tjislam

Archive for the ‘Fiqh’ Category

Terlalu pagi kah shalat shubuh di Indonesia?

In Fiqh, Ibadah, Tsaqafah on 2 Mei 2014 at 16:02

Banyak pertanyaan masuk kepada kami, baik sms, email, dan dalam majelis ta’lim. Mereka menanyakan tentang waktu subuh di Indonesia, yang menurut sebagian kecil kalangan terlalu pagi (masih gelap), sehingga mereka khawatir subuh mereka tidak sah, karena tidak tepat pada waktunya. Ini terjadi lantaran datangnya seorang syaikh dari timur tengah yang mempermasalahkan subuh di Indonesia yang terlalu pagi, lalu murid-muridnya latah ikut-ikutan menyalahkan. Padahal sudah puluhan bahkan ratusan syaikh timur tengah, dan mereka juga ulama, datang ke Indonesia sudah sejak puluhan tahun lalu, tetapi tidak mempermasalahkannya. Kenapa baru tahun-tahun belakangan dipermasalahkan?

Kita mengetahui bahwa Shalat adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya. Waktu-waktu itu, sudah diterangkan secara rinci dalam As Sunah, dan diisyaratkan pula dalam Al Quran.

Tak terkecuali shalat subuh. Shalat subuh dimulai dari terbitnya fajar shadiq (langit sudah mulai agak terang di ufuk secara merata) hingga terbitnya matahari. Hal ini berdasarkan hadits Jibril ‘Alaihissalam berikut (haditsnya cukup panjang, saya kutip bagian waktu shalat subuh saja):

ثُمَّ جَاءَهُ لِلصُّبْحِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا فصل فصلى العشاءفَصَلَّى الصُّبْحَ

“Kemudian dia (Jibril) mendatanginya untuk shalat subuh ketika langit terang, lalu dia berkata: “Bangunlah dan shalatlah!” maka Beliau (Rasulullah) melaksanakan shalat subuh.” (HR.  An Nasa’i No. 526 , Ahmad No. 14011, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 526)

Dalam hadits ini disebutkan: “Hiina asfara Jiddan” (ketika langit benar-benar menguning), maksudnya ketika langit benar-benar terang. Inilah yang disebut dengan fajar shadiq dan inilah dimulainya waktu subuh. Tetapi disukai untuk menyegerakannya.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

بتدئ الصبح من طلوع الفجر الصادق ويستمر إلى طلوع الشمس، كما تقدم في الحديث.

استحباب المبادرة لها

“Shalat subuh dimulai dari terbitnya fajar shadiq dan terus berlangsung hingga terbit matahari, sebagaimana yang telah lalu dijelaskan dalam hadits. Dan disukai untuk menyegerakannya.” . (Fiqhus Sunnah, 1/104. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Disunahkan untuk disegerakan, yakni ketika masih gelap berdasarkan riwayat shahih berikut:

Dari Abu Mas’ud Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

وَصَلَّى الصُّبْحَ مَرَّةً بِغَلَسٍ ثُمَّ صَلَّى مَرَّةً أُخْرَى فَأَسْفَرَ بِهَا ثُمَّ كَانَتْ صَلَاتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ التَّغْلِيسَ حَتَّى مَاتَ وَلَمْ يَعُدْ إِلَى أَنْ يُسْفِرَ

“Dan Beliau (Rasulullah) shalat subuh di saat gelap pada akhir malam, kemudian beliau shalat pada kesempatan lain  ketika mulai terang. Kemudian setelah itu shalat beliau dilakukan saat gelap dan itu dilakukannya sampai   wafat, dan Beliau tidak lagi melakukannya di waktu hari telah terang.” (HR. Abu Daud No. 394, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 394, s hadits ini juga diriwayatkan   oleh sahabat lainnya yakni Jabir  dengan sanad shahih, Abu hurairah  dengan sanad hasan, dan Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash  dengan sanad hasan)

Ada pihak yang menyalah-nyalahkan shalat subuh ketika masih gelap, padahal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga wafatnya, dan itulah yang mayoritas dilakukan di negeri-negeri muslim, dan itulah pendapat sebagian sahabat, seperti Umar, Utsman, Anas, Abu Hurairah, Ibnu Zubeir, Abu Musa, Ibnu Mas’ud, Abu Mas’ud, penduduk Hijaz, dan dikalangan imam kaum muslimin seperti Malik, Asy Syafi’I, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Al Auza’I, Daud, dan Abu Ja’far Ath Thabari.  Sayangnya dengan ringan kenyataan ini dikatakan oleh mereka sebagai pendapat yang keliru!  Namun, demikian kami tidak menyalahkan mereka, karena pendapat yang mengatakan bahwa ketika terang adalah lebih utama adalah pendapat sebagian salaf dan fuqaha, seperti Ali, Ibnu Mas’ud, Abu Hanifah dan sahabatnya,  Sufyan Ats Tsauri, dan mayoritas penduduk Iraq . Tetapi, sikap mereka yang menyalah-nyalahkan yang lain –padahal begitu kuat dalilnya- adalah sikap melampaui batas dan tidak mengetahui etika khilaf fiqih di antara ulama.  Dan, ini sungguh mengherankan!

Hadits di atas jelas-jelas menyebutkan Rasulullah Shalat subuh saat ghalas. Apakah ghalas? ghalas adalah akhir kegelapan malam. Imam Ibnul Atsirmengatakan ghalas adalah kegelapan malam bagian akhir ketika akan bercampur dengan terangnya pagi. (‘Aunul Ma’bud, 2/45. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Perhatikan  ucapan Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi Rahimahullah ketika mensyarah hadits di atas:

وَالْحَدِيث يَدُلّ عَلَى اِسْتِحْبَاب التَّغْلِيس وَأَنَّهُ أَفْضَل مِنْ الْإِسْفَار وَلَوْلَا ذَلِكَ لَمَا لَازَمَهُ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى مَاتَ ، وَبِذَلِكَ اِحْتَجَّ مَنْ قَالَ بِاسْتِحْبَابِ التَّغْلِيس . وَقَدْ اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي ذَلِكَ فَذَهَبَ مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد وَإِسْحَاق وَأَبُو ثَوْر وَالْأَوْزَاعِيُّ وَدَاوُدُ وَأَبُو جَعْفَر الطَّبَرِيُّ وَهُوَ الْمَرْوِيّ عَنْ عُمَر وَعُثْمَان وَابْن الزُّبَيْر وَأَنَس وَأَبِي مُوسَى وَأَبِي هُرَيْرَة إِلَى أَنَّ التَّغْلِيس أَفْضَل وَأَنَّ الْإِسْفَار غَيْر مَنْدُوب ، وَحَكَى هَذَا الْقَوْل الْحَازِمِيُّ عَنْ بَقِيَّة الْخُلَفَاء الْأَرْبَعَة وَابْن مَسْعُود وَأَبِي مَسْعُود الْأَنْصَارِيّ وَأَهْل الْحِجَاز ، وَاحْتَجُّوا بِالْأَحَادِيثِ الْمَذْكُورَة فِي هَذَا الْبَاب وَغَيْرهَا ، وَلِتَصْرِيحِ أَبِي مَسْعُود فِي هَذَا الْحَدِيث بِأَنَّهَا كَانَتْ صَلَاة النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّغْلِيس حَتَّى مَاتَ وَلَمْ يَعُدْ إِلَى الْإِسْفَار . وَقَدْ حَقَّقَ شَيْخنَا الْعَلَّامَة السَّيِّد مُحَمَّد نَذِير حُسَيْن الْمُحَدِّث هَذِهِ الْمَسْأَلَة فِي كِتَابه مِعْيَار الْحَقّ : وَرَجَّحَ التَّغْلِيس عَلَى الْإِسْفَار وَهُوَ كَمَا قَالَ . وَذَهَبَ الْكُوفِيُّونَ أَبُو حَنِيفَة رَضِيَ اللَّه عَنْهُ وَأَصْحَابه وَالثَّوْرِيُّ وَالْحَسَن بْن حَيّ ، وَأَكْثَر الْعِرَاقِيِّينَ وَهُوَ مَرْوِيّ عَنْ عَلِيّ وَابْن مَسْعُود إِلَى أَنَّ الْإِسْفَار أَفْضَل .

“Hadits ini menunjukkan bahwa disunahkannya (shalat subuh) pada saat gelap, dan ini lebih afdhal dibanding ketika terang. Seandainya tidak demikian, mengapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merutinkannya hingga beliau wafat, dan dengan inilah hujjah orang-orang yang mengatakan disukainya waktu gelap (akhir malam). Para ulama telah berbeda pendapat dalam hal ini. Pendapat Imam Malik, Syafi’I, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Al Auza’i, Daud, Abu Ja’far Ath Thabari, dan pendapat ini juga diriwayatkan dari Umar, Utsman, Ibnu Zubeir, Anas, Abu Musa Al Asy’ari, dan Abu Hurairah, bahwa ketika gelap adalah lebih utama, sedangkan ketika terang tidaklah dianjurkan (ghairu mandub).   Secara kuat disebutkan bahwa ini juga pendapat khulafa’ur rasyidin lainnya, juga Ibnu Mas’ud, Abu Mas’ud Al Anshari, dan penduduk Hijaz. Mereka berhujjah dengan hadits-hadits yang telah disebutkan dalam masalah ini dan hadits lainnya, dan juga penjelasan Abu Mas’ud dalam hadits ini bahwa shalatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dalam keadaan gelap (At Taghlis) dilakukannya sampai beliau wafat, dan dia tidaklagi melakukan dalam keadaan terang. Syaikh kami Al ‘Allamah As Sayyid Muhammad Nadzir Husain telah meneliti masalah ini dalam kitabnya, Mi’yar Al Haq: Bahwa beliau menguatkan shalat ketika gelap dibanding terang, dan  pendapat itu sebagaimana yang dikatakan. Ada pun kalangan Kuffiyyin (penduduk kufah), seperti Abu Hanifah dan para sahabatnya, Ats Tsauri, Al Hasan bin Hay, kebanyakan penduduk Iraq, dan itu juga diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Mas’ud, bahwa shalat ketika terang adalah lebih utama.” (‘Aunul Ma’bud, 2/45. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:

وإنما فعله في بعض الأحيان لبيان الجواز ولبيان أن ذلك سائغ، ولكن الذي داوم عليه والمعروف من فعله صلى الله عليه وسلم أنه كان يصليها بغلس.

“Sesungguhnya perbuatan Nabi pada sebagian waktu (melakukan saat terang) sebagai penjelas kebolehannya dan menjelaskan bahwa hal itu mudah, tetapi yang menjadi rutinitasnya dan diketahui sebagai perbuatannya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bahwa Beliau shalat subuh pada saat masih gelap.” (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud No. 60. Maktabah lMisykah)

Demikian. Wallahu A’lam

Penulis: Farid Nu’man Hasan

Sumber: Islamedia  05/02/2014

Kumpulan Fatwa Tentang Natal

In Aqidah, Fiqh, Muamalah, Tsaqafah on 25 Desember 2013 at 12:45

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA

Memperhatikan:

  1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.
  2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalam kepanitiaan Natal.
  3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan Ibadah.

Menimbang:

  1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.
  2. Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.
  3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah Swt.
  4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar ummat Beragama di Indonesia.

Meneliti kembali:
Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:

  1. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas Al Hujarat: 13; Lukman:15; Mumtahanah: 8 *).
  2. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain, berdasarkan Al Kafirun: 1-6; Al Baqarah: 42.*)
  3. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasula Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi yang lain, berdasarkan: Maryam: 30-32; Al Maidah:75; Al Baqarah: 285.*)
  4. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan: Al Maidah:72-73; At Taubah:30.*)
  5. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan kepada Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab Tidak. Hal itu berdasarkan atas Al Maidah: 116-118.*)
  6. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt itu hanya satu, berdasarkan atas: Al Ikhlas 1-4.*)
  7. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin Basyir (yang artinya): Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah Agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin sekali binatang itu makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).

Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:

  1. Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
  2. Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
  3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Swt dianjurkan untuk (dalam garis miring): tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H/ 7 Maret 1981 M.
KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua (K.H.M. Syukri Ghozali),
Sekretaris (Drs. H. Masudi)

——–
*) Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar Al Quraan yang disebutkan tadi ditulis lengkap dalam Bhs Arab dan terjemahannya, Bhs Indonesia.

dikutip dari: http://nu4pabuaran.wordpress.com/ & http://eramuslim.com/

Syaikh Yusuf Qardhawi

Qardhawi menjelaskan : “ saya tidak mengingkari umat nashrani di negeri mereka merayakan hari raya mereka, bahkan saya mempunyai fatwa yeng membolehkan ucapan selamat kepada umat nashrani dalam hari raya Natal, dimana ini bertentangan dengan apa yang difatwakan oleh Ibnu Taimiyah yang mengatakan ketidak bolehan hal tersebut, dan banyak ulama di Saudi dan negara-negara teluk yang merujuk pada fatwa (haram) tersebut”

Qardhawi merincikan bahwa kebolehan ucapan selamat dalam fatwanya itu berlaku pada tetangga atau sahabat non muslim, karena hal tersebut termasuk dalam pintu kebajikan yang tidak dilarang oleh Allah SWT dalam ayat Mumtahanah 8 : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Meskipun demikian, beliau tetap mengingkari sikap berlebihan sebagian kaum muslimin dalam perayaan hari raya non muslim. Qardhawi menyatakan : “ akan tetapi saya telah memperingatkan dalam salah satu khutbah jumat saya sekitar dua pekan sebelumnya, bahwasanya sebagain kaum muslimin bersikap berlebihan dalam perayaan Natal, padahal mereka bukanlah umat kristen, dan masyarakat kita bukanlah masyarakat kristen, dan (anehnya) mereka tidak melakukan hal yang sama saat Iedul Fithri dan Iedul Adha .. “

Qardhawi melanjutkan : “karena itulah saya mengingkari hal tersebut, khususnya setelah Swiss melarang adzan yang tidak mengganggu seorangpun, begitu pula Perancis yang melakukan survei yang memunculkan angka 40% dari orang perancis mengatakan : seharusnya yang dilarang adalah masjid bukan adzan saja !! . Inilah yang mereka lakukan , sementara kita di negeri kita ikut merayakan hari Natal dengan batas-batas tertentu ..

sumber: http://info-qardhawi.blogspot.com

Lembaga Riset dan Fatwa Eropa

Juga membolehkan pengucapan selamat ini jika mereka bukan termasuk orang-orang yang memerangi kaum muslimin khususnya dalam keadaan dimana kaum muslimin minoritas seperti di Barat. Setelah memaparkan berbagai dalil, Lembaga ini memberikan kesimpulan sebagai berikut : Tidak dilarang bagi seorang muslim atau Markaz Islam memberikan selamat atas perayaan ini, baik dengan lisan maupun pengiriman kartu ucapan yang tidak menampilkan simbol mereka atau berbagai ungkapan keagamaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam seperti salib. Sesungguhnya Islam menafikan fikroh salib, firman-Nya :

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا ﴿١٥٧﴾

Artinya : “Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (QS. An Nisaa : 157)

Kalimat-kalimat yang digunakan dalam pemberian selamat ini pun harus yang tidak mengandung pengukuhan atas agama mereka atau ridho dengannya. Adapun kalimat yang digunakan adalah kalimat pertemanan yang sudah dikenal dimasyarakat.

Tidak dilarang untuk menerima berbagai hadiah dari mereka karena sesungguhnya Nabi saw telah menerima berbagai hadiah dari non muslim seperti al Muqouqis Pemimpin al Qibthi di Mesir dan juga yang lainnya dengan persyaratan bahwa hadiah itu bukanlah yang diharamkan oleh kaum muslimin seperti khomer, daging babi dan lainnya.

Diantara para ulama yang membolehkan adalah DR. Abdus Sattar Fathullah Sa’id, ustadz bidang tafsir dan ilmu-ilmu Al Qur’an di Universitas Al Azhar, DR. Muhammad Sayyid Dasuki, ustadz Syari’ah di Univrsitas Qatar, Ustadz Musthafa az Zarqo serta Syeikh Muhammad Rasyd Ridho.

sumber: http://www.eramuslim.com/ dari http:// http://www.islamonline.net/

Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’

Di dalam bank fatwa situs www.Islamonline.net Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’, menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.

Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut jenazah tersebut.

Sehingga menurut beliau, ucapan tahni’ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.

Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni’ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.

Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni’ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.

Dr. Ali Jumah (Mantan Mufti Dar-Ifta’ Mesir)

Dalam video resmi Dar-Ifta’ Mesir, beliau secara tegas bahwa mengucapkan Tahniah kepada Nasrani (Masihi) untuk hari raya mereka, termasuk natal yang mereka anggap itu wafatnya Isa ‘Alaihisalam, itu dibolehkan.

Dalil yang digunakan oleh beliau mirip dengan apa yang disampaikan oleh DR. Yusuf Al-Qaradhawi atau juga Sheikh Mustafz Al-Zarqa’, dan juga spertinya Prof. DR Quraish Shibah dalam bukunya “Quraish Shihab Menjawab” itu juga mengikuti fatwanya DR. Ali Jumah dalam berargumen.

Sumber:  Rumah Fiqh

Habib Munzir Al Musawwa (Pemimpin Majelis Rasulullah SAW)

Habib Munzir Al Musawwa menyatakan mengenai Natal sebagai berikut:

“Mengenai ucapan Natal, hal itu dilarang dan haram hukumnya jika diniatkan untuk memuliakan agama lain, namun jika diniatkan untuk menjalin hubungan baik agar mereka tertarik pada islam atau tidak membenci islam, maka hal itu ada sebagian ulama yg memperbolehkan”, kata Habib Munzir dalam situs resmi Majelis Rasulullah SAW.

Mengucapkan selamat untuk menyambut kemuliaan agama lain haram hukumnya secara mutlak. Namun, jika tidak untuk memuliakan agama lain, seperti ingin mempererat hubungan dengan mereka, apakah itu keluarga atau teman, atau siapapun agar mereka tertarik pada kebaikan dan keramahan agama Islam maka hal ini khilaf, sebagian ulama memperbolehkan dan sebagian tetap mengharamkan, kelompok yang membolehkan ucapan Natal / tahun baru / waisak dan sebagainya jika betul betul diyakini perbuatan itu bisa membuatnya tertarik pada Islam. Toh kita sama sekali tak memuliakan selain Allah SWT. Jika ragu, maka lebih baik jangan dilakukan.

Beliau juga menambahkan bahwa masalah ini adalah masalah sikon dan kekuatan iman, seseorang jika mengucapkan selamat hari Natal pada nasrani tidak berarti ia murtad dan kufur, kecuali jika didasari pengakuan atas trinitas dan atau agama mereka, namun kebiasaan ini baiknya ditinggalkan oleh muslimin dan bukan dilestarikan terkecuali bermaksud mengambil simpatinya kepada Islam.

SYAIKH WAHBAH AL ZUHAILI

Syaikh Wahbah Al Zuhaili mengatakan seputar Natal sebagai berikut:

Tidak ada halangan dalam bersopan santun (mujamalah) dengan orang Nasrani menurut pendapat sebagian ahli fiqh berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas (kebenaran) ideologi mereka.

Prof. DR. HM Din Syamsuddin MA (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. DR. HM Dien Syamsuddin MA seperti yang tertulis dari website Hidayatullah tertanggal 11 Oktober 2005 menyatakan bahwa “MUI Tidak Larang Ucapan Selamat Natal”. Pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini disampaikan dalam “Seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim” yang digelar di Surabaya pada 10 Oktober 2005. Dien Syamsuddin yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum MUI Pusat waktu itu menyatakan MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen/ritual Natal.

“Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam,” kata Dien Syamsuddin.

Pada tanggal 24 Desember 2007, Dien Syamsuddin justru  mempersilahkan ucapan selamat Natal dan bahkan hadir dalam perayaan Natal yang sifatnya seremoni. Hal ini diungkapkan Dien Syamsuddin dalam jumpa pers bersama Ketua Panitia Peringatan Natal Nasional 2007 Mari Elka Pangestu, di Gedung PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta, juga.

 ”Yang sifatnya seremoni, tidak seharusnya dihindari. Apalagi Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin. Jadi saya secara pribadi tidak melarang umat Islam untuk mengucapkan selamat Natal dan menghadiri perayaan Natal,” kata Dien Syamsudin.

Dien Syamsuddin  menambahkan, fatwa yang dikeluarkan seniornya (Buya Hamka) ketika menjabat Ketua MUI pada saat itu hanyalah fatwa yang berdimensi pada pelarangan untuk menghadiri kebaktian atau sakramen. Menurut dia, ucapan selamat Natal adalah bagian dari upaya menghargai, bersimpati, dan berempati pada umat Kristiani. Tapi bukan berarti kita setuju dengan keyakinan mereka.

Jadi MUI tidak pernah mengeluarkan larangan untuk mengucapkan selamat Natal. Bahkan, dalam buku “Himpunan Fatwa MUI Sejak Tahun 1975″  setebal 962 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Erlangga tahun 2011 sama sekali tidak ditemukan fatwa resmi tentang ucapan selamat Natal. Yang ada adalah fatwa tentang perayaan Natal bersama (ritual keagamaan) yang diharamkan dan bukan ucapan selamat Natal.

KESIMPULAN: Tidak ada fatwa resmi MUI tentang larangan ucapan selamat Natal, tetapi yang ada adalah larangan untuk mengikuti perayaan ritual Natal bersama.

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj (Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama)

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan ucapan Natal boleh saja disampaikan kepada umat Kristiani demi kerukunan umat beragama. Said Aqil Siradj juga me­ngatakan dirinya selalu me­ngucapkan Natal kepada tetang­ga­nya yang umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Kalau yang dilarang itu adalah ikuti ritualnya seperti yang dilakukan umat Kristiani. Nah itu yang tidak boleh. Kalau ucapkan selamat saja, menurutnya tidak salah.

Kang Said juga melanjutkan bahwa ucapan itu sebagai upaya men­jaga dan memperkuat tali persau­daraan antar umat beragama. Kita tidak bisa membangun Ukhuwah Islamiah tanpa menghargai keberadaan agama lainnya. Kalau dibiarkan dan berhenti pada Ukuwah Islamiah saja, kita akan menjadi ekstrim, tertutup, eksklusif. Malah bisa jadi radikal. Dia berharap Ukhuwah Islamiah dibangun dengan ukhuwah watoniah.

Sumber: http://www.elhooda.net

Khitan Wanita

In Fiqh, Tsaqafah on 13 Desember 2013 at 20:06

PERTANYAAN

Bagaimana hukum Islam mengenai khitan bagi anak-anak perempuan?

JAWABAN

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama bahkan oleh para dokter sendiri, dan terjadi perdebatan panjang mengenai hal ini di Mesir selama beberapa tahun.

Sebagian dokter ada yang menguatkan dan sebagian lagi menentangnya, demikian pula dengan ulama, ada yang menguatkan dan ada yang menentangnya. Barangkali pendapat yang paling moderat, paling adil, paling rajih, dan paling dekat kepada kenyataan dalam masalah ini ialah khitan ringan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits – meskipun tidak sampai ke derajat sahih – bahwa Nabi saw. pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan wanita ini, sabdanya: “Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, kerana hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.”

Yang dimaksud dengan isymam ialah taqlil (menyedikitkan), dan yang dimaksud dengan laa tantahiki ialah laa tasta’shili (jangan kau potong sampai pangkalnya). Cara pemotongan seperti yang dianjurkan itu akan menyenangkan suaminya dan mencerahkan (menceriakan) wajahnya, maka inilah barangkali yang lebih cocok.

Mengenai masalah ini, keadaan di masing-masing negara Islam tidak sama. Artinya, ada yang melaksanakan khitan wanita dan ada pula yang tidak. Namun bagaimanapun, bagi orang yang memandang bahwa mengkhitan wanita itu lebih baik bagi anak-anaknya, maka hendaklah ia melakukannya, dan saya menyepakati pandangan ini, khususnya pada zaman kita sekarang ini. Akan hal orang yang tidak melakukannya, maka tidaklah ia berdosa, kerana khitan itu tidak lebih dari sekadar memuliakan wanita, sebagaimana kata para ulama dan seperti yang disebutkan dalam beberapa atsar.

Adapun khitan bagi laki-laki, maka itu termasuk syi’ar Islam, sehingga para ulama menetapkan bahwa apabila Imam (kepala negara Islam) mengetahui warga negaranya tidak berkhitan, maka wajiblah ia memeranginya sehingga mereka kembali kepada aturan yang istimewa yang membedakan umat Islam dari lainnya ini.

Syaikh Yusuf Qardhawi

Sumber: Islam2u.net

Hukum KPR

In Fiqh, Muamalah, Tsaqafah on 12 September 2013 at 11:38

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr wb. Ustadz, bagaimana hukum KPR dari bank konvensional. Setahu saya bank tersebut yang membeli cash rumah yang diinginkan dan nasabah membayar secara cicil harga yang disepakati, tetapi bank konvensional secara terang-terangan menyebutkan adanya bunga? Afwan ustadz sekiranya pertanyaan ini pernah diungkap.

Jazakallah khairon katsiro Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(Bambang)

Jawaban

Assalamu `alaikum Wr. Wb. Dalam masalah ini yang harus Anda pastikan adalah harga beli rumah itu dari pihak Anda ke pihak bank. Apakah harga itu sudah bisa dipastikan besarnya dan tidak berubah, atau masih bersifat tentatif tergantung masa angsuran dan sebagainya. Bila harga total angsuran yang harus Anda bayar itu sudah pasti (fixed) misalnya 100 juta net, maka hal itu bukan riba. Tapi kalau nilai total angsurannya masih belum pasti, maka sebenarnya disitulah letak riba-nya.

Jadi coba jelaskan apa yang dimaksud dengan BUNGA dalam transaksi Anda itu? Dan bagsaimana sistemnya? Apakah bunga yang dimaksud adalah bunga yang harus dibayarkan kepada bank berdasarkan hutang kita kepada bank? Bila memang benar demikian, maka jelaslah ini sebuah praktek ribawi, karena pada dasarnya sama saja Anda meminjam uang ke pihak bank dan Anda wajib membayarkannya plus bunganya. Sedangkan yang dibenarkan dalam Islam adalah Anda meminta bank membelikan rumah untuk Anda dan dijual kepada Anda dengan harga yang lebih mahal dari harga awal.

Misalnya, bank membeli rumah itu dari pihak lain seharga Rp. 70 juta lalu rumah itu dijual kepada Anda dengan harga fix Rp 100 juta. Maka Anda harus membayar dengan angsuran selama 3 tahun. Praktek ini disebut sebagai akad murabahah atau juga ba`i bittaqshid. Praktek ini dibenarkan dalam Islam. Yang penting harganya pasti dan fix, sedangkan nilai pertambahan atau keuntungan Rp 30 juta memang hak dari pihak bank sebagai jasa penjualan.

Wallahu a`lam bis-shawab. Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

sumber: syariah online

Seputar Tarawih

In Fiqh, Tsaqafah on 3 Agustus 2013 at 06:55

Shalat Tarawih di zaman Nabi dan Shahabat

Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihain meriwayatkan hadis dari Aisyah RA bahwa pada suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah SAW keluar menuju masjid untuk mendirikan shalat malam. Lalu datanglah beberapa sahabat dan bermakmum di belakang beliau. Ketika Shubuh tiba, orang-orang berbincang-bincang mengenai hal tersebut. Pada malam selanjutnya, jumlah jamaah semakin bertambah daripada sebelumnya. Demikianlah seterusnya pada malam-malam berikutnya. Hal itu berlanjut hingga tiga malam. Pada malam keempat, masjid menjadi sesak dan tak mampu menampung seluruh jamaah. Namun Rasulullah SAW tak kunjung keluar dari kamarnya. Hingga fajar menyingsing, Rasulullah SAW baru keluar untuk menunaikan shalat Shubuh. Selepas itu beliau berkhutbah, “Amma Ba’d. Saya telah mengetahui kejadian semalam. Akan tetapi saya khawatir shalat itu akan diwajibkan atas kalian sehingga kalian tidak mampu melakukannya.”

Untuk selanjutnya shalat Tarawih tidak dikerjakan secara berjama’ah. Kondisi seperti ini berjalan hingga Rasulullah SAW wafat,  masa pemerintahan khalifah Abu Bakar dan awal pemerintahan sayyidina Umar. Barulah setelah berjalan beberapa waktu,  khalifah Umar bin Al-Khattab ra.  Memerintahkan agar shalat Tarawih dikerjakan secara berjama’ah, tepatnya pada tahun ke-4 Hijriah. Beliau menunjuk Ubay bin Kaab sebagai imamnya. Khalifah Umar lalu berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (HR. Al-Bukhari). Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa ada satu shahabat yang menentang  kebijakan khalifah Umar ketika itu. Maka dengan sendirinya dikatakan bahwa shalat Tarawih dengan berjamaah merupakan ijma’ para shahabat. Dan ijma’ merupakan salah satu sumber syariah yang disepakati.

Para ahlu fiqih secara jumhur bersepakat menarik kesimpulan tidak berjamaahnya Nabi Saw dalam shalat Tarawih bukan bersifat menasakh hukum kesunnahan Tarawih berjamaah. Tetapi memberi dasar hukum kebolehan shalat Tarawih dilakukan tidak berjamaah karena adanya alasan tertentu. Meskipun yang lebih utama adalah dikerjakan secara berjama’ah.

 

Shalat Tahajud Setelah Shalat Tarawih

Bagaimana cara pelaksanaannya? Bisa dengan memilih salah satu dari tiga cara:

Cara Pertama:

Tetap mengikuti shalat Tarawih dengan imam di masjid sampai selesai berikut shalat witirnya. Kemudian melanjutkan shalat tahajud di malam harinya tanpa ditutup dengan shalat witir. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

Tidak ada shalat dua witir dua kali dalam satu malam.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasa’i).

Tetapi, bolehkah melakukan shalat setelah shalat witir? Boleh, dalilnya adalah hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:

أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّى  رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ وَهُوَ جَالِسٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengerjakan shalat dua rakaat setelah witir dalam keadaan beliau duduk.” (HR. Muslim).

Cara Kedua:

Tetap mengikuti shalat tarawih dengan imam di masjid sampai selesai berikut shalat witirnya. Namun, setelah imam menyelesaikan shalatnya dengan salam, dia tidak ikut salam, tetapi berdiri lagi untuk menggenapkan rakaat agar tidak terhitung shalat witir. Kemudian dia melanjutkan shalat tahajud di malam harinya dan ditutup  dengan shalat witir.

Dalam hal ini dia telah melaksanakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

اِجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ  وِتْرًا

“Jadikan akhir shalat malammu dengan melakukan shalat witir.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Cara Ketiga

Meninggalkan shalat jamaah ketika imam hendak melakukan shalat witir, kemudian melanjutkan shalat tahajud di malam harinya dan ditutup  dengan shalat witir. Namun orang yang melaksanakan cara yang ketiga ini telah kehilangan keutamaan shalat berjamaah bersama imam sampai selesai.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لًهُ قِيَامُ لَيْلَة

“Barangsiapa yang shalat (Tarawih) bersama imam sampai selesai maka akan dihitung shalat malam secara penuh.” (Hadits shahih, Riwayat Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah).

 

Disusun dan diedit oleh Abu Muhammad dari tulisan:

Ahmad Syahrin Thoriq di Al Bayan

Dr. Ahmad Zain An Najah di Fimadani

Membaca basmallah dalam shalat: jahr atau sir?

In Fiqh, Ibadah, Tsaqafah on 11 Juni 2013 at 00:47

Pertanyaan:

aslm.afwan ust, membaca basmalah dalam surat Al fatihah apakah jahr (keras) atau sirr (mengecilkan suara) ust? mhon penjelasanya. Jzklh (Azhar)

Jawaban:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Man waalah wa Ba’d:

Pertanyaan ini kami jawab dari Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, beliau menjelaskan: “Ada pun yang terkait dengan menjaharkan Basmalah, maka perinciannya adalah sebagai berikut: bagi yang berpendapat bahwa Basmalah BUKAN bagian dari surat Al Fatihah maka mereka tidak menjaharkan, begitu juga menurut pihak yang mengatakan Basmalah adalah termasuk bagian ayat awal darinya. Ada pun bagi kelompok yang mengatakan bahwa Basmalah adalah termasuk bagian dari surat-surat di bagian awalnya. Maka mereka berbeda pendapat dalam hal ini.

Imam Asy Syafi’i Rahimahullah berpendapat bahwa Basmalah DIJAHARKAN (dikeraskan), juga pada surat lainnya. Inilah pendapat banyak golongan dari sahabat tabi’in, para imam kaum muslimin, baik salaf dan khalaf. Dari kalangan sahabat yang menjaharkan adalah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Muawiyah. Ibnu Abdil Bar dan Al Baihaqi menceritakan bahwa ini juga dilakukan Umar dan Ali. Sedangkan Al Khathib menukil dari khalifah yang empat yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Tapi riwayat ini gharib (asing/menyendiri). Dari kalangan tabi’in adalah Said bin Jubeir, Ikrimah, Abu Qilabah, Az Zuhri, Ali bin Al Husein dan anaknya Muhammad, Said bin Al Musayyib, Atha, Thawus, Mujahid, Salim, Muhammad bin Ka’ab Al Qurzhi, Abu Bakar bin Amru bin Hazm, Abu Wail, Ibnu Sirin, Muhammad bin Al Munkadir, Ali bin Abdullah bin Abbas dan anaknya Muhammad, Nafi’, Zaid bin Aslam, Umar bin Abdul Aziz, Al Azraq bin Qais, Habib bin Abi Tsabit, Abu Sya’ tsa’, Makhul, dan Abdullah bin Ma’qil bin Muqarrin. Imam Al Baihaqi menambahkan: Abdullah bin Shafwan dan Muhammad bin Al Hanafiyah. Sementara Imam Ibnu Abdil Bar menambahkan: Amru bin Dinar. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 1/117)

Demikianlah, sangat banyak para sahabat, tabi’in dan imam kaum muslimin yang berpendapat dikeraskannya membaca Basmalah ketika shalat. Dalil-dalil mereka adalah:

- Imam An Nasa’i dalam Sunannya, Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya masing-masing, Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya; dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa beliau shalat dan dia mengeraskan membaca Basmalah, lalu setelah shalat selesai, dia berkata: “Sesungguhnya saya menyerupakan untuk kalian shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Hadits ini dishahihkan oleh Ad Daruquthni, Al Khathib, Al Baihaqi, dan lainnya)

- Imam Al Hakim meriwayatkan dalam Al Mustadraknya, dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengeraskan membaca Bismillahirrahmanirrahim. (Katanya: hadits ini shahih)

- Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, meriwayatkan bahwa Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu ditanya tentang bacaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia menjawab:“Adalah bacaan Beliau itu diberikan jarak yang panjang, kemudian dia membaca Bismillahirrahmanirrahim, dengan memanjangkan Bismillah, memanjangkan Ar Rahman dan memanjangkan Ar Rahim. (juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi No. 2451, Ibnu Majah No. 4215)

- Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Abu Daud dalam Sunannya, Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan Imam Al Hakim dalam Al Mustadaraknya, meriwayatkan: dari Ummu Salamah, dia berkata: “Bahwa Shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca dengan diputus-putus; Bismillahirrahmanirrahim. Al Hamdulillahirabbil ‘alamin. Ar Rahmanirrahim. Malikiyaumiddin.” (Imam Ad Daruquthni mengatakan: isnad hadits ini shahih)

- Imam Asy Syafi’i dalam Musnadnya dan Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya meriwayatkan dari Anas Radhiallahu ‘Anhu; bahwa Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu shalat di Madinah dan dia tidak membaca Basmalah (mengecilkan suara), lalu orang Muhajirin yang hadir mengingkarinya, maka ketika dia shalat untuk kedua kalinya, maka dia membaca bismillah.”

- Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya menyebutkan dari Nu’aim bin Al Majmar katanya: Aku Shalat dibelakang Abu Hurairah, dia membaca Bismillahirrahmanirrahim kemudian membaca Ummul Kitab, hingga sampai Wa Ladhdhaallin, dia menjawab: Amin, dan manusia menjawab: Amin.” (HR. Ibnu Khuzaimah No. 499, Berkata Syaikh Al Abani: Al A’zhami berkata: sanadnya shahih seandainya Ibnu Abi Hilal tidak tercampur (hapalannya))

Demikianlah diantara dalil yang ada bagi kalangan yang mengatakan bahwa membaca Basmalah adalah dikeraskan. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah nampaknya memilih pendapat ini dengan menyebutnya sebagai: “hujjah yang mencukupi dan memuaskan.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/118)

Kelompok yang lain mengatakan bahwa membaca Basmalah TIDAK DIJAHRKAN.

Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

وذهب آخرون إلى أنه لا يجهر بالبسملة في الصلاة، وهذا هو الثابت عن الخلفاء الأربعة وعبد الله بن مغفل، وطوائف من سلف التابعين والخلف، وهو مذهب أبي حنيفة، والثوري، وأحمد بن حنبل.

“Pendapat kelompok yang lainnya adalah bahwa tidaklah mengeraskan Basmalah dalam shalat. Dan, ini telah pasti (tsabit) dari khalifah yang empat dan Abdullah bin Mughaffal, dan banyak kelompok dari pendahulu tabi’in dan khalaf. Ini juga pendapat Abu Hanifah, Ats Tsauri, dan Ahmad bin Hambal.” (Ibid)

Kelompok ini berdalil sebagai berikut:

- Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman memulai bacaan dalam shalatnya dengan Alhamdulillahirabbil ‘alamin. (HR. Abu Daud No. 782. Syaikh Al Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 782)

- Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Saya telah shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan tak satu pun dari mereka yang mengeraskan bacaan Basmalah.” (HR. An Nasa’i No. 907, Syaikh Al Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 907. Juga Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 495)

- Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Adalah shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka memulainya dengan membaca: Al Hamdulillahirrabbil ‘alamin.” (HR. At Tirmidzi No. 246, katanya: hasan shahih. Syaikh Al Albani menyatakan shahih dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 246)

- Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai shalat dengan bertakbir lalu membaca: Alhamdulillahirabbil ‘Alamin.” (HR. Abu Daud No. 783, Syaikh Al Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 783)

Demikianlah dalil-dalil bagi kelompok yang menyatakan bahwa membaca Basmalah tidak dikeraskan. Sementara Imam Malik berpendapat bahwa dalam shalat TIDAKLAH MEMBACA SAMA SEKALI bacaan Basmalah, baik keras (jahran) atau pelan (sirran). Beliau beralasan bahwa hadits-hadits di atas bukan menunjukkan sirr (pélan), tetapi memang Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak membaca Basmalah. Alasan lainnya adalah:

- Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah membaca Bismillahirrahmanirrahim, baik di awal dan di akhirnya. Yang seperti ini juga diriwayatkan dalam berbagai kitab Sunan dari Abdullah bin Mughaffal Radhiallahu ‘Anhu.

Tetapi, pendapat Imam Malik ini dianggap lemah, sebab dalam hadits-hadits di atas jelas sekali disebutkan kalimat: tak satu pun dari mereka yang mengeraskan bacaan Basmalah, artinya Basmalah tetaplah dibaca tetapi tidak keras. Ada pun hadits yang menyebutkan bahwa Nabi tidak membaca Basmalah, mesti ditakwil dan dikompromi dengan hadits lain, yakni Beliau bukanlah tidak membaca tetapi membacanya, hanya saja suaranya pelan seakan bagi pendengar tidak membacanya. Wallahu A’lam

Nah, dengan demikian ada dua pendapat yang kuat dan sama-sama ditopang oleh dalil-dalil yang shahih, yakni pendapat Pertama. membaca Basmalah secara keras. Pendapat kedua, membacanya secara pelan. Kedua kelompok ini berdalil dengan hujjah yang sama-sama shahih, dan satu sama lain tidaklah dianggap merevisi (nasakh) yang lainnya, atau dianggap riwayat dhaif.

Maka, pandangan yang paling seimbang adalah: Bahwa BENAR Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengeraskan Basmalah sebagaimana yang diriwayatkan secara shahih oleh sahabat yang melihat dan mendengarnya seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ummu Salamah, dan BENAR pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memelankan Basmalah sebagaimana yang diriwayatkan secara shahih pula dari sahabat yang melihat dan mendengarnya seperti Anas bin Malik dan ‘Aisyah. Jadi, keduanya adalah benar.

Inilah metode yang ditempuh oleh para ulama muhaqqiq (peneliti) seperti ‘Alim Rabbani Al ‘Allamah Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah. Beliau berkata:

والإِنصاف الذي يرتضيه العالم المنصف، أنه صلى الله عليه وسلم جهر، وأسر، وقنت،

وترك، وكان إسرارُه أكثَر من جهره، وتركه القنوتَ أكثر من فعله

“Pendapat yang bijak yang dibenarkan oleh para ulama yang objektif adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membaca secara keras dan pelan, pernah berqunut dan pernah meninggalkannya. Hanya saja memelankannya lebih banyak dibanding mengeraskannya, dan meninggalkan qunut lebih banyak dibanding melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, 1/272. Cet. 3. 1986M-1406H. Muasasah Ar Risalah. Beirut – Libanon)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

فهذه مآخذ الأئمة، رحمهم الله، في هذه المسألة وهي قريبة؛ لأنهم أجمعوا على صحة صلاة من جهر بالبسملة ومن أسر، ولله الحمد والمنة

Inilah jalannya para imam –Rahimahumullah- dalam masalah ini dan ini merupakan masalah yang bisa didekatkan, karena mereka sepakat bahwa sahnya shalat bagi yang mengeraskan dan memelankan. Walillahilhamd wa Minnah . (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/118)

Demikian pembahasan ini. Dari sini semoga kita bisa lebih arif dalam menyikapi bacaan Basmalah ini. Membacanya, baik dikeraskan atau tidak, bukanlah bab permasalahan salah atau benar, sunah atau bid’ah. tetapi, keduanya benar, hanya saja nabi lebih sering tidak mengeraskannya Maka, tidak dibenarkan satu sama lain saling menyerang dan menyalahkan, apalagi sampai taraf menuduh sebagai pelaku bid’ah. Padahal duanya merupakan perilaku nabi, sahabat tabi’in, dan imam kaum muslimin. Maka, jika kita berada di masjid yang biasa mengeraskan bacaan Basmalah, maka alangkah baik jika kita mengikutinya -jika diminta menjadi imam- untuk menjaga persatuan hati dan menghilangkan kebencian. Begitu pula ditempat sebaliknya. Inilah perilaku ulama rabbani yang mendalam ilmunya yang sudah sepatutnya kita meneladaninya.

Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam

sumber: ustadz Farid Nu’man

Berimam kepada yang Masbuq, bolehkah?

In Fiqh, Ibadah, Tsaqafah on 10 Januari 2013 at 01:28
Assalamu’alaikum ustadz

Saya mau menanyakan tentang bagaimana hukum menjadikan seorang masbuk dalam sholat berjamaah sebagai imam, apakah memang tidak ada hadisnya… lalu bagaimana jika masbuk yang dijadikan imam tersebut tidak menguatkan takbirnya (karena beranggapan tidak ada hadis yang membolehkan itu) dan kita mengikutinya hanya dengan mengetahui gerakannya saja.

syukron jazakallah atas jawabannya ustadz.

Jawaban:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man waalah Ba’d:

Masalah ini cukup sering ditanyakan dan cukup membingungkan sebagian penanya. Bolehkah hal ini ataukah justru bid’ah?

Dalam hal ini kami membagi menjadi dua model, yakni:

1. Jamaah shalat sudah selesai

Kasus ini terjadi jika seseorang mendatangi masjid, dan dia dapatkan jamaah sudah selesai shalat berjamaah. Lalu, dia shalat sendiri sendiri (munfarid) …., tidak lama kemudian datang orang lain yang juga ingin shalat bersamanya. Maka, yang seperti ini –shalat berjamaah di kloter kedua di masjid yang sama- ada dua pendapat, antara yang membolehkan seperti Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ishaq bin Rahawaih, Imam Asy Syaukani, dan lainnya. Ada pula yang memakruhkan seperti Imam Asy Syafi’I, Imam Sufyan Ats Tsauri, dll.

Untuk rinciannya silahkan di buka:

http://www.ustadzfarid.com/2011/06/hukum-shalat-berjamaah-kloter-kedua-di.html

2. Seorang mengalami masbuq tapi masih sempat ikut berjamaah walau pun satu rakaat.

Pada kasus ini, baik dia dijadikan imam oleh jamaah di sampingnya yang sama-sama masbuq dengan cara mundurnya jamaah tersebut. Sederhananya, masbuq menjadi imam bagi masbuq juga. Atau ada orang lain yang baru datang ke masjid, lalu orang tersebut menjadi makmum bagi orang yang masbuq.

Nah, ini pun juga terjadi perbedaan pendapat di antara imam kaum muslimin. Sebagian ulama melarangnya karena tidak ada dalil khusus yang menunjukkan. Justru yang ada adalah sebaliknya, hendaknya mereka semua menyelesaikan shalat masing-masing saja. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi orang yang masbuq.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إ ذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Jika sudah iqamat untuk shalat, maka janganlah mendatanginya dengan tergesa-gesa dan tidak sopan, hendaknya kalian bersikap tenang. Apa yang kamu dapatkan dari shalat, maka lakukanlah seperti itu, ada pun yang tertinggal maka sempurnakanlah kekurangannya. (HR. Bukhari No. 908, Muslim (151) (602) )

Dalam riwayat lain, juga dari Abu Qatadah:

بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَ جَلَبَةً فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ فَلَا تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا سَبَقَكُمْ فَأَتِمُّوا

Ketika mau duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mendengar kegaduhan, lalu bersabda: “Apa yang terjadi pada kalian?” Mereka menjawab: “Kami terburu-buru untuk mengerjakan shalat.” Beliau bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, jika kalian mendatangi shalat maka wajib bagi kalian untuk tenang, apa saja yang kalian dapati dari shalat maka ikuitilah, ada pun yang tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari No. 635, Muslim (155) (603) )

Jika memang benar dibolehkan seorang masbuq berimam kepada masbuq lainnya, tentu hal itu tidak akan luput dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan dia tidak akan melupakan itu untuk umatnya, apalagi ini adalah masalah sangat penting; shalat. Namun, yang ada adalah Beliau memerintahkan kita untuk menyempurnakannya sendiri-sendiri.

Kaidah dalam hal ini adalah:

فالأصل في العبادات البطلان حتى يقوم دليل على الأمر

“Maka, dasar dari semua ibadah adalah batal (tidak ada) sampai tegaknya dalil yang memerintahkannya.” (Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, Hal. 344. 1968M – 1388H. Maktabah Al Kuliyat Al Azhariyah, Kairo – Mesir)

Kenapa demikian? Berkata Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah:

…. أن الله سبحانه لا يعبد إلا بما شرعه على ألسنة رسله فإن العبادة حقه على عباده

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah disembah kecuali dengan cara-cara yang Dia syariatkan melalui lisan rasul-rasulnya. Karena, ibadah adalah hakNya atas hamba-hambanya.” (Ibid)

Guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah juga mengatakan:

فَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يَعْبُدَ اللَّهَ إلَّا بِمَا شَرَعَهُ رَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَاجِبٍ وَمُسْتَحَبٍّ لَا يَعْبُدُهُ بِالْأُمُورِ الْمُبْتَدَعَةِ

“Maka, tidak boleh bagi seorang pun menyembah Allah kecuali dengan cara-cara yang telah disyariatkan oleh RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik berupa kewajiban atau sunah, serta tidak menyembahNya dengan perkara-perkara yang baru (Al Umur Al Mubtadi’ah) .” (Majmu’ Fatawa, 1/80. Cet. 3, 2005M-1426H. Darul Wafa)

Pihak yang melarang adalah kalangan Hanafiyah dan Malikiyah, berikut ini keterangan Syaikh ‘Athiyah Saqr Rahimahullah:

فالحنفية قالوا : لا يصح الاقتداء بالمسبوق بعد قيامه لإِتمام صلاته . والمالكية وافقوهم : على ذلك ، إذا كان المسبوق أدرك ركعة مع إمامه ، لكن لو أدرك أقل من ركعة ، صح الاقتداء به .

Ada pun Hanafiyah, mereka mengatakan tidak sah mengikuti orang yang masbuq setelah berdiri untuk menyempurnakan shalatnya. Kalangan Malikiyah mengikuti pendapat mereka atas hal itu, apabila makmum masbuq yang dijadikan imam itu sempat mendapatkan satu rakaat bersama imam, tetapi kalau ia tidak mendapatkan satu rakaat pun bersama imam, kita boleh bermakmum kepadanya. (Fatawa Al Azhar, 8/487)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah juga lebih mengutamakan bahwa sebaiknya makmum masbuq tersebut menyempurnakan shalatnya masing-masing, toh keutamaan dan pahala berjamaah sudah mereka dapatkan selama mereka telah mendapatkan satu rakaat saja dari shalat jamaah yang mereka ikuti. Beliau berkata:

فإذا سلم الإمام من الصلاة، وأراد أحد المسبوقين أن يأتم بمثله بعد السلام، فيما بقي من صلاتهما ففي هذه المسألة وجهان لأهل العلم، وأكثر الفقهاء على المنع من ذلك، فالأولى لكل واحد من المسبوقين أن يتم صلاته بعد سلام الإمام، دون ائتمام أي منهم بالآخر، لأن كلا منهما قد حصل فضل الجماعة بإدركه ركعة فأكثر. والله أعلم

Jika imam salam dari shalatnya, dan salah satu masbuq menyempurnakan sisa shalatnya bersama orang yang sepertinya setelah salam, maka dalam masalah ini ada dua pendapat di antara ulama. Mayoritas ahli fiqih mengatakan hal itu terlarang. Maka, yang lebih utama bagi setiap orang yang masbuq adalah hendaknya menyempurnakan shalatnya setelah salamnya imam, tidak usah lagi mengangkat yang lainnya menjadi imam, karena setiap mereka sudah mendapatkan keutamaan jamaah ketika telah mendapatkan satu rakaat atau lebih. Wallahu A’lam (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, No. 5494)

Sementara itu, ulama lain membolehkan seorang masbuq berimam kepada sesama masbuq. Dasar mereka adalah orang yang shalat sendiri (munfarid) BOLEH diangkat menjadi imam berdasarkan banyak riwayat shahih, maka seorang masbuq yang sudah berpisah dari jamaah sehingga dia menjadi shalat munfarid, boleh saja dijadikan imam oleh masbuq lainnya.

Dalilnya sebagai berikut:

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ ثُمَّ قَالَ نَامَ الْغُلَيِّمُ أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“(Bittu) Aku mabit di rumah bibiku Maimunah binti Al Harits, isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pada malam itu nabi berada di sampingnya, lalu beliau shalat isya, kemudian pulang ke rumahnya, lalu shalat empat rakaat, kemudian tidur, kemudian bangun, kemudian dia bersabda: “Bocah kecil (Al Ghulayyim)[1] ini sudah tidur.” Atau kata-kata yang serupa dengan itu. Lalu dia mendirikan shalat, dan aku berdiri di samping kirinya, maka dia memindahkanku ke kanannya, lalu shalat lima rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian beliau tidur, sampai aku mendengar suara dengkurannya, kemudian keluar untuk shalat (subuh).” (HR. Bukhari No. 117)

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

جَاءَ رَجُلٌ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَتَّجِرُ عَلَى هَذَا فَقَامَ رَجُلٌ فَصَلَّى مَعَهُ

Datang seseorang dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah selesai shalat, Beliau besabda: “Siapakah di antara kalian yang mau menemaninya?” maka berdirilah seorang laki-laki dan shalat bersamanya. (HR. At Tirmidzi No. 220, katanya: hasan. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4792. Imam Al Haitsami mengatakan perawinya adalah para perawi shahih. Lihat Majma’ Az Zawaid, 2/174 )

Laki-laki itu adalah Abu bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah. (Nailul Authar, 3/185)

Kasus yang semodel ini cukup banyak, diriwayatkan oleh beberapa sahabat seperti istri Rasulullah sendiri, ‘Aisyah dan Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhuma.

Semua ini menunjukkan bahwa boleh menjadikan orang yang tadinya shalat sendiri lalu dia menjadi imam bagi orang lain ketika dia tengah menjalankan shalat munfarid-nya, sebagaimana seorang masbuq mengimami masbuq lainnya ketika mereka lepas dari jamaah sebelumnya. Kalau memang tidak boleh, pastilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan mengingkari yang dilakukan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma atau yang lainnya, justru sebaliknya Beliau mempersilahkan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu menemani orang yang sedang shalat sendiri, padahal Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu sudah shalat sebelumnya.

Pihak yang membolehkan adalah kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah, Syaikh ‘Athiyah Saqr Rahimahullah menjelaskan:

والشافعية قالوا : من اقتدى بمأموم مسبوق بعد أن سلم الإِمام ، أو نوى مفارقته : صح الاقتداء ، وهذا فى غير الجمعة أما فى صلاتها فلا يصح الاقتداء . الحنابلة وافقوهم : على ذلك .

Kalangan Syafi’iyah mengatakan: barang siapa yang mengikuti makmum yang masbuq setelah salamnya imam, atau dia berniat untuk memisahkan diri darinya, maka tetap sah mengikutinya. Ini pada selain shalat Jumat, ada pun pada shalat Jumat tidak boleh. Kalangan Hanabilah menyepakati mereka atas hal itu. (Fatawa Al Azhar, 8/487)

Pihak yang membolehkan di antaranya adalah Syaikh Hisyam ‘Afanah, Beliau berkata:

يقول السائل : إنه جاء إلى المسجد فوجد صلاة الجماعة قد انتهت وأنه اقتدى برجل مسبوق فصلى خلفه فما حكم صلاته ؟
الجواب : اقتداؤك بالمسبوق صحيح إن شاء الله على الراجح من أقوال أهل العلم وقد دلت على ذلك أحاديث …

Penanya: Ada seseorang datang ke masjid, dia dapatkan shalat jamaah sudah selesai, dan dia mengikuti seorang yang masbuq, lalu dia shalat di belakangnya, maka apa hukum shalatnya itu?

Jawab: Anda mengikuti seorang yang masbuq adalah benar adanya insya Allah, menurut pendapat yang lebih kuat di antara pendapat para ulama. Hal ini ditunjukkan oleh sejumlah hadits … (lalu disebutkan hadits-hadits yang telah kami sebutkan). (Fatawa Yas’alunaka, 2/15)

Ini juga menjadi pendapat Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahumallah, Beliau berkata setelah memaparkan perbedaan pendapat dalam madzhab Hambali dalam hal ini. Beliau berkata:

والذي يترجح عندنا هو الوجه الأول، سواء نويا ذلك في حال دخولهما مع الإمام، أو لا، والله أعلم.

Pendapat yang lebih kuat menurut kami adalah pendapat pertama (maksudnya yang membolehkan, pen), sama saja apakah dia berniat melakukan hal itu dalam keadaan mereka berdua bersama imam yang sama, atau tidak. Wallahu A’lam. (Ad Durar As Saniyah fi Ajwibah An Najdiyah, 4/277)

Dan lain-lain.

Kesimpulan:

- Masalah ini telah diperselisihkan para imam, dan mayoritas melarangnya.
- Walau diperselisihkan hendaknya kita mengambil sikap atas perbedaan ini.
- Namun bersamaan sikap itu, dilarang fanatik dengan salah satu pendapat di antara keduanya, dengan menyerang saudaranya yang mengikuti pendapat lain yang saudaranya itu benar. Hendaknya masing-masing pihak berlapang dada.
- Pendapat yang kami kuatkan adalah pendapat yang mengatakan bahwa sebaiknya dilanjutkan shalat sendiri-sendiri saja, mengingat beberapa hal:

Pertama, dalil secara khusus, atau contoh yang benar-benar seperti itu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tidak pernah ada. Ibadah ritual yang khusus secara juknis (petunjuk teknis) dan juklak (petunjuk pelaksanaan)-nya –seperti shalat- hendaknya memiliki pedoman tersendiri agar lebih selamat dan aman secara syariat. Kehatian-hatian adalah lebih utama diikuti …

Kedua, dalil-dalil pihak yang membolehkan yaitu dengan mengqiyaskan masalah ini dengan kasus-kasus orang shalat munfarid (sendiri) lalu ditemani orang lain untuk berjamaah, tidaklah sama dengan masbuq menjadi imam bagi masbuq lainnya, atau tidak sama pula dengan kasus seorang masbuq menjadi imam bagi orang yang baru sampai ke mesjid. Istilahnya qiyas ma’al fariq – mengqiyaskan dengan hal yang berbeda.

Kenapa tidak sama? Sebab, seorang yang masbuq tentunya tadinya dia ikut berjamaah dengan seorang imam, dan dia tetaplah dihitung mendapatkan status berjamaah walau imamnya sudah selesai shalat selama ketika dia ikut shalat jamaah tersebut minimal dapat satu rakaat saja. Tentunya ini berbeda dengan kasus satu orang shalat sendiri lalu dia ditemani oleh orang lain untuk berjamaah seperti kasus-kasus yang dijadikan dalil pihak yang membolehkan. Bagaimana mungkin sama antara “menjadi makmum seseorang yang shalatnya tadinya memiliki imam (shalat berjamaah)”, dengan “menjadi makmum seseorang yang shalatnya tidak memiliki imam” ?

Ketiga, ternyata qiyas dalam masalah ibadah ta’abudiyah -seperti shalat- tidak dibenarkan oleh banyak imam. Qiyas hendaknya hanya pada masalah-masalah mu’amalah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء

Bab masalah qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) harus berdasarkan nash, bukan karena qiyas atau pendapat-pendapat. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz.7, Hal. 465. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’. Cet. 2, 1999M-1420H)

Keempat, cukup bagi si masbuq melanjutkan dan menyempurnakan shalatnya sendiri-sendiri. Sebagaimana yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perintahkan. Lagi pula dia telah mendapatkan “status berjamaah” selama mendapatkan satu rakaat saja, apalagi lebih.

Kelima, bahkan untuk orang yang masbuq ketika imam duduk tasyahud, walau dia tidak mendapatkan “status berjamaah” namun pahala orang berjamaah tetap dia dapatkan, Insya Allah. Lebih hebat lagi, ini juga berlaku bagi orang yang ketinggalan jamaah sama sekali, dia terlambat karena adanya uzur syar’i, sehingga jamaah sudah bubar, akhirnya dia shalat sendiri. Dia pun tetap mendapatkan pahala berjamaah karena dia menginginkan shalat berjamaah, namun dia tidak mendapatkannya karena halangan syar’i, bukan karena sengaja memperlambat dan mengulur-ulur. Misal: sebelum sampai ke masjid kendaraan yang dia pakai bermasalah, atau dia sakit perut lalu buang hajat, dan halangan syar’i lainnya.

Dalilnya adalah dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘Alaihi wa Sallam bersada:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلَّاهَا وَحَضَرَهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia pergi ke mesjid (untuk berjamaah) dan dia lihat jamaah sudah selesai, maka ia tetap mendapatkan seperti pahala orang yang hadir dan berjamaah, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. An Nasa’i No. 855, Abu Daud No. 564, Ahmad No. 8590, Al Hakim No. 754, katany shahih sesuai syarat Imam Muslim. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6163)

Berkata Imam Abul Hasan Muhammad Abdil Hadi As Sindi Rahimahullah:

ظَاهِره أَنَّ إِدْرَاك فَضْل الْجَمَاعَة يَتَوَقَّف عَلَى أَنْ يَسْعَى لَهَا بِوَجْهِهِ وَلَا يُقَصِّر فِي ذَلِكَ سَوَاء أَدْرَكَهَا أَمْ لَا فَمَنْ أَدْرَكَ جُزْء مِنْهَا وَلَوْ فِي التَّشَهُّد فَهُوَ مُدْرِك بِالْأَوْلَى وَلَيْسَ الْفَضْل وَالْأَجْر مِمَّا يُعْرَف بِالِاجْتِهَادِ فَلَا عِبْرَة بِقَوْلِ مَنْ يُخَالِف قَوْله الْحَدِيث فِي هَذَا الْبَاب أَصْلًا .

“Secara zhahirnya, hakikat keutamaan jamaah adalah dilihat dari kesungguhan dia untuk melaksanakannya, tanpa memperlambat diri atau menunda-nunda. Jika demikian, ia tetap dapat pahala jamaah, baik sempat bergabung dengan jamaah atau tidak. Maka, barang siapa yang mendapatkan jamaah sedang tasyahud, maka pahalanya sama dengan yang ikut sejak rakat pertama. Adapun urusan pahala dan keutamaan tidak dapat diketahui dengan ijtihad. Jadi, sepatutnya kita tidak peduli dengan pendapat yang bertentangan dengan hadits-hadits di atas.” (Syarh Sunan An Nasa’i, 2/111. Cet. 2, 1986M-1406H. Maktab Al Mathbu’at Al Islami. Halab)

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajma’in.

Sekian. Wallahu A’lam

————————–

[1] Al Ghulayyim adalah panggilan kesayangan buat anak kecil, dan yang dimaksud adalah Ibnu Abbas. (Fathul Bari, Juz. 1, Hal. 212. Darul Fikr)

Sumber : http://www.ustadzfarid.com/2012/12/berimam-kepada-yang-masbuq-bolehkah.html

Hukum Menyiramkan Air Ke Atas Pusara Kubur

In Fiqh, Tsaqafah on 18 Oktober 2012 at 19:56

Prolog

Versi pertama, “Kenapa kuburannya tidak disiram pake air satu bak saja? Jangan hanya sedikitlah. Biar ademnya lama” Tulis salah satu teman di akun Facebooknya ketika mengomentari orang yang menyiram kubur dengan air. Seolah ingin membantah dengan rasionalitasnya bahwa siram-menyiram kubur itu tidak masuk akal.

Versi kedua, “Menyiramkan air diatas kuburan itu tidak ada dalilnya dalam syari’at. Itu adalah adat kebiasaan masyarakat Indonesia yang baru yang tidak ada ketika Salafus Shalih”. Tulis salah satu website berbahasa Indonesia.

Versi ketiga, “Menyiramkan air diatas kuburan itu haditsnya dhaif, maka tidak bisa diamalkan. Kalo ada hadits shahih, kenapa kita repot-repot mengamalkan hadits dhaif?. Hadits ini telah di dhaifkan oleh Syeikh Muhadditsul ‘Ashr Al Albani dalam kitab beliau Irwa’ Al Ghalil: 3/205-206[1].

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dengan irsal. Imam Syafi’i mengatakan: Telah mengabarkan kepadaku Ibrahim bin Muhammad dari Ja’far bin Muhammad dari Muhammad bahwa Nabi Muhammad shallaAllahu alaihi wasallam menyiram kubur Ibrahim, anaknya dan meletakkan kerikil diatasnya.

Syeikh Al Albani berkata: “Hadits ini mursal dan sangat dhaif, karena ada Ibrahim dan dia muttaham atau tertuduh melakukan kebohongan.”

Apa Untungnya Bicara Hal Ini?

Paling tidak ada tiga versi berlainan dalam kaitan siram-menyiram kubur, yang intinya sama yaitu tidak ada syariat siram-menyiram kubur dengan air. Mumpung hari jum’at kita bicara tentang kuburan. Tapi apa sih untungnya kita berbicara hal ini?. ya minimal kita tahu titik permasalahan dan syariat agama dengan benar dari sumber yang benar pula. Karena implementasi ke’tidak-tahu’an itu lumayan besar. Dari mengakal-akali syariat yang setiap syariat itu harus dengan rasional, atau mem’bid’ah-bid’ahkan orang lain yang tidak sepaham dengan alasan tidak ada dalil. Mari kita bahas satu persatu, dan kita mulai dari versi ketiga dulu.

Versi Ketiga: Hadits Ini Dhaif

Alhamdulillah dari versi ketiga ini sudah ada kemauan untuk mencari haditsnya. Meski pencariannya belum tuntas. Dasar pijakan hadits yang dipakai dalam hal menyiram kuburan dengan air adalah hadits:

” أن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) رش على قبر ابراهيم ابنه ووضع عليه حصباء ”

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Muhammad ShallaAllahu alaihi wa sallam menyiram [air] diatas kubur Ibrahim, anaknya dan meletakkan kerikil diatasnya.”

Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalan riwayat. Ketika hadits itu jalan riwayatnya banyak, maka kaidahnya adalah jika dari riwayat yang banyak itu ada satu hadits yang shahih, maka hadits lain yang dhaif tertutup oleh hadits shahih tadi.

Inilah yang sering kurang dipahami masyarakat awam yang sedang semangat belajar dan mengamalkan hadits-hadits shahih.Seolah alergi dengan cap dhaif dalam sebuah jalan riwayat hadits.

Padahal bisa saja ada hadits lain yang shahih yang bisa digunakan sebagai pijakan hukum. Maka saya khawatirkan, mengurang-ngurangi agama itu bisa lebih bahaya dari menambah-nambahinya. Berbohong atas nama Nabi itu bisa saja dengan mengatakan itu tidak dari Nabi padahal benar-benar dari Syariat Nabi Muhammad ShallaAllahu alaihi wasallam.

Dirasatul Asanaid

Kalau dahulu saya pernah menulis, mentakhrij sebuah hadits itu sekarang sangat mudah. Bahkan seperti pasang status di Facebook. Memang iya, Alhamdulillah dengan kemajuan tekhnologi ini telah membawa berkah yang sangat besar dalam perkembangan keilmuan termasuk dalam keilmuan keagamaan.

Mudah itu maksudnya kita tinggal tulis haditsnya di laptop yang sudah terhubung dengan internet, maka dengan klik enter saja akan keluar hadtis beserta jalan sanad dan derajat haditsnya. Kalo yang berbahasa indonesia ada lidwa.com atau yang berbahasa arab ada islamweb.net atau di forum ahlalhdeeth.com, tapi syaratnya ya harus bisa baca tulisan arab gundul dan tahu artinya.

Hadits diatas oleh Abu Daud dalam Marasilnya[2], Imam Baihaqi dalam Sunan-nya[3], Thabarani dalam Mu’jam Al Ausath[4].

Seperti yang dituliskan islamweb.com bahwa memang hadits ini diriwayatkan oeh banyak jalan:

As Sunan Al Kubro: Baihaqi

Hadits ini diriwayatkan Imam Baihaqi dari:

Ahmad Ibn Hasan [Tsiqah] dari Muhammad Bin Abdullah [Tsiqah] dari Muhammad bin ya’qub [Tsiqah] dari Robi’ bin Sulaiman [Tsiqah] dari Abdullah bin Wahab [Tsiqah] dari Sulaiman bin Bilal [Tsiqah] dari Ja’far bin Muhammad [Shaduq] dari Muhammad bin Ali [Tsiqah]. Hadits ini mursal hanya sampai kepada Muhammad bin Ali tetapi semua rawi termasuk kategori tsiqat kecuali Ja’far bin Muhammad. Beliau termasuk kategori shaduq maka haditsnya adalah hasan.

Hadits ini juga diriwayatkan Baihaqi dari Ahmad bin Husain [Tsiqah] dari Muhammad bin Musa [Tsiqah] menyambung ke jalan riwayat diatas kepada Muhammad bin Ya’qub [Tsiqah] hingga keatas.

Ma’rifatu as Sunan wal Atsar: Baihaqi

Meskipun Imam Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini dengan jalan lain dalam kitab beliau Ma’rifatu As Sunan wal Atsar. Jalan riwayatnya adalah:

Imam Baihaqi meriwayatan hadits dari Ahmad bin Al Husain [Tsiqah] dari Ahmad bin Al Hasan [Tsiqah] dari Muhammad bin Ya’qub [Tsiqah] dari Robi’ bin Sulaiman [Tsiqah] dari Muhammad bin Idris [Tsiqah] dari Ibrahim bin muhammad [Matrukul hadits/Sangat lemah] dari Ja’far bin Muhammad [Shaduq] sampai keatas.

Inilah mengapa Syeikh Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil mengatakan bahwa hadits ini sangat lemah. Karena ada Ibrahim bin Muhammad.

Al Marasil: Abu Daud

Imam Abu Daud meriwayatkan hadits ini dari jalan Sulaiman bin Al Asyast [Tsiqah] dari Abdullah bin Umar [Tsiqah] dari Abdul Aziz bin Muhammad [Shaduq] dari Abdullah bin Muhammad [Laitsa bik qawi] dari Muhammad bin Umar dari Muhammad bin Ali [Tsiqah].

Hadits ini, hanya karena ada satu perawi yang berpredikat laitsa bi qawi/tidaklah kuat yaitu Abdullah bin Muhammad maka menjadi haditsnya dhaif.

Mushannaf: Abdur Rozzaq

Abdurrozzaq meriwayatkan hadits ini dari jalan Abdurrozzaq bin Hammam [Tsiqah] dari Sufyan bin Said [Tsiqah] dari Said bin Abi Hilal [Tsiqah] dari Makhul bin Syahrab [Tsiqah] dari Muhammad bin Ali [Tsiqah]. Semua rawi tersambung dan semuanya tsiqat.

Musnad Imam Syafi’i: Muhammad bin Idris As Syafi’i

Lah, dari jalan inilah ada sebagian kelompok yang mengatakan bahwa haditsnya dhaif. Imam Syafi’i meriwayatkan hadits dari jalan Ibrahim bin Muhammad [Syadidu ad Dhu’fi/sangat lemah] dari Ja’far bin Muhammad [Shaduq] dari Muhammad bin Ali [Tsiqah].

Al Mu’jam Al Ausath: At Thabarani

Disinilah lakonnya. Imam At Thabarani meriwayatkan hadits ini dari jalan Sulaiman bin Ahmad [Tsiqah] dari Muhammad bin Zuhair [Shaduq] dari Ahmad bin Abdah [Tsiqah] dari Abdul Aziz bin Muhammad [Shaduq] dari Hisyam bin Urwah [Tsiqah] dari Urwah bin Zubair [Tsiqah] dari Aisyah binti Abdullah [Tsiqah].  Semua rawinya selamat dari dhaif. Maka haditsnya hasan karena ada rowi yang shaduq.

Maka jawaban untuk versi ketiga bahwa haditsnya dhaif terjawabkan.

Bagaimana Dengan Syeikh Al Albani?

Tidak bisa dipungkiri bahwa beliau merupakan ulama’ zaman ini yang intens bergelut dalam takhrij hadits. Tak tanggung-tanggung, kitab para ulama’ yang sudah mapan dipakai umat islam seperti kitab Sunan para imam ahli hadits tak luput dari koreksi ulang.

Seperti kitab karya At Tirmidzi[5] atau dikenal juga dengan Al Jami’ atau Sunan At Tirmidzi. Oleh Syeikh Al Albani dikoreksi ulang dan dipecah jadi dua kitab yaitu Shahih At Tirmidzi dan Dhaif At Timidzi.

Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada beliau atas jasa-jasanya. Beliau telah menggugah umat islam untuk tidak stagnan dan kritis walaupun kepada sesuatu yang sudah mapan. Tetapi perlu diingat juga, beliau juga seorang manusia yang sangat mungkin salah. Karena tidak semua pengkritik itu lebih benar daripada yang dikritik. Kita juga harusnya bersikap kritis terhadap karya beliau dan tidak ngekor bebek kepada setiap penghukuman beliau atas sebuah hadits. Seolah jika dalam kitab yang sudah tertera label shahih shahih atau dhaif Al Albani sudah begitu saja diterima tanpa mau dikritik.

Terkait penilaian beliau atas hadits menyiram kuburan dengan air, kita bisa temukan dalam beberapa kitab beliau. Diantaranya dalam kitab Irwa’ Al Ghalil[6]. Beliau menyebutkan bahwa hadits ini selain mursal juga diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dari jalan Ibrahim bin Muhammad dan dia termasuk muttaham bil kadzib; dicurigai melakukan kebohongan. Baru dicurigai berbohong saja dalam ilmu sanad hadits sudah menjadikan hadits itu dhaif.

Tapi nanti dulu, disinilah pentingnya belajar jangan setengah-setengah. Bagi ikhwah yang sering menshahihkan atau mendhaifkan hadits dengan acuan takhrij Syeikh Al Albani, maka sebaiknya jangan langsung melihat hasil akhir penilaian beliau, tapi lihatlah bagaimana hadits itu bisa menjadi dhaif. Maka ketika taqlid kepada salah satu madzhab empat yang muktamad itu dilarang, seharusnya taqlid kepada penilaian hadits seorang ulama’ yang belum tentu muktamad juga dilarang.

Di kitab ini beliau menghukuminya dalam kategori hadits dhaif. Tapi ternyata beliau memasukkan hadits ini dalam kitab Silsilatul Ahadist As Shahihah[7]. Nah lho!

وقال الشيخ الألباني رحمه الله : ” في رش القبر أحاديث كثيرة ، ولكنها معلولة – كما بينت ذلك في “الإرواء” (3/205 – 206) . ثم وجدت في “أوسط الطبراني” حديثاً بإسناد قوي في رشه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لقبر ابنه إبراهيم ، فخرجته في “الصحيحة” (3045) ” انتهى من ” سلسلة الأحاديث الضعيفة ” 13/994

Artinya: Syeikh Al Albani berkata: menyiram kubur dengan air memang terdapat banyak hadits. Tetapi ada cacatnya, sebagaimana telah saya jelaskan dalam kitab Irwa’ Al Ghalil: 3/205-206. Tetapi saya lantas mendapati sebuah hadits lain dalam kitab Ausath at Thabarani dengan sanad yang kuat tentang Nabi yang menyiram kubur Ibrahim, anaknya dengan air. Maka saya takhrij lagi dalam kitab as Shahihah: 3045. Dari kitab silsilatul Ahadits As Dhaifah: 13/994.

Itu sungguh pengakuan yang bagus dari Syeikh Nasiruddin Al Albani. Tapi pertanyaannya, apakah ada takhrij ulang dari kitab Irwa’ Al Ghalil? Bagaimana jika ada orang yang hanya belajar dari kitab Irwa’ Al Ghalil tanpa melihat kitab Silsilatul Ahadits As Shahihah atau ad Dhaifah? Bagaiamana kita bisa tahu, penilaian manakah yang lebih baru dari takhrij beliau? Apakah tidak dikhawatirkan ketika ada yang mengambil takhrij dari satu kitab beliau tanpa membaca kitab yang lain?

Sepertinya saya juga tidak bisa menjawab.

Versi Kedua: Ini Tidak Ada Dalilnya.

Kadang geregetan juga jika ada orang yang sedikit-sedikit berdalil: “Ini tidak ada dalilnya, ini tidak ada pada Salafus Shalih, ini hal baru” tanpa benar-benar mencari tahu atau sekedar ingin tahu. Tak tahu dan tak ingin tahu itulah yang menjadi awal dalil, “tidak ada dalil”.

Ibnu Quddamah dalam kitabnya Raudhatu An Nadzir[8] ketika menerangkan tentang istishabul hal membuat sebuah kaidah yang bagus:

“إن عدم العلم بالدليل ليس حجة والعلم بعدم الدليل حجة”

Artinya: “Tidak mengetahui adanya dalil itu bukan hujjah, yang menjadi hujjah adalah mengetahui tidak adanya dalil.”

Versi Pertama: Biar Adem, Kenapa Tidak Dengan Air Satu Bak Saja?

Akal sehat tidak akan bertentangan dengan nash yang shahih, itulah prinsipnya. Karena Dzat yang menciptakan akal tidak lain adalah Dzat yang menurunkan nash. Dalam agama, ada perkara-perkara yang bisa dipahami dengan akal dan rasional.

Tetapi ada juga hal-hal yang tak bias dipahami dengan rasional otak saja. Contoh mudahnya ketika kentut kenapa yang dibasuh dalam wudhu kok bukan jalan keluarnya kentut. Bahkan dalam kehidupan nyata pun juga ada, ketika yang sakit adalah mata, kenapa yang disuntik malah bokongnya.

Ali bin Abi Thalib berkata: “Seandainya agama ini dengan akal maka tentunya bagian bawah khuf (semacam kaos kaki yang terbuat dari kulit) lebih utama untuk diusap (pada saat berwudhu-red) daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuf-nya.” HR Abu Dawud.

Menyiram kuburan dengan air, meskipun kita tidak tahu apa manfaat dibalik itu tetapi telah ada riwayat yang shahih menerangkan bahwa Nabi Muhammad ShallaAllahu alaihi wa sallam pernah menjalankannya.

Epilog

Maksud dari tulisan ini bukanlah menganjurkan untuk menyiram kubur dengan air. Tetapi terlebih kepada anjuran untuk selalu bersemangat untuk belajar agama lebih dalam lagi, tidak membatasi diri hanya belajar dari satu kelompok saja, dan selalu kritis selama didasari dari dalil yang kuat.

Yang terpenting bukanlah menyiram kubur dengan air, tetapi menyiram para penghuni kubur dengan do’a yang selalu menjadikan mereka sejuk di alam sana. Kita semua akan mati, akan habis jatah beramal kita. Tapi jika kelak ketika mati, kita meninggalkan anak-anak yang tak henti mendo’akan kita maka itulah INVESTASI AKHIRAT YANG LUAR BIASA.

Wallahu A’lamu bish Shawab

Oleh: Luthfi Abdu Robbihi

Rumah Fiqih Indonesia 

_______________________________________

Footnote:

[1] Irwa’ Al Ghalil: Nashiruddin Al Albani, Hal. 3/205-206

[2] Al Marasil: Abu Daud, Hal. 304/424

[3] Sunan Baihaqi: Baihaqi, Hal. 3/311

[4] Mu’jam Al Ausath: At Thabarani, Hal: 2/80

[5] Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan, lahir pada 279 H di kota Tirmiz arah selatan dari sungai Jaihun, bagian selatan Iran.

[6] Irwa’ Al Ghalil: Nashiruddin Al Albani, Hal. 3/205-206

[7] Silsilatul Ahadits As Shahihah: Al Albani, Hal. 13/994, No. Hahdits: 3045

[8] Raudhatu An Nadzir: Ibnu Quddamah, Hal. 1/156

Rep/Red: Shabra Syatila

sumber: http://www.fimadani.com 12 June 2012 8:23 pm

Meng-qodho puasa orang lain

In Fiqh on 24 Juli 2012 at 09:59

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Saya mau nanya: Apakah kita bisa mewakilkan / mengqodho puasa untuk orang lain….?? kalau bisa bagaimana caranya & apakah ada dalil – dalilnya ( ayat2 atau hadits2 ) tentang tatacara mewakilkan qodho puasa untuk orang lain & syarat – syarat orang yang boleh di wakilkan qodho puasanya…??. Terimakasih.
Wassalamu alaikum wr.wb.

Time: Kamis Juli 5, 2012 at 1:34 pm (penanya: Shabri)

Jawaban:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Persoalan mengqodho puasa untuk orang lain, dalam hadits hanya berkenaan qodho puasa buat orang tua, tdk untuk yang lainnya

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya. ”[3]

Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah ahli waris[4].

Namun hukum membayar puasa di sini bagi ahli waris tidak sampai wajib, hanya disunnahkan.[5] Juga hadits Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ ، وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ ، أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ – قَالَ – فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى »
“Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan dia memiliki utang puasa selama sebulan [dalam riwayat lain dikatakan: puasa tersebut adalah puasa nadzar], apakah aku harus mempuasakannya?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya. Utang pada Allah lebih pantas engkau tunaikan
Dan hal ini pun ada perbedaan pendapat oleh para ulama. Sebagian kalangan membolehkan mengqodho jika seseorang tdk dapat berpuasa karena halangan tertentu dan ia bs mengganti puasa tersebut dibulan lain namun tdk sempat dan sdh keburu meninggal. Bagi yg tdk dpt berpuasa dan tdk sanggup mengganti ya tdk perlu diqodho, cukup membayar fidyah, spt orng jompo dll

(Penjawab: ustadz Ismeidas Makfiansah – Jakarta)

Hukum Oral Seks

In Fiqh, Keluarga on 18 Juli 2012 at 12:11
Pertanyaan:
Assalamu ‘Alaikum …. , Apa hukum oral seks? (dari 081546143xxx)
 
Jawaban:
Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh. 
Bismillah wal hamdulillah was Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Aalhi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:
 
Hukum oral seks, baik yang melakukan adalah suami (cunilingus), atau isteri (fellatio), para ulama kontemporer (zaman sekarang) berbeda pendapat. Mereka terbagi atas tiga golongan. Ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan membolehkan. Sedangkan ulama klasik, setahu saya belum pernah mendiskusikannya. Wallahu A’lam.
 
                Golongan yang mengharamkan, mereka beralasan dengan najisnya madzi yang ada pada kemaluan baik laki atau wanita ketika sedang syahwat, yang jika tertelan maka itu haram. Tentang najisnya madzi, para ulama kita semua sepakat, tidak berbeda pendapat.
 
عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ
 
                Dari ‘Ali, dia berkata: “Saya adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku perintah seseorang untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantaran posisiku sebagai mantu beliau (maksudnya Ali malu bertanya sendiri), maka orang itu bertanya, lalu Rasulullah menjawab: “Wudhulah dan cuci kemaluanmu.” (HR. Bukhari No. 269)
               
 Hadits ini menunjukkan kenajisan madzi, hanya saja tidaklah wajib mandi janabah, melainkan hanya wudhu sebagaimana teks hadits tersebut. Oleh karena madzi adalah najis maka ia haram tertelan, yang sangat mungkin terjadi ketika oral seks. Alasan lainnya, karena oral seks merupakan cara binatang, dan kita dilarang menyerupai binatang. Wallahu A’lam.
 
                Golongan yang memakruhkan, mereka beralasan bahwa  oral seks belum tentu menelan madzi melainkan hanya sekedar kena, baik karena dikecup atau jilat. Mulut atau lidah yang terkena madzi, tentunya sama saja dengan kemaluan suami yang menyentuh madzi isteri ketika coitus (jima’). Sebab ketika jima’,  otomatis madzi tersebut pasti mengenai kemaluan ‘lawannya.’ Nah, jika itu boleh, lalu apa bedanya jika mengenai anggota tubuh lainnya, seperti mulut? Sama saja. Hanya saja, hal tersebut merusak muru’ah (akhlak baik) dan menjijikan. Lagi pula tidak sepantasnya, mulut dan lidah yang senantiasa berdzikir dan membaca Al Quran, digunakan untuk hal itu. Oleh karena itu bagi mereka hal tersebut adalah makruh, tidak sampai haram.
 
                Golongan yang membolehkan, mereka beralasan bahwa suami bagi isteri, atau isteri bagi suami adalah halal seluruhnya, kecuali dubur dan ketika haid. Sedangkan alasan-alasan pihak yang mengharamkan (tertelannya madzi) sudah dijawab, dan alasan pihak yang memakruhkan (merusak muru’ah dan menjijikkan)pun bagi golongan ini tidak bisa diterima. 
 
                Alasan merusak muru’ah (citra diri/akhlak baik) adalah alasan yang lemah, sebab dahulu Umar bin Al Khathab ketika dia menjima’ isterinya dari belakang (tapi bukan dari dubur) istilahnya doggy styleyangjelas-jelas menyerupai  binatang,  ternyata itu dibolehkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal Umar Radhiallahu ‘Anhu merasa bersalah, karena itu bukan kebiasaannya dan bukan kebiasaan kaumnya. Sebagaimana oral seks hari ini bukanlah kebiasaan orang Timur, melainkan kebiasaan orang Barat. Namun, demikian tidak ada satu pun riwayat yang berindikasi mencela Umar dalam hal ini, yang ada justru sebaliknya.
 
                Alasan menjijikan juga  alasan yang lemah, sebab jijik atau tidak, sifatnya sangat relatif dan personally (pribadi). Tidak sama pada masing-masing orang. Bila ada  orang merasa jijik dengan kulit ayam, tidak berarti kulit ayam adalah haram atau makruh. Khalid bin Walid pernah makan biawak di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam namun tidak dilarang oleh Rasulullah, walau pun dia tidak suka, walau itu menjijikan, karena makan biawak bukanlah kebiasaan manusia di daerah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
 
                Dalam riwayat yang shahih dari Anas bin Malik  bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyuruh suku Urainah untuk meminum air kencing Unta untuk obat. Padahal, bisa jadi bagi sebagian orang kencing Unta adalah menjijikan, tapi riwayat itu dijadikan dalil oleh sebagian ulama tentang sucinya air kencing Unta. Wal hasil, masalah ‘perasaan’ jijik bukanlah ukuran dan alasan diharamkannya sesuatu.
 
                Golongan yang membolehkan juga beralasan pada ayat berikut:
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ
                “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al Baqarah (2): 223) 
 
                Anna syi’tum(bagaimana saja kamu kehendaki) hanya berlaku pada qubul (kemaluan) bukan dubur.
                Imam Al Qurthubi –seorang ulama tafsir madzhab Maliki- berkata:
وقد قال أصبغ من علمائنا: يجوز له أن يلحسه بلسانه.
                “Telah berkata Ashbagh dari golongan ulama kami (Maliki): “Boleh bagi suami menjilat kemaluan isterinya dengan lidahnya.”   (Imam Al Qurthubi,  Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Juz. 12, Hal. 222. Dar Ihya Ats Turats Al ‘Araby, Beirut – Libanon. 1985M-1405H)
                Perlu diketahui, semua hadits-hadits yang melarang melihat kemaluan isteri atau suami, adalah dha’if bahkan ada yang maudhu’ (palsu). Justru bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang menunjukkan sebaliknya. Insya Allah Ta’ala akan saya bahas di lain kesempatan.
 
 
Pandangan Syaikh Al ‘Allamah Yusuf Al Qaradhawy hafizhahullah:
 
                Beliau berkata: “Di dalam masyarakat seperti Amerika dan masyarakat Barat lainnya, terdapat tradisi dan kebiasaan dalam hubungan biologis antara suami isteri yang berbeda dengan kebiasaan kita, seperti bertelanjang bulat,  suami melihat kemaluan isteri, atau isteri mempermainkan kemaluan suami, atau mengecup kemaluan suami, dan sebagainya yang apabila telah menjadi biasa menjadi tidak menarik dan membangkitkan syahwat lagi, sehingga memerlukan cara-cara lain yang kadang hati kita tidak menyetujuinya. Ini merupakan suatu persoalan dan mengharamkannya –atas nama agama- juga merupakan persoalan lain lagi. Dan tidak boleh sesuatu diharamkan kecuali jika ditemukan nash (teks agama) yang sharih (jelas) dari Al Quran dan As Sunnah yang mengharamkannya. Kalau tidak ada nash, maka pada dasarnya adalah boleh.
 
Ternyata, tidak ada nash yang shahih dan sharih yang menunjukkan haramnya tindakan suami isteri seperti itu. Oleh karena itu, dalam kunjungan saya ke Amerika yakni ketika menghadiri Muktamar Persatuan Mahasiswa Islam dan mengunjungi pusat-pusat Islam di berbagai wilayah di sana, apabila saya menerima pertanyaan mengenai masalah itu –biasanya pertanyaan datangnya dari wanita muslimah Amerika- maka saya cenderung memudahkannya, bukan mempersulit, melonggarkannya bukan mengetatkannya, memperbolehkannya dan tidak melarangnya.” (Dr. Yusuf Al Qaradhawy, Fatwa-Fatwa Kontemporer, Jilid. 2, Hal. 492-493. Cet. 2 1996M. Gema Insani Press, Jakarta)
Demikian. Wallahu A’lam.
 
Penjawab: Ustadz Farid Nu’man
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.