tjislam

Archive for 2012|Yearly archive page

Hukum Menyiramkan Air Ke Atas Pusara Kubur

In Fiqh, Tsaqafah on 18 Oktober 2012 at 19:56

Prolog

Versi pertama, “Kenapa kuburannya tidak disiram pake air satu bak saja? Jangan hanya sedikitlah. Biar ademnya lama” Tulis salah satu teman di akun Facebooknya ketika mengomentari orang yang menyiram kubur dengan air. Seolah ingin membantah dengan rasionalitasnya bahwa siram-menyiram kubur itu tidak masuk akal.

Versi kedua, “Menyiramkan air diatas kuburan itu tidak ada dalilnya dalam syari’at. Itu adalah adat kebiasaan masyarakat Indonesia yang baru yang tidak ada ketika Salafus Shalih”. Tulis salah satu website berbahasa Indonesia.

Versi ketiga, “Menyiramkan air diatas kuburan itu haditsnya dhaif, maka tidak bisa diamalkan. Kalo ada hadits shahih, kenapa kita repot-repot mengamalkan hadits dhaif?. Hadits ini telah di dhaifkan oleh Syeikh Muhadditsul ‘Ashr Al Albani dalam kitab beliau Irwa’ Al Ghalil: 3/205-206[1].

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dengan irsal. Imam Syafi’i mengatakan: Telah mengabarkan kepadaku Ibrahim bin Muhammad dari Ja’far bin Muhammad dari Muhammad bahwa Nabi Muhammad shallaAllahu alaihi wasallam menyiram kubur Ibrahim, anaknya dan meletakkan kerikil diatasnya.

Syeikh Al Albani berkata: “Hadits ini mursal dan sangat dhaif, karena ada Ibrahim dan dia muttaham atau tertuduh melakukan kebohongan.”

Apa Untungnya Bicara Hal Ini?

Paling tidak ada tiga versi berlainan dalam kaitan siram-menyiram kubur, yang intinya sama yaitu tidak ada syariat siram-menyiram kubur dengan air. Mumpung hari jum’at kita bicara tentang kuburan. Tapi apa sih untungnya kita berbicara hal ini?. ya minimal kita tahu titik permasalahan dan syariat agama dengan benar dari sumber yang benar pula. Karena implementasi ke’tidak-tahu’an itu lumayan besar. Dari mengakal-akali syariat yang setiap syariat itu harus dengan rasional, atau mem’bid’ah-bid’ahkan orang lain yang tidak sepaham dengan alasan tidak ada dalil. Mari kita bahas satu persatu, dan kita mulai dari versi ketiga dulu.

Versi Ketiga: Hadits Ini Dhaif

Alhamdulillah dari versi ketiga ini sudah ada kemauan untuk mencari haditsnya. Meski pencariannya belum tuntas. Dasar pijakan hadits yang dipakai dalam hal menyiram kuburan dengan air adalah hadits:

” أن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) رش على قبر ابراهيم ابنه ووضع عليه حصباء ”

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Muhammad ShallaAllahu alaihi wa sallam menyiram [air] diatas kubur Ibrahim, anaknya dan meletakkan kerikil diatasnya.”

Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalan riwayat. Ketika hadits itu jalan riwayatnya banyak, maka kaidahnya adalah jika dari riwayat yang banyak itu ada satu hadits yang shahih, maka hadits lain yang dhaif tertutup oleh hadits shahih tadi.

Inilah yang sering kurang dipahami masyarakat awam yang sedang semangat belajar dan mengamalkan hadits-hadits shahih.Seolah alergi dengan cap dhaif dalam sebuah jalan riwayat hadits.

Padahal bisa saja ada hadits lain yang shahih yang bisa digunakan sebagai pijakan hukum. Maka saya khawatirkan, mengurang-ngurangi agama itu bisa lebih bahaya dari menambah-nambahinya. Berbohong atas nama Nabi itu bisa saja dengan mengatakan itu tidak dari Nabi padahal benar-benar dari Syariat Nabi Muhammad ShallaAllahu alaihi wasallam.

Dirasatul Asanaid

Kalau dahulu saya pernah menulis, mentakhrij sebuah hadits itu sekarang sangat mudah. Bahkan seperti pasang status di Facebook. Memang iya, Alhamdulillah dengan kemajuan tekhnologi ini telah membawa berkah yang sangat besar dalam perkembangan keilmuan termasuk dalam keilmuan keagamaan.

Mudah itu maksudnya kita tinggal tulis haditsnya di laptop yang sudah terhubung dengan internet, maka dengan klik enter saja akan keluar hadtis beserta jalan sanad dan derajat haditsnya. Kalo yang berbahasa indonesia ada lidwa.com atau yang berbahasa arab ada islamweb.net atau di forum ahlalhdeeth.com, tapi syaratnya ya harus bisa baca tulisan arab gundul dan tahu artinya.

Hadits diatas oleh Abu Daud dalam Marasilnya[2], Imam Baihaqi dalam Sunan-nya[3], Thabarani dalam Mu’jam Al Ausath[4].

Seperti yang dituliskan islamweb.com bahwa memang hadits ini diriwayatkan oeh banyak jalan:

As Sunan Al Kubro: Baihaqi

Hadits ini diriwayatkan Imam Baihaqi dari:

Ahmad Ibn Hasan [Tsiqah] dari Muhammad Bin Abdullah [Tsiqah] dari Muhammad bin ya’qub [Tsiqah] dari Robi’ bin Sulaiman [Tsiqah] dari Abdullah bin Wahab [Tsiqah] dari Sulaiman bin Bilal [Tsiqah] dari Ja’far bin Muhammad [Shaduq] dari Muhammad bin Ali [Tsiqah]. Hadits ini mursal hanya sampai kepada Muhammad bin Ali tetapi semua rawi termasuk kategori tsiqat kecuali Ja’far bin Muhammad. Beliau termasuk kategori shaduq maka haditsnya adalah hasan.

Hadits ini juga diriwayatkan Baihaqi dari Ahmad bin Husain [Tsiqah] dari Muhammad bin Musa [Tsiqah] menyambung ke jalan riwayat diatas kepada Muhammad bin Ya’qub [Tsiqah] hingga keatas.

Ma’rifatu as Sunan wal Atsar: Baihaqi

Meskipun Imam Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini dengan jalan lain dalam kitab beliau Ma’rifatu As Sunan wal Atsar. Jalan riwayatnya adalah:

Imam Baihaqi meriwayatan hadits dari Ahmad bin Al Husain [Tsiqah] dari Ahmad bin Al Hasan [Tsiqah] dari Muhammad bin Ya’qub [Tsiqah] dari Robi’ bin Sulaiman [Tsiqah] dari Muhammad bin Idris [Tsiqah] dari Ibrahim bin muhammad [Matrukul hadits/Sangat lemah] dari Ja’far bin Muhammad [Shaduq] sampai keatas.

Inilah mengapa Syeikh Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil mengatakan bahwa hadits ini sangat lemah. Karena ada Ibrahim bin Muhammad.

Al Marasil: Abu Daud

Imam Abu Daud meriwayatkan hadits ini dari jalan Sulaiman bin Al Asyast [Tsiqah] dari Abdullah bin Umar [Tsiqah] dari Abdul Aziz bin Muhammad [Shaduq] dari Abdullah bin Muhammad [Laitsa bik qawi] dari Muhammad bin Umar dari Muhammad bin Ali [Tsiqah].

Hadits ini, hanya karena ada satu perawi yang berpredikat laitsa bi qawi/tidaklah kuat yaitu Abdullah bin Muhammad maka menjadi haditsnya dhaif.

Mushannaf: Abdur Rozzaq

Abdurrozzaq meriwayatkan hadits ini dari jalan Abdurrozzaq bin Hammam [Tsiqah] dari Sufyan bin Said [Tsiqah] dari Said bin Abi Hilal [Tsiqah] dari Makhul bin Syahrab [Tsiqah] dari Muhammad bin Ali [Tsiqah]. Semua rawi tersambung dan semuanya tsiqat.

Musnad Imam Syafi’i: Muhammad bin Idris As Syafi’i

Lah, dari jalan inilah ada sebagian kelompok yang mengatakan bahwa haditsnya dhaif. Imam Syafi’i meriwayatkan hadits dari jalan Ibrahim bin Muhammad [Syadidu ad Dhu’fi/sangat lemah] dari Ja’far bin Muhammad [Shaduq] dari Muhammad bin Ali [Tsiqah].

Al Mu’jam Al Ausath: At Thabarani

Disinilah lakonnya. Imam At Thabarani meriwayatkan hadits ini dari jalan Sulaiman bin Ahmad [Tsiqah] dari Muhammad bin Zuhair [Shaduq] dari Ahmad bin Abdah [Tsiqah] dari Abdul Aziz bin Muhammad [Shaduq] dari Hisyam bin Urwah [Tsiqah] dari Urwah bin Zubair [Tsiqah] dari Aisyah binti Abdullah [Tsiqah].  Semua rawinya selamat dari dhaif. Maka haditsnya hasan karena ada rowi yang shaduq.

Maka jawaban untuk versi ketiga bahwa haditsnya dhaif terjawabkan.

Bagaimana Dengan Syeikh Al Albani?

Tidak bisa dipungkiri bahwa beliau merupakan ulama’ zaman ini yang intens bergelut dalam takhrij hadits. Tak tanggung-tanggung, kitab para ulama’ yang sudah mapan dipakai umat islam seperti kitab Sunan para imam ahli hadits tak luput dari koreksi ulang.

Seperti kitab karya At Tirmidzi[5] atau dikenal juga dengan Al Jami’ atau Sunan At Tirmidzi. Oleh Syeikh Al Albani dikoreksi ulang dan dipecah jadi dua kitab yaitu Shahih At Tirmidzi dan Dhaif At Timidzi.

Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada beliau atas jasa-jasanya. Beliau telah menggugah umat islam untuk tidak stagnan dan kritis walaupun kepada sesuatu yang sudah mapan. Tetapi perlu diingat juga, beliau juga seorang manusia yang sangat mungkin salah. Karena tidak semua pengkritik itu lebih benar daripada yang dikritik. Kita juga harusnya bersikap kritis terhadap karya beliau dan tidak ngekor bebek kepada setiap penghukuman beliau atas sebuah hadits. Seolah jika dalam kitab yang sudah tertera label shahih shahih atau dhaif Al Albani sudah begitu saja diterima tanpa mau dikritik.

Terkait penilaian beliau atas hadits menyiram kuburan dengan air, kita bisa temukan dalam beberapa kitab beliau. Diantaranya dalam kitab Irwa’ Al Ghalil[6]. Beliau menyebutkan bahwa hadits ini selain mursal juga diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dari jalan Ibrahim bin Muhammad dan dia termasuk muttaham bil kadzib; dicurigai melakukan kebohongan. Baru dicurigai berbohong saja dalam ilmu sanad hadits sudah menjadikan hadits itu dhaif.

Tapi nanti dulu, disinilah pentingnya belajar jangan setengah-setengah. Bagi ikhwah yang sering menshahihkan atau mendhaifkan hadits dengan acuan takhrij Syeikh Al Albani, maka sebaiknya jangan langsung melihat hasil akhir penilaian beliau, tapi lihatlah bagaimana hadits itu bisa menjadi dhaif. Maka ketika taqlid kepada salah satu madzhab empat yang muktamad itu dilarang, seharusnya taqlid kepada penilaian hadits seorang ulama’ yang belum tentu muktamad juga dilarang.

Di kitab ini beliau menghukuminya dalam kategori hadits dhaif. Tapi ternyata beliau memasukkan hadits ini dalam kitab Silsilatul Ahadist As Shahihah[7]. Nah lho!

وقال الشيخ الألباني رحمه الله : ” في رش القبر أحاديث كثيرة ، ولكنها معلولة – كما بينت ذلك في “الإرواء” (3/205 – 206) . ثم وجدت في “أوسط الطبراني” حديثاً بإسناد قوي في رشه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لقبر ابنه إبراهيم ، فخرجته في “الصحيحة” (3045) ” انتهى من ” سلسلة الأحاديث الضعيفة ” 13/994

Artinya: Syeikh Al Albani berkata: menyiram kubur dengan air memang terdapat banyak hadits. Tetapi ada cacatnya, sebagaimana telah saya jelaskan dalam kitab Irwa’ Al Ghalil: 3/205-206. Tetapi saya lantas mendapati sebuah hadits lain dalam kitab Ausath at Thabarani dengan sanad yang kuat tentang Nabi yang menyiram kubur Ibrahim, anaknya dengan air. Maka saya takhrij lagi dalam kitab as Shahihah: 3045. Dari kitab silsilatul Ahadits As Dhaifah: 13/994.

Itu sungguh pengakuan yang bagus dari Syeikh Nasiruddin Al Albani. Tapi pertanyaannya, apakah ada takhrij ulang dari kitab Irwa’ Al Ghalil? Bagaimana jika ada orang yang hanya belajar dari kitab Irwa’ Al Ghalil tanpa melihat kitab Silsilatul Ahadits As Shahihah atau ad Dhaifah? Bagaiamana kita bisa tahu, penilaian manakah yang lebih baru dari takhrij beliau? Apakah tidak dikhawatirkan ketika ada yang mengambil takhrij dari satu kitab beliau tanpa membaca kitab yang lain?

Sepertinya saya juga tidak bisa menjawab.

Versi Kedua: Ini Tidak Ada Dalilnya.

Kadang geregetan juga jika ada orang yang sedikit-sedikit berdalil: “Ini tidak ada dalilnya, ini tidak ada pada Salafus Shalih, ini hal baru” tanpa benar-benar mencari tahu atau sekedar ingin tahu. Tak tahu dan tak ingin tahu itulah yang menjadi awal dalil, “tidak ada dalil”.

Ibnu Quddamah dalam kitabnya Raudhatu An Nadzir[8] ketika menerangkan tentang istishabul hal membuat sebuah kaidah yang bagus:

“إن عدم العلم بالدليل ليس حجة والعلم بعدم الدليل حجة”

Artinya: “Tidak mengetahui adanya dalil itu bukan hujjah, yang menjadi hujjah adalah mengetahui tidak adanya dalil.”

Versi Pertama: Biar Adem, Kenapa Tidak Dengan Air Satu Bak Saja?

Akal sehat tidak akan bertentangan dengan nash yang shahih, itulah prinsipnya. Karena Dzat yang menciptakan akal tidak lain adalah Dzat yang menurunkan nash. Dalam agama, ada perkara-perkara yang bisa dipahami dengan akal dan rasional.

Tetapi ada juga hal-hal yang tak bias dipahami dengan rasional otak saja. Contoh mudahnya ketika kentut kenapa yang dibasuh dalam wudhu kok bukan jalan keluarnya kentut. Bahkan dalam kehidupan nyata pun juga ada, ketika yang sakit adalah mata, kenapa yang disuntik malah bokongnya.

Ali bin Abi Thalib berkata: “Seandainya agama ini dengan akal maka tentunya bagian bawah khuf (semacam kaos kaki yang terbuat dari kulit) lebih utama untuk diusap (pada saat berwudhu-red) daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuf-nya.” HR Abu Dawud.

Menyiram kuburan dengan air, meskipun kita tidak tahu apa manfaat dibalik itu tetapi telah ada riwayat yang shahih menerangkan bahwa Nabi Muhammad ShallaAllahu alaihi wa sallam pernah menjalankannya.

Epilog

Maksud dari tulisan ini bukanlah menganjurkan untuk menyiram kubur dengan air. Tetapi terlebih kepada anjuran untuk selalu bersemangat untuk belajar agama lebih dalam lagi, tidak membatasi diri hanya belajar dari satu kelompok saja, dan selalu kritis selama didasari dari dalil yang kuat.

Yang terpenting bukanlah menyiram kubur dengan air, tetapi menyiram para penghuni kubur dengan do’a yang selalu menjadikan mereka sejuk di alam sana. Kita semua akan mati, akan habis jatah beramal kita. Tapi jika kelak ketika mati, kita meninggalkan anak-anak yang tak henti mendo’akan kita maka itulah INVESTASI AKHIRAT YANG LUAR BIASA.

Wallahu A’lamu bish Shawab

Oleh: Luthfi Abdu Robbihi

Rumah Fiqih Indonesia 

_______________________________________

Footnote:

[1] Irwa’ Al Ghalil: Nashiruddin Al Albani, Hal. 3/205-206

[2] Al Marasil: Abu Daud, Hal. 304/424

[3] Sunan Baihaqi: Baihaqi, Hal. 3/311

[4] Mu’jam Al Ausath: At Thabarani, Hal: 2/80

[5] Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan, lahir pada 279 H di kota Tirmiz arah selatan dari sungai Jaihun, bagian selatan Iran.

[6] Irwa’ Al Ghalil: Nashiruddin Al Albani, Hal. 3/205-206

[7] Silsilatul Ahadits As Shahihah: Al Albani, Hal. 13/994, No. Hahdits: 3045

[8] Raudhatu An Nadzir: Ibnu Quddamah, Hal. 1/156

Rep/Red: Shabra Syatila

sumber: http://www.fimadani.com 12 June 2012 8:23 pm

Khitan Rasulullah

In Shirah, Tsaqafah on 12 Oktober 2012 at 11:29

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum wr wb

Pak ustadz saya sering ditanya teman tentang sunat/khitannya Rasulullah, ada yang bilang kata Rasulullah dikhithan sejak lahir tapi saya belum menemukan nash/dalilnya, mohon jawaban berikut dalilnya.

Wasalamu ‘alaikum wr wb.

Rabu September 19, 2012 at 2:26 pm (Penanya: Sunhaji)

Jawaban

wassalamu alaikum wrwb

sebagian ulama menyatakan begitu, dalilnya

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: رَسُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مِنْ كَرَامَتِيْ عَلَى اللهِ أَنْ وُلِدْتُ مَخْتُوْنًا وَلَمْ يَرَ أَحَدٌ سَوْأَتِيْ

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Termasuk bagian karamahku (kemuliaanku) dari Allah, aku dilahirkan dalam keadaan telah dikhitan, dan tidak seorang pun melihat auratku.” namun hadits ini lemah,

mereka menyatakan nabi dikhitan pada hari ke 7 kelahirannya
عن ابن عباس أن عبد المطلب ختن النبي صلى الله عليه وسلم يوم سابعه وجعل له مأدبة وسماه محمدا

Artinya:
dari Ibnu Abbas; bahwa Abdul Muthtalib mengkhitan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari ke tujuh dan membuat jamuan makan serta menamakannya dengan Muhammad
wallahu a’lam

(Penjawab: ustadz Ismeidas Makfiansah – Jakarta)

Meng-qodho puasa orang lain

In Fiqh on 24 Juli 2012 at 09:59

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Saya mau nanya: Apakah kita bisa mewakilkan / mengqodho puasa untuk orang lain….?? kalau bisa bagaimana caranya & apakah ada dalil – dalilnya ( ayat2 atau hadits2 ) tentang tatacara mewakilkan qodho puasa untuk orang lain & syarat – syarat orang yang boleh di wakilkan qodho puasanya…??. Terimakasih.
Wassalamu alaikum wr.wb.

Time: Kamis Juli 5, 2012 at 1:34 pm (penanya: Shabri)

Jawaban:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Persoalan mengqodho puasa untuk orang lain, dalam hadits hanya berkenaan qodho puasa buat orang tua, tdk untuk yang lainnya

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya. ”[3]

Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah ahli waris[4].

Namun hukum membayar puasa di sini bagi ahli waris tidak sampai wajib, hanya disunnahkan.[5] Juga hadits Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ ، وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ ، أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ – قَالَ – فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى »
“Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan dia memiliki utang puasa selama sebulan [dalam riwayat lain dikatakan: puasa tersebut adalah puasa nadzar], apakah aku harus mempuasakannya?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya. Utang pada Allah lebih pantas engkau tunaikan
Dan hal ini pun ada perbedaan pendapat oleh para ulama. Sebagian kalangan membolehkan mengqodho jika seseorang tdk dapat berpuasa karena halangan tertentu dan ia bs mengganti puasa tersebut dibulan lain namun tdk sempat dan sdh keburu meninggal. Bagi yg tdk dpt berpuasa dan tdk sanggup mengganti ya tdk perlu diqodho, cukup membayar fidyah, spt orng jompo dll

(Penjawab: ustadz Ismeidas Makfiansah – Jakarta)

Hukum Oral Seks

In Fiqh, Keluarga on 18 Juli 2012 at 12:11
Pertanyaan:
Assalamu ‘Alaikum …. , Apa hukum oral seks? (dari 081546143xxx)
 
Jawaban:
Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh. 
Bismillah wal hamdulillah was Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Aalhi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:
 
Hukum oral seks, baik yang melakukan adalah suami (cunilingus), atau isteri (fellatio), para ulama kontemporer (zaman sekarang) berbeda pendapat. Mereka terbagi atas tiga golongan. Ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan membolehkan. Sedangkan ulama klasik, setahu saya belum pernah mendiskusikannya. Wallahu A’lam.
 
                Golongan yang mengharamkan, mereka beralasan dengan najisnya madzi yang ada pada kemaluan baik laki atau wanita ketika sedang syahwat, yang jika tertelan maka itu haram. Tentang najisnya madzi, para ulama kita semua sepakat, tidak berbeda pendapat.
 
عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ
 
                Dari ‘Ali, dia berkata: “Saya adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku perintah seseorang untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantaran posisiku sebagai mantu beliau (maksudnya Ali malu bertanya sendiri), maka orang itu bertanya, lalu Rasulullah menjawab: “Wudhulah dan cuci kemaluanmu.” (HR. Bukhari No. 269)
               
 Hadits ini menunjukkan kenajisan madzi, hanya saja tidaklah wajib mandi janabah, melainkan hanya wudhu sebagaimana teks hadits tersebut. Oleh karena madzi adalah najis maka ia haram tertelan, yang sangat mungkin terjadi ketika oral seks. Alasan lainnya, karena oral seks merupakan cara binatang, dan kita dilarang menyerupai binatang. Wallahu A’lam.
 
                Golongan yang memakruhkan, mereka beralasan bahwa  oral seks belum tentu menelan madzi melainkan hanya sekedar kena, baik karena dikecup atau jilat. Mulut atau lidah yang terkena madzi, tentunya sama saja dengan kemaluan suami yang menyentuh madzi isteri ketika coitus (jima’). Sebab ketika jima’,  otomatis madzi tersebut pasti mengenai kemaluan ‘lawannya.’ Nah, jika itu boleh, lalu apa bedanya jika mengenai anggota tubuh lainnya, seperti mulut? Sama saja. Hanya saja, hal tersebut merusak muru’ah (akhlak baik) dan menjijikan. Lagi pula tidak sepantasnya, mulut dan lidah yang senantiasa berdzikir dan membaca Al Quran, digunakan untuk hal itu. Oleh karena itu bagi mereka hal tersebut adalah makruh, tidak sampai haram.
 
                Golongan yang membolehkan, mereka beralasan bahwa suami bagi isteri, atau isteri bagi suami adalah halal seluruhnya, kecuali dubur dan ketika haid. Sedangkan alasan-alasan pihak yang mengharamkan (tertelannya madzi) sudah dijawab, dan alasan pihak yang memakruhkan (merusak muru’ah dan menjijikkan)pun bagi golongan ini tidak bisa diterima. 
 
                Alasan merusak muru’ah (citra diri/akhlak baik) adalah alasan yang lemah, sebab dahulu Umar bin Al Khathab ketika dia menjima’ isterinya dari belakang (tapi bukan dari dubur) istilahnya doggy styleyangjelas-jelas menyerupai  binatang,  ternyata itu dibolehkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal Umar Radhiallahu ‘Anhu merasa bersalah, karena itu bukan kebiasaannya dan bukan kebiasaan kaumnya. Sebagaimana oral seks hari ini bukanlah kebiasaan orang Timur, melainkan kebiasaan orang Barat. Namun, demikian tidak ada satu pun riwayat yang berindikasi mencela Umar dalam hal ini, yang ada justru sebaliknya.
 
                Alasan menjijikan juga  alasan yang lemah, sebab jijik atau tidak, sifatnya sangat relatif dan personally (pribadi). Tidak sama pada masing-masing orang. Bila ada  orang merasa jijik dengan kulit ayam, tidak berarti kulit ayam adalah haram atau makruh. Khalid bin Walid pernah makan biawak di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam namun tidak dilarang oleh Rasulullah, walau pun dia tidak suka, walau itu menjijikan, karena makan biawak bukanlah kebiasaan manusia di daerah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
 
                Dalam riwayat yang shahih dari Anas bin Malik  bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyuruh suku Urainah untuk meminum air kencing Unta untuk obat. Padahal, bisa jadi bagi sebagian orang kencing Unta adalah menjijikan, tapi riwayat itu dijadikan dalil oleh sebagian ulama tentang sucinya air kencing Unta. Wal hasil, masalah ‘perasaan’ jijik bukanlah ukuran dan alasan diharamkannya sesuatu.
 
                Golongan yang membolehkan juga beralasan pada ayat berikut:
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ
                “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al Baqarah (2): 223) 
 
                Anna syi’tum(bagaimana saja kamu kehendaki) hanya berlaku pada qubul (kemaluan) bukan dubur.
                Imam Al Qurthubi –seorang ulama tafsir madzhab Maliki- berkata:
وقد قال أصبغ من علمائنا: يجوز له أن يلحسه بلسانه.
                “Telah berkata Ashbagh dari golongan ulama kami (Maliki): “Boleh bagi suami menjilat kemaluan isterinya dengan lidahnya.”   (Imam Al Qurthubi,  Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Juz. 12, Hal. 222. Dar Ihya Ats Turats Al ‘Araby, Beirut – Libanon. 1985M-1405H)
                Perlu diketahui, semua hadits-hadits yang melarang melihat kemaluan isteri atau suami, adalah dha’if bahkan ada yang maudhu’ (palsu). Justru bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang menunjukkan sebaliknya. Insya Allah Ta’ala akan saya bahas di lain kesempatan.
 
 
Pandangan Syaikh Al ‘Allamah Yusuf Al Qaradhawy hafizhahullah:
 
                Beliau berkata: “Di dalam masyarakat seperti Amerika dan masyarakat Barat lainnya, terdapat tradisi dan kebiasaan dalam hubungan biologis antara suami isteri yang berbeda dengan kebiasaan kita, seperti bertelanjang bulat,  suami melihat kemaluan isteri, atau isteri mempermainkan kemaluan suami, atau mengecup kemaluan suami, dan sebagainya yang apabila telah menjadi biasa menjadi tidak menarik dan membangkitkan syahwat lagi, sehingga memerlukan cara-cara lain yang kadang hati kita tidak menyetujuinya. Ini merupakan suatu persoalan dan mengharamkannya –atas nama agama- juga merupakan persoalan lain lagi. Dan tidak boleh sesuatu diharamkan kecuali jika ditemukan nash (teks agama) yang sharih (jelas) dari Al Quran dan As Sunnah yang mengharamkannya. Kalau tidak ada nash, maka pada dasarnya adalah boleh.
 
Ternyata, tidak ada nash yang shahih dan sharih yang menunjukkan haramnya tindakan suami isteri seperti itu. Oleh karena itu, dalam kunjungan saya ke Amerika yakni ketika menghadiri Muktamar Persatuan Mahasiswa Islam dan mengunjungi pusat-pusat Islam di berbagai wilayah di sana, apabila saya menerima pertanyaan mengenai masalah itu –biasanya pertanyaan datangnya dari wanita muslimah Amerika- maka saya cenderung memudahkannya, bukan mempersulit, melonggarkannya bukan mengetatkannya, memperbolehkannya dan tidak melarangnya.” (Dr. Yusuf Al Qaradhawy, Fatwa-Fatwa Kontemporer, Jilid. 2, Hal. 492-493. Cet. 2 1996M. Gema Insani Press, Jakarta)
Demikian. Wallahu A’lam.
 
Penjawab: Ustadz Farid Nu’man

Sahkah Mandi Jubub Saya?

In Fiqh, Tsaqafah on 24 Mei 2012 at 01:13

Pertanyaan:

Bismillahirahmani rahim..
assalamu’alaikum wr.wb.

Sebelumnya mohon Maaf pak ustadz saya mau brtanya tentang sah atw tdk nya mandi junub saya.. begini pak ustdz  sblm saya mandi junub saya suka mandi biasa untk membersihkan nazis dn ktoran yg ada d badan saya..memakai sabun dsb.. kemudian wudlu seprti mau solat tanpa membasuh ke 2 kaki..kemudian kembali berkumur,membasuh lubang hidung,membasuh muka dn ke 2 tangan,kemudian saya langsung menuangkan air ke kepala 3x sambil membaca niat mandi,lalu membasuh seluruh badan tp tanpa pakai sampo dn sabun mandi..stlh itu membasuh ke 2 kaki dn berdoa doa stlh wudlu..

Mhon bimbinganya..trimakasih..
(penanya: Hendi)

Jawaban:

waalaikum salam
insya Allaah syah. syahnya ibadah itu jika terpenuhi syarat dan rukunnya. syaratnya mandi seperti syarat ibadah yang lain; islam baligh, berakal. rukun mandi junub: 1.Niat dan 2. meratakan siraman air ke seluruh anggota badan (tentunya sambil membersihkan kotoran yang ada). yang alinnya tergolong sunnat (wudlu dulu, pakai sabun dan sampo, dimulai dari bagian atas dan sebelah kanan, dll)

afwan terlambat buka dan balas. semoga bermanfaat.wallaahu a’lam.

(penjawab: ustadz Bisri Haerudin – Tangerang)

Terkena Najiskah?

In Fiqh, Muamalah, Tsaqafah on 17 Mei 2012 at 00:35

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Belum lama ini saya berkunjung ke rumah teman yang mempunyai anjing. Saya sempat duduk dan bersalaman dengan teman saya. Saya takut dia atau sofanya ada bekas najisnya. Setahu saya waktu itu dia tidak pegang anjing. Tapi siapa tahu sebelum saya datang, dia bermain dengan anjing.
1. Apakah saya terkena najis atau tidak?
2. Kalau misalkan saya terkena, apa saya harus bersuci dengan menyiram seluruh tubuh saya dan mencucinya dengan sabun sebanyak 7 kali dan sekali dengan tanah? Apa rambut saya juga harus dilumuri tanah?
3. Lalu bagaimana dengan baju saya? Kalau dianggap terkena, tangan saya sudah pegang baju saya sendiri. Apa baju saya terkena najis juga? Lalu bagaimana cara membersihkannya?

Terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(Penanya: Yus Andy)

Jawaban:

wa’alaikumus salam
bismillah, Islam memerintahkan kita bersuci dari najis dan hadats yang jelas dan pasti, bukan atas dasar khawatir, asumsi, praduga. Sedangkan yang ragu, tidak pasti najisnya, maka hukumnya kembali ke hukum asal yaitu suci, tanpa beban. wallahu a’lam.

(penjawab: ustadz Fadlan Adham Hasyim, Lc. – Yogya)

membayarkan hutang orang tua

In Fiqh, Muamalah, Tsaqafah on 13 Mei 2012 at 02:07

pertanyaan:

Assalamualaikum,

Ortu sy sudah meninggal dan mampunyai utang kepada orang lain serta bank, bagaimana caranya agar beban utangnya pindah ke saya, tetapi saya belum mampu mambayar lunas utang tersebut, sy membayar dengan cara mencicil perbulan.

Wassalam
(penanya: yobi)

jawaban:

Membayar hutang merupakan hal yang sangat penting dalam Islam, bahkan bisa menyebabkan masalah di alam kubur.

Rasulullah saw. berdah sabda: “Jiwa (ruh) seorang Mukmin akan tergantung (terkatung-katung) selama dia masih memiliki hutang.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Sehingga menjadi tuntunan apabila orang yang meninggal masih memiliki hutang maka ada pihak yang membayarkan hutangnya, bisa pihak keluarga maupun pihak lain yang peduli.

“Bahwasanya, pernah dihadapkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang jenazah untuk beliau shalati. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia punya hutang?” Mereka menjawab, “Tidak”, maka beliau pun menyalatinya. Kemudian didatangkan kepada beliau jenazah yang lain, lalu beliau bertanya, “Apakah dia punya hutang?”, Mereka menjawab, “Ya” maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Shalatilah teman kalian ini oleh kalian”. Abu Qatadah berkata, “Wahai Rasulullah. Saya yang akan melunasi hutangnya”, maka beliau pun mau menyalatinya”. (HR. Bukhari).

Pihak keluarga, terlebih seorang anak tentu memiliki tanggung jawab lebih terhadap orang tuanya, termasuk dalam hal membayarkan hutang-hutang mereka.

Suatu ketika Nabi saw pernah ditanya oleh seseorang, “Ya Rasulullah, ibuku sudah meninggal dalam kondisi memiliki hutang puasa. Bolehkan aku berpuasa untuknya?” Beliau berkata, “Bagaimana jika ibumu memiliki hutang, apakah engkau akan membayarkannya?! Bayarkanlah (hutang tersebut) sebab Allah lebih berhak untuk dibayar.” (HR. Muslim).

Masih banyak dalil lain yang menegaskan tentang masalah membayarkan hutang ini, tetapi kami anggap tiga dalil di atas sudah cukup mewakili. Tentang tehnis cara membayarkan hutang, pihak yang akan membayarkan (dalam konteks ini adalah sang anak) cukup berniat akan membayarkan hutang orang tuanya lalu mendatangi orang dan bank tempat orang tuanya berhutang untuk membicarakan tata cara pemindahan hutang dan penjadwalan pencicilan hutang tersebut.

Semoga niat dan usaha Anda membayarkan hutang orang tua menjadi catatan amal kebaikan.

(Penjawab: Abu Abdullah – Yogya)

Onani atau Masturbasi dalam Pandangan Islam

In Fiqh, Tsaqafah on 9 Februari 2012 at 20:55

Assalamu’alaikum, wr. wb.

Mohon jawaban ustad tentang beberapa pertanyaan saya ini karena saya sangat sulit mencari literatur yang membahas hal ini dari sudut pandang syariat Islam. Jarang sekali kitab fiqih yang membahasnya dan kalopun ada itu sangat singkat sekali dan tidak mendalam

1. Aapakah onani termasuk dosa besar dan sama dengan zina?
2. Adakah hukuman had untuk pelakunya?
3. Apakah seseorang yang mengeluarkan mani karena sesuatu yang bukan sentuhan misalnya melihat film atau sejenisnya secara syar’i dimasukkan kedalam kategori onani?
4. Adakah solusi secara syar’i untuk menolong orang-orang yang sudah addict akan hal ini?
5. Bagaimanakah kedudukan dan maksud dari zina tangan, zina mata, bahkan ada seorang ustad yang menghukumi orang yang berfikiran atau membayangkan mesum juga sebagai zina. Samakah kedudukan zina ini dengan zina seperti yang digambarkan rosul dalam hadist?

Terima kasih.

khoirul.insan

Jawaban

Wa’alaikumussalam Wr Wb

Apakah Onani Sama Dengan Zina

Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa telah terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama dalam permasalahan onani :

1. Para ulama madzhab Maliki, Syafi’i dan Zaidiyah berpendapat bahwa onani adalah haram. Argumentasi mereka akan pengharaman onani ini adalah bahwa Allah swt telah memerintahkan untuk menjaga kemaluan dalam segala kondisi kecuali terhadap istri dan budak perempuannya. Apabila seseorang tidak melakukannya terhadap kedua orang itu kemudian melakukan onani maka ia termasuk kedalam golongan orang-orang yang melampaui batas-batas dari apa yang telah dihalalkan Allah bagi mereka dan beralih kepada apa-apa yang diharamkan-Nya atas mereka. Firman Allah swt

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥﴾
إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦﴾
فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ﴿٧﴾

Artinya : “dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mukminun : 5 – 7)

2. Para ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa onani hanya diharamkan dalam keadaan-keadaan tertentu dan wajib pada keadaan yang lainnya. Mereka mengatakan bahwa onani menjadi wajib apabila ia takut jatuh kepada perzinahan jika tidak melakukannya. Hal ini juga didasarkan pada kaidah mengambil kemudharatan yang lebih ringan. Namun mereka mengharamkan apabila hanya sebatas untuk bersenang-senang dan membangkitkan syahwatnya. Mereka juga mengatakan bahwa onani tidak masalah jika orang itu sudah dikuasai oleh syahwatnya sementara ia tidak memiliki istri atau budak perempuan demi menenangkan syahwatnya.

Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.