tjislam

membayarkan hutang orang tua

In Fiqh, Muamalah, Tsaqafah on 13 Mei 2012 at 02:07

pertanyaan:

Assalamualaikum,

Ortu sy sudah meninggal dan mampunyai utang kepada orang lain serta bank, bagaimana caranya agar beban utangnya pindah ke saya, tetapi saya belum mampu mambayar lunas utang tersebut, sy membayar dengan cara mencicil perbulan.

Wassalam
(penanya: yobi)

jawaban:

Membayar hutang merupakan hal yang sangat penting dalam Islam, bahkan bisa menyebabkan masalah di alam kubur.

Rasulullah saw. berdah sabda: “Jiwa (ruh) seorang Mukmin akan tergantung (terkatung-katung) selama dia masih memiliki hutang.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Sehingga menjadi tuntunan apabila orang yang meninggal masih memiliki hutang maka ada pihak yang membayarkan hutangnya, bisa pihak keluarga maupun pihak lain yang peduli.

“Bahwasanya, pernah dihadapkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang jenazah untuk beliau shalati. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia punya hutang?” Mereka menjawab, “Tidak”, maka beliau pun menyalatinya. Kemudian didatangkan kepada beliau jenazah yang lain, lalu beliau bertanya, “Apakah dia punya hutang?”, Mereka menjawab, “Ya” maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Shalatilah teman kalian ini oleh kalian”. Abu Qatadah berkata, “Wahai Rasulullah. Saya yang akan melunasi hutangnya”, maka beliau pun mau menyalatinya”. (HR. Bukhari).

Pihak keluarga, terlebih seorang anak tentu memiliki tanggung jawab lebih terhadap orang tuanya, termasuk dalam hal membayarkan hutang-hutang mereka.

Suatu ketika Nabi saw pernah ditanya oleh seseorang, “Ya Rasulullah, ibuku sudah meninggal dalam kondisi memiliki hutang puasa. Bolehkan aku berpuasa untuknya?” Beliau berkata, “Bagaimana jika ibumu memiliki hutang, apakah engkau akan membayarkannya?! Bayarkanlah (hutang tersebut) sebab Allah lebih berhak untuk dibayar.” (HR. Muslim).

Masih banyak dalil lain yang menegaskan tentang masalah membayarkan hutang ini, tetapi kami anggap tiga dalil di atas sudah cukup mewakili. Tentang tehnis cara membayarkan hutang, pihak yang akan membayarkan (dalam konteks ini adalah sang anak) cukup berniat akan membayarkan hutang orang tuanya lalu mendatangi orang dan bank tempat orang tuanya berhutang untuk membicarakan tata cara pemindahan hutang dan penjadwalan pencicilan hutang tersebut.

Semoga niat dan usaha Anda membayarkan hutang orang tua menjadi catatan amal kebaikan.

(Penjawab: Abu Abdullah – Yogya)

About these ads
  1. Ustad , saya bertanya. Saya sering menbuka hp milik istri tanpa sepengetahuan istri. Boleh atau tidak ? Sebab suatu hari saya membuka hp istri, isinya pernyataan sayang dari mantan pacar. Saya jadi curiga dan akhirnya sering membuka hp tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: