tjislam

Menjawab Salam Non-Muslim

In Uncategorized on 1 April 2014 at 11:10

Pertanyaan:

Assalamu Alaikum.

saya ingin bertanya apakah haram hukumnya bila salam non muslim dijawab, krna saya bingung ada yg bilang Haram hukumnya & ada yg bilang tdk.

mohon penjelasannya trima kasih

 

Jawaban:

Wa’alaikum salam wr.wb.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi ajmain. Wa ba’du:

Pertama-tama perlu diketahui bahwa muslim tidak boleh memulai mengucap salam kepada non-muslim berdasarkan hadits Nabi saw, “Jangan memulai memberi salam kepada yahudi dan nasrani…” Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Sebagian kalangan (misalnya madzhab Ibnu Abbas) membolehkan memulai memberi salam jika memang ada kepentingan mendesak atau untuk menangkal bahaya. Yaitu dengan ucapan “Assalamu alaika”  untuk satu orang dan “Assalamu alaikum” untuk banyak orang. Hanya saja, menurut yang lain jika memang terpaksa harus memulai mengucap salam kepada non-muslim, sebaiknya ucapan salam yang diberikan adalah redaksi yang bersifat umum seperti selamat pagi dst.

Lalu bagaimana dengan menjawab salam mereka seperti pertanyaan Anda di  atas?
Rasulullah saw bersabda, “Jika ahlul kitab memberi salam kepadamu, jawablah, “Wa alaikum.” Lalu apakah boleh menjawab dengan ucapan “wa alaikumussalam”?  Syeikh Ibn Utsaymin membolehkan dengan alasan menyesuaikan dengan salam mereka. Yaitu ketika mereka mengucap “Assalamu alaikum.” Beliau mendasarkan pendapatnya pada ayat 86 dari surat an-Nisa secara umum. Hanya saja menurut pendapat jumhur, jawaban atas salam mereka cukup dengan redaksi pertama yaitu wa alaika atau wa alaikum.

Jadi kesimpulannya, boleh menjawab salam mereka. Namun sebaiknya dengan redaksi wa alaika atau wa alaikum.

Wallahu a’lam
Wassalamu alaikum wr.wb.

Sumber: Syariah Online (dengan sedikit editan)

Kumpulan Fatwa Tentang Natal

In Aqidah, Fiqh, Muamalah, Tsaqafah on 25 Desember 2013 at 12:45

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA

Memperhatikan:

  1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.
  2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalam kepanitiaan Natal.
  3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan Ibadah.

Menimbang:

  1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.
  2. Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.
  3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah Swt.
  4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar ummat Beragama di Indonesia.

Meneliti kembali:
Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:

  1. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas Al Hujarat: 13; Lukman:15; Mumtahanah: 8 *).
  2. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain, berdasarkan Al Kafirun: 1-6; Al Baqarah: 42.*)
  3. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasula Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi yang lain, berdasarkan: Maryam: 30-32; Al Maidah:75; Al Baqarah: 285.*)
  4. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan: Al Maidah:72-73; At Taubah:30.*)
  5. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan kepada Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab Tidak. Hal itu berdasarkan atas Al Maidah: 116-118.*)
  6. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt itu hanya satu, berdasarkan atas: Al Ikhlas 1-4.*)
  7. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin Basyir (yang artinya): Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah Agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin sekali binatang itu makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).

Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:

  1. Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
  2. Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
  3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Swt dianjurkan untuk (dalam garis miring): tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H/ 7 Maret 1981 M.
KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua (K.H.M. Syukri Ghozali),
Sekretaris (Drs. H. Masudi)

——–
*) Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar Al Quraan yang disebutkan tadi ditulis lengkap dalam Bhs Arab dan terjemahannya, Bhs Indonesia.

dikutip dari: http://nu4pabuaran.wordpress.com/ & http://eramuslim.com/

Syaikh Yusuf Qardhawi

Qardhawi menjelaskan : “ saya tidak mengingkari umat nashrani di negeri mereka merayakan hari raya mereka, bahkan saya mempunyai fatwa yeng membolehkan ucapan selamat kepada umat nashrani dalam hari raya Natal, dimana ini bertentangan dengan apa yang difatwakan oleh Ibnu Taimiyah yang mengatakan ketidak bolehan hal tersebut, dan banyak ulama di Saudi dan negara-negara teluk yang merujuk pada fatwa (haram) tersebut”

Qardhawi merincikan bahwa kebolehan ucapan selamat dalam fatwanya itu berlaku pada tetangga atau sahabat non muslim, karena hal tersebut termasuk dalam pintu kebajikan yang tidak dilarang oleh Allah SWT dalam ayat Mumtahanah 8 : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Meskipun demikian, beliau tetap mengingkari sikap berlebihan sebagian kaum muslimin dalam perayaan hari raya non muslim. Qardhawi menyatakan : “ akan tetapi saya telah memperingatkan dalam salah satu khutbah jumat saya sekitar dua pekan sebelumnya, bahwasanya sebagain kaum muslimin bersikap berlebihan dalam perayaan Natal, padahal mereka bukanlah umat kristen, dan masyarakat kita bukanlah masyarakat kristen, dan (anehnya) mereka tidak melakukan hal yang sama saat Iedul Fithri dan Iedul Adha .. “

Qardhawi melanjutkan : “karena itulah saya mengingkari hal tersebut, khususnya setelah Swiss melarang adzan yang tidak mengganggu seorangpun, begitu pula Perancis yang melakukan survei yang memunculkan angka 40% dari orang perancis mengatakan : seharusnya yang dilarang adalah masjid bukan adzan saja !! . Inilah yang mereka lakukan , sementara kita di negeri kita ikut merayakan hari Natal dengan batas-batas tertentu ..

sumber: http://info-qardhawi.blogspot.com

Lembaga Riset dan Fatwa Eropa

Juga membolehkan pengucapan selamat ini jika mereka bukan termasuk orang-orang yang memerangi kaum muslimin khususnya dalam keadaan dimana kaum muslimin minoritas seperti di Barat. Setelah memaparkan berbagai dalil, Lembaga ini memberikan kesimpulan sebagai berikut : Tidak dilarang bagi seorang muslim atau Markaz Islam memberikan selamat atas perayaan ini, baik dengan lisan maupun pengiriman kartu ucapan yang tidak menampilkan simbol mereka atau berbagai ungkapan keagamaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam seperti salib. Sesungguhnya Islam menafikan fikroh salib, firman-Nya :

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا ﴿١٥٧﴾

Artinya : “Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (QS. An Nisaa : 157)

Kalimat-kalimat yang digunakan dalam pemberian selamat ini pun harus yang tidak mengandung pengukuhan atas agama mereka atau ridho dengannya. Adapun kalimat yang digunakan adalah kalimat pertemanan yang sudah dikenal dimasyarakat.

Tidak dilarang untuk menerima berbagai hadiah dari mereka karena sesungguhnya Nabi saw telah menerima berbagai hadiah dari non muslim seperti al Muqouqis Pemimpin al Qibthi di Mesir dan juga yang lainnya dengan persyaratan bahwa hadiah itu bukanlah yang diharamkan oleh kaum muslimin seperti khomer, daging babi dan lainnya.

Diantara para ulama yang membolehkan adalah DR. Abdus Sattar Fathullah Sa’id, ustadz bidang tafsir dan ilmu-ilmu Al Qur’an di Universitas Al Azhar, DR. Muhammad Sayyid Dasuki, ustadz Syari’ah di Univrsitas Qatar, Ustadz Musthafa az Zarqo serta Syeikh Muhammad Rasyd Ridho.

sumber: http://www.eramuslim.com/ dari http:// http://www.islamonline.net/

Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’

Di dalam bank fatwa situs www.Islamonline.net Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’, menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.

Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut jenazah tersebut.

Sehingga menurut beliau, ucapan tahni’ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.

Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni’ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.

Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni’ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.

Dr. Ali Jumah (Mantan Mufti Dar-Ifta’ Mesir)

Dalam video resmi Dar-Ifta’ Mesir, beliau secara tegas bahwa mengucapkan Tahniah kepada Nasrani (Masihi) untuk hari raya mereka, termasuk natal yang mereka anggap itu wafatnya Isa ‘Alaihisalam, itu dibolehkan.

Dalil yang digunakan oleh beliau mirip dengan apa yang disampaikan oleh DR. Yusuf Al-Qaradhawi atau juga Sheikh Mustafz Al-Zarqa’, dan juga spertinya Prof. DR Quraish Shibah dalam bukunya “Quraish Shihab Menjawab” itu juga mengikuti fatwanya DR. Ali Jumah dalam berargumen.

Sumber:  Rumah Fiqh

Habib Munzir Al Musawwa (Pemimpin Majelis Rasulullah SAW)

Habib Munzir Al Musawwa menyatakan mengenai Natal sebagai berikut:

“Mengenai ucapan Natal, hal itu dilarang dan haram hukumnya jika diniatkan untuk memuliakan agama lain, namun jika diniatkan untuk menjalin hubungan baik agar mereka tertarik pada islam atau tidak membenci islam, maka hal itu ada sebagian ulama yg memperbolehkan”, kata Habib Munzir dalam situs resmi Majelis Rasulullah SAW.

Mengucapkan selamat untuk menyambut kemuliaan agama lain haram hukumnya secara mutlak. Namun, jika tidak untuk memuliakan agama lain, seperti ingin mempererat hubungan dengan mereka, apakah itu keluarga atau teman, atau siapapun agar mereka tertarik pada kebaikan dan keramahan agama Islam maka hal ini khilaf, sebagian ulama memperbolehkan dan sebagian tetap mengharamkan, kelompok yang membolehkan ucapan Natal / tahun baru / waisak dan sebagainya jika betul betul diyakini perbuatan itu bisa membuatnya tertarik pada Islam. Toh kita sama sekali tak memuliakan selain Allah SWT. Jika ragu, maka lebih baik jangan dilakukan.

Beliau juga menambahkan bahwa masalah ini adalah masalah sikon dan kekuatan iman, seseorang jika mengucapkan selamat hari Natal pada nasrani tidak berarti ia murtad dan kufur, kecuali jika didasari pengakuan atas trinitas dan atau agama mereka, namun kebiasaan ini baiknya ditinggalkan oleh muslimin dan bukan dilestarikan terkecuali bermaksud mengambil simpatinya kepada Islam.

SYAIKH WAHBAH AL ZUHAILI

Syaikh Wahbah Al Zuhaili mengatakan seputar Natal sebagai berikut:

Tidak ada halangan dalam bersopan santun (mujamalah) dengan orang Nasrani menurut pendapat sebagian ahli fiqh berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas (kebenaran) ideologi mereka.

Prof. DR. HM Din Syamsuddin MA (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. DR. HM Dien Syamsuddin MA seperti yang tertulis dari website Hidayatullah tertanggal 11 Oktober 2005 menyatakan bahwa “MUI Tidak Larang Ucapan Selamat Natal”. Pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini disampaikan dalam “Seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim” yang digelar di Surabaya pada 10 Oktober 2005. Dien Syamsuddin yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum MUI Pusat waktu itu menyatakan MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen/ritual Natal.

“Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam,” kata Dien Syamsuddin.

Pada tanggal 24 Desember 2007, Dien Syamsuddin justru  mempersilahkan ucapan selamat Natal dan bahkan hadir dalam perayaan Natal yang sifatnya seremoni. Hal ini diungkapkan Dien Syamsuddin dalam jumpa pers bersama Ketua Panitia Peringatan Natal Nasional 2007 Mari Elka Pangestu, di Gedung PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta, juga.

 ”Yang sifatnya seremoni, tidak seharusnya dihindari. Apalagi Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin. Jadi saya secara pribadi tidak melarang umat Islam untuk mengucapkan selamat Natal dan menghadiri perayaan Natal,” kata Dien Syamsudin.

Dien Syamsuddin  menambahkan, fatwa yang dikeluarkan seniornya (Buya Hamka) ketika menjabat Ketua MUI pada saat itu hanyalah fatwa yang berdimensi pada pelarangan untuk menghadiri kebaktian atau sakramen. Menurut dia, ucapan selamat Natal adalah bagian dari upaya menghargai, bersimpati, dan berempati pada umat Kristiani. Tapi bukan berarti kita setuju dengan keyakinan mereka.

Jadi MUI tidak pernah mengeluarkan larangan untuk mengucapkan selamat Natal. Bahkan, dalam buku “Himpunan Fatwa MUI Sejak Tahun 1975″  setebal 962 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Erlangga tahun 2011 sama sekali tidak ditemukan fatwa resmi tentang ucapan selamat Natal. Yang ada adalah fatwa tentang perayaan Natal bersama (ritual keagamaan) yang diharamkan dan bukan ucapan selamat Natal.

KESIMPULAN: Tidak ada fatwa resmi MUI tentang larangan ucapan selamat Natal, tetapi yang ada adalah larangan untuk mengikuti perayaan ritual Natal bersama.

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj (Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama)

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan ucapan Natal boleh saja disampaikan kepada umat Kristiani demi kerukunan umat beragama. Said Aqil Siradj juga me­ngatakan dirinya selalu me­ngucapkan Natal kepada tetang­ga­nya yang umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Kalau yang dilarang itu adalah ikuti ritualnya seperti yang dilakukan umat Kristiani. Nah itu yang tidak boleh. Kalau ucapkan selamat saja, menurutnya tidak salah.

Kang Said juga melanjutkan bahwa ucapan itu sebagai upaya men­jaga dan memperkuat tali persau­daraan antar umat beragama. Kita tidak bisa membangun Ukhuwah Islamiah tanpa menghargai keberadaan agama lainnya. Kalau dibiarkan dan berhenti pada Ukuwah Islamiah saja, kita akan menjadi ekstrim, tertutup, eksklusif. Malah bisa jadi radikal. Dia berharap Ukhuwah Islamiah dibangun dengan ukhuwah watoniah.

Sumber: http://www.elhooda.net

Khitan Wanita

In Fiqh, Tsaqafah on 13 Desember 2013 at 20:06

PERTANYAAN

Bagaimana hukum Islam mengenai khitan bagi anak-anak perempuan?

JAWABAN

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama bahkan oleh para dokter sendiri, dan terjadi perdebatan panjang mengenai hal ini di Mesir selama beberapa tahun.

Sebagian dokter ada yang menguatkan dan sebagian lagi menentangnya, demikian pula dengan ulama, ada yang menguatkan dan ada yang menentangnya. Barangkali pendapat yang paling moderat, paling adil, paling rajih, dan paling dekat kepada kenyataan dalam masalah ini ialah khitan ringan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits – meskipun tidak sampai ke derajat sahih – bahwa Nabi saw. pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan wanita ini, sabdanya: “Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, kerana hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.”

Yang dimaksud dengan isymam ialah taqlil (menyedikitkan), dan yang dimaksud dengan laa tantahiki ialah laa tasta’shili (jangan kau potong sampai pangkalnya). Cara pemotongan seperti yang dianjurkan itu akan menyenangkan suaminya dan mencerahkan (menceriakan) wajahnya, maka inilah barangkali yang lebih cocok.

Mengenai masalah ini, keadaan di masing-masing negara Islam tidak sama. Artinya, ada yang melaksanakan khitan wanita dan ada pula yang tidak. Namun bagaimanapun, bagi orang yang memandang bahwa mengkhitan wanita itu lebih baik bagi anak-anaknya, maka hendaklah ia melakukannya, dan saya menyepakati pandangan ini, khususnya pada zaman kita sekarang ini. Akan hal orang yang tidak melakukannya, maka tidaklah ia berdosa, kerana khitan itu tidak lebih dari sekadar memuliakan wanita, sebagaimana kata para ulama dan seperti yang disebutkan dalam beberapa atsar.

Adapun khitan bagi laki-laki, maka itu termasuk syi’ar Islam, sehingga para ulama menetapkan bahwa apabila Imam (kepala negara Islam) mengetahui warga negaranya tidak berkhitan, maka wajiblah ia memeranginya sehingga mereka kembali kepada aturan yang istimewa yang membedakan umat Islam dari lainnya ini.

Syaikh Yusuf Qardhawi

Sumber: Islam2u.net

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.