud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Dawud, adalah beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya, adalah beliau berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Al-maktabah asy-smilah. Versi.3.9

(ustadz Muhammad Abdulloh Sholihun – Yogya)

Puasa Setiap Hari

In Ibadah on 5 Desember 2010 at 01:07

Pertanyaan:
Ada beberapa tante dan om saya yang menjalankan puasa setiap hari kecuali 5 hari raya saja. bagaimana pandangan syariat tentang ini?

Nita – Yogya

Jawaban:
justru puasa seperti itu tidak mengikuti sunnah, malah bernilai makruh, lebih baik ditinggalkan

لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَدَ

“Tidaklah dikatakan berpuasa orang yang berpuasa sepanjang masa (terus-menerus).” (HR. Bukhari No 1977 dan Muslim No 186)

قَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ بِمَنْ يَصُومُ الدَّهْرَ كُلَّهُ قَالَ لاَ صَامَ وَلاَ أَفْطَرَ

“Umar Berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berpuasa sepanjang masa? Beliau menjawab: “Ia tidak puasa dan tidak pula berbuka.” (HR. Muslim No 2803).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا ».

“Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan sholat yang paling disukai Allah adalah sholatnya Daud alaihissalam. Beliau tidur separuh malam dan bangun sepertiga malam dan tidur seperenam malam. Beliau sehari berpuasa dan sehari berbuka.” (HR. Bukhari No 3420 dan Muslim No 2796)

ustadz Ismeidas Makfiansah – Jakarta

Tuntunan Puasa Syawal

In Ibadah on 24 September 2010 at 12:19

Pertanyaan:
Ustadz, bagaimana tuntunan puasa dibulan syawal? (admin)

Jawaban:
Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu diikutinya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah seperti puasa sepanjang masa/tahun.” [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433,
At-Tirmidzi 1164]

Caranya Bisa Berurutan ataupun Tidak berurutan.

Menurut imam ahmad. Bisa dilakukan berurutan atau tidak, sama saja nilainya.
Dalam mazhab syafi’i juga dibenarkan berurutan atau tidak berurutan. Tp menurut mazhab syafi’i lebih mustahab atau lebih dianjurkan dan afdhol berurutan. Demikian juga menurut pendapat imam nawawi.

Puasa qodho dulu atau puasa syawal dulu:
Sebagian ulama mewajibkan qodho dulu sebelum puasa syawal, karena ada kalimat “berpuasa Ramadhan lalu diikutinya dengan 6 hari pada Syawal”
sehingga sempurnakan dahulu romadhonnya baru ikuti dengan puasa syawal…

(Ustadz Ismeidas Makfiansah, 17 September 2010)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.